Kenapa Hiro Sekolah Bola? Bekal Memasuki Dunia Digital

Sep 24, 2026

Oleh: Adhie M Massardi

Sejak usia enam tahun, Hiro masuk sekolah bola. Bukan karena saya berambisi menjadikannya pemain profesional. Saya percaya sepakbola merupakan salah satu kegiatan yang dapat membantu seorang anak mengembangkan kemampuan dasar yang telah dibawanya sebagai manusia.

Ada beberapa sekolah bola yang pernah diikuti Hiro. Tetapi kurikulumnya terasa terlalu biasa, tidak seperti sekolah bola yang saya bayangkan. Akhirnya didirikanlah OneDream Football Academy dengan spirit One Dream, One Goal, One Victory (@onedreamft). Di SSB yang dikelola ibunya inilah Hiro memperoleh ruang lebih luas untuk mengembangkan kemampuan dirinya.

Saya semula melihat sepakbola sebagai miniatur kehidupan. Setelah memperhatikannya lebih jauh, tampaknya ia lebih tepat disebut ekstrak kehidupan. Di lapangan kecil itu terdapat tujuan, batas, aturan, kawan, lawan, kompetisi, kolaborasi, kemenangan, kekalahan, kepastian, dan kemungkinan.
Bola yang ditendang-tendang Hiro ternyata seperti bola dunia yang diekstrak menjadi sebuah permainan. Anak-anak mengejar sebuah bola, tetapi tanpa mereka sadari sedang belajar menghadapi berbagai keadaan yang kelak akan mereka jumpai dalam kehidupan.

Naluri Purba di Lapangan Modern

Sepakbola adalah salah satu arena modern tempat naluri purba manusia masih memperoleh ruang untuk bekerja secara organik. Manusia telah mampu berlari, mengejar, menghindar, mempertahankan sesuatu, membaca gerakan manusia lain, mencari ruang, dan bekerja bersama jauh sebelum sepakbola diciptakan.

Seorang anak bahkan tidak harus memahami teori sepakbola untuk mulai bermain. Letakkan sebuah bola di depannya. Ia akan menendangnya. Ketika bola bergerak menjauh, ia mengejarnya. Ketika anak lain mengambilnya, muncul keinginan untuk merebutnya kembali. Ketika tersedia sebuah sasaran, ia mencoba mengarahkan bola ke sana.
Belum ada formation. Belum ada zonal marking. Belum ada sports science. Bahkan anak itu mungkin belum memahami offside. Tetapi permainan sudah dapat berlangsung karena bahan dasarnya telah tersedia dalam perangkat organik manusia.

Akademi sepakbola kemudian mengasahnya. Teknik dapat diperbaiki. Fisik dapat diperkuat. Taktik dapat dipelajari. Tetapi semua itu bekerja di atas perangkat manusia yang sudah tersedia sebelumnya.

Itu sebabnya pemain besar tidak dapat diproduksi seperti barang fabrikan. Akademi dapat mengasah Messi, Ronaldo, atau Yamal. Tetapi tidak ada mesin cetak yang dapat memproduksi seribu Messi dengan spesifikasi yang sama. Mereka lahir dari rahim alam.

Seperti Belajar Naik Sepeda

Sepakbola juga mengingatkan kita pada kemampuan naik sepeda. Orang tidak menjadi mahir bersepeda karena terlebih dahulu menguasai teori gravitasi, momentum, atau pusat keseimbangan. Tubuh menemukannya melalui pengalaman.

Anak jatuh ke kiri, kemudian mengoreksi tubuhnya. Koreksinya berlebihan, ia jatuh ke kanan. Ia mencoba lagi. Setelah berkali-kali jatuh dan mengoreksi diri, pada suatu ketika tubuhnya menemukan keseimbangan. Ia bisa mengendarai sepeda meskipun belum tentu mampu menjelaskan bagaimana keseimbangan itu bekerja.

Banyak kemampuan dalam sepakbola tumbuh dengan cara serupa. Tubuh belajar melalui pengalaman, pengulangan, kegagalan, dan koreksi. Seorang pemain tidak menghitung sudut kaki, kecepatan bola, dan posisi pusat gravitasi setiap kali melakukan tendangan. Tubuhnya telah menyimpan pengalaman itu menjadi kemampuan.
Ada pengetahuan yang diperoleh dengan membaca dan mendengar. Tetapi ada pula pengetahuan yang hanya benar-benar menjadi milik manusia setelah dijalani. Sepakbola menyediakan ruang yang sangat luas bagi jenis pengetahuan kedua.

Naluri yang Dibudayakan

Tetapi sepakbola bukan sekadar tempat manusia melepaskan naluri purbanya. Jika hanya itu, perkelahian di jalanan juga dapat menjadi tempat manusia melepaskan agresivitas.
Di lapangan bola, naluri justru diberi batas. Hiro boleh mengejar dan merebut bola, tetapi ada aturan. Ia boleh mengalahkan lawan, tetapi tidak boleh mencederainya. Ia boleh agresif, tetapi agresivitasnya harus berhenti ketika wasit meniup peluit.

Ia ingin mencetak gol, tetapi tidak dapat memainkan pertandingan seorang diri. Ada saat ketika kemampuan individual harus digunakan, ada saat ketika bola harus diberikan kepada teman yang berada dalam posisi lebih baik.

Dalam pengertian inilah sepakbola ikut membudayakan naluri purba manusia. Survival instinct tidak dimatikan, melainkan diberi tujuan, aturan, etika, dan hubungan dengan manusia lain.

Belajar Menjadi Seimbang

Kemampuan teknis individual seperti dribbling, passing, dan shooting tetap penting. Tetapi Hiro belajar bahwa kemampuan itu tidak berarti banyak tanpa kerja kolektif. Individualitas diperlukan, tetapi ia harus menemukan tempatnya di dalam kepentingan bersama. Demikian pula dengan kemenangan. Setiap pertandingan dimainkan untuk dimenangkan. Tetapi kekalahan selalu mungkin terjadi. Anak belajar mengejar kemenangan dengan seluruh kemampuannya sekaligus menerima kenyataan ketika hasil pertandingan tidak sesuai dengan keinginannya.

Hiro juga harus percaya kepada dirinya sendiri sekaligus percaya kepada orang lain. Ia harus yakin mampu memainkan bola, tetapi pada saat tertentu harus percaya bahwa temannya akan melakukan sesuatu yang lebih baik setelah menerima operannya.

Sepakbola juga mempertemukannya dengan kepastian dan kemungkinan. Sebuah tim dapat lebih kuat, mempunyai strategi lebih baik, dan menciptakan lebih banyak peluang. Tetapi bola bisa membentur tiang. Penalti bisa gagal. Gol dapat terjadi beberapa detik sebelum pertandingan berakhir.
Keseimbangan dalam sepakbola bukan keadaan ketika semua daya dibuat sama besar. Keseimbangan adalah kemampuan mengelola tegangan antara berbagai daya yang sama-sama diperlukan: individualitas dan kolektivitas, keberanian dan perhitungan, ambisi dan penerimaan, percaya diri dan kepercayaan kepada orang lain.

Laboratorium Kehidupan

Di sinilah lapangan sepakbola menjadi menarik sebagai laboratorium pendidikan. Tubuh, naluri, kognisi, emosi, dan relasi sosial bekerja hampir bersamaan dalam ruang dan waktu yang sama.

Hiro berlari sambil membaca ruang. Ia mengejar bola sambil memperhatikan lawan. Ia mempertahankan kepentingannya sambil bergantung kepada teman. Ia mengambil keputusan dalam waktu singkat, kemudian harus menerima konsekuensi dari keputusan itu.

Semua berlangsung secara nyata. Ketika jatuh, tubuhnya benar-benar menyentuh tanah. Ketika kalah, pertandingan tidak dapat di-delete. Ketika salah mengoper, ia tidak dapat menekan tombol undo. Ketika temannya tidak memberikan bola, ia harus menghadapi manusia itu kembali dalam permainan berikutnya.

Pengalaman seperti inilah yang membuat sepakbola menjadi dunia analog yang sangat kaya justru ketika kehidupan bergerak semakin jauh memasuki dunia digital.

Sebelum Memegang Teknologi

Kita sering mempersiapkan anak menghadapi masa depan dengan pertanyaan: teknologi apa yang harus dikuasainya? Haruskah ia belajar coding, robotika, kecerdasan buatan, atau berbagai perangkat digital sejak dini?

Semua itu dapat berguna. Tetapi mungkin pertanyaan pertama seharusnya bukan tentang teknologinya.

Adhie M Massardi dan Purtrayq “Hiro”

Untuk menyiapkan anak memasuki dunia yang semakin digital, kita tidak harus memulainya dengan pertanyaan “teknologi apa yang harus dikuasainya?”, melainkan “manusia seperti apa yang harus kita siapkan agar kelak ia berdaulat atas teknologi?”

Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena teknologi pada dasarnya memperbesar kemampuan manusia. Mesin dapat membuat manusia bekerja lebih cepat, menjangkau lebih jauh, menghitung lebih banyak, dan mengolah informasi dalam jumlah yang sebelumnya tidak terbayangkan. Tetapi teknologi tidak dengan sendirinya memperbaiki orientasi manusia yang menggunakannya.

Sebelum Diperbesar oleh Mesin

Di tangan manusia yang memiliki orientasi, algoritma dapat membantu menemukan pola dan pengetahuan. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia menjelajahi horizon pengetahuan, mengolah gagasan, dan membuatnya semakin berkilau serta melesat lebih jauh.

Tetapi daya yang sama dapat bergerak ke arah sebaliknya. Ketika manusia kehilangan keseimbangan dan orientasi, algoritma dapat digunakan untuk memanipulasi. Kecerdasan buatan yang mampu membantu manusia menghasilkan gagasan dapat pula digunakan untuk menghasilkan segenggam hoax. Teknologi adalah penguat daya. Ia dapat memperbesar kreativitas sekaligus memperbesar penyimpangan. Karena itu sebelum kemampuan manusia diperbesar oleh mesin, manusianya sendiri perlu memperoleh kesempatan untuk tumbuh secara utuh dan seimbang.

Dalam pengertian itulah sekolah bola dapat dilihat sebagai salah satu laboratorium pra-amplifikasi. Bukan tempat untuk menjauhkan anak dari teknologi, tetapi tempat mengembangkan perangkat manusianya sebelum suatu hari teknologi yang sangat kuat berada di tangannya.

Dari Lapangan Hijau ke Dunia Digital

Hiro tentu tidak akan selamanya berada di lapangan bola. Ia akan tumbuh dalam dunia ketika batas antara kehidupan analog dan digital semakin tipis. Mesin akan semakin cerdas. Algoritma akan semakin mengenal kebiasaan manusia. Kecerdasan buatan akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu pendidikan tidak cukup hanya membuat seorang anak mampu menggunakan teknologi. Ia juga perlu tumbuh menjadi manusia yang mengetahui kapan teknologi harus digunakan, untuk tujuan apa ia digunakan, dan kapan ia harus mengatakan tidak kepada kemungkinan yang ditawarkan mesin.

Di situlah pengalaman analog memperoleh arti baru. Bukan sebagai romantisme terhadap masa lalu, melainkan sebagai salah satu fondasi untuk memasuki masa depan.
Sepakbola tidak memberikan semua jawaban. Tetapi di lapangan itu seorang anak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan organiknya, mengalami hubungan nyata dengan manusia lain, menghadapi ketidakpastian, mengenali batas, mengelola ambisi, dan belajar bahwa mencapai tujuan selalu mempunyai aturan.

Bola Kecil, Dunia Besar

Pada akhirnya Hiro memang hanya sedang bermain sepakbola. Ia berlari mengejar bola, mengoper kepada teman, mencoba melewati lawan, menendang ke arah gawang, sesekali menang dan pada kesempatan lain pulang membawa kekalahan.
Tetapi bola yang ditendang-tendangnya adalah ekstrak kehidupan. Di dalam permainan sederhana itu terdapat sebagian persoalan yang akan terus ditemuinya ketika kelak memasuki dunia yang jauh lebih besar.

Saya tidak sedang menyiapkan Hiro menjadi bintang lapangan. Saya ingin ia tumbuh menjadi manusia yang mampu menggunakan seluruh perangkat yang diberikan alam kepadanya, mengembangkannya secara seimbang, kemudian membawa keseimbangan itu ketika memasuki dunia digital.

Messi, Ronaldo, Yamal, dan para pemain besar lainnya tidak muncul dari mesin cetak. Mereka lahir dari rahim alam. Teknologi kemudian dapat membantu mengembangkan kemampuan mereka, tetapi sumber daya dasarnya tetap manusia.

Maka biarlah Hiro berlari mengejar bolanya. Biarlah tubuh, naluri, pikiran, emosi, dan solidaritasnya tumbuh bersama di lapangan hijau.

Suatu hari teknologi akan datang ke tangannya.

Ketika saat itu tiba, saya berharap Hiro memasuki masa depan bukan sebagai korban teknologi, melainkan sebagai subjek yang berdaulat dalam peradaban digital.