Prof. Eggi Sudjana: Soroti Sunnatullah, Ketika Kebenaran Didustakan, Sejarah Akan Berulang

Okt 19, 2026

Pikiranmerdeka.com – Jakarta, 19 Oktober 2026 | Prof. Eggi Sudjana atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES) mengajak masyarakat menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman untuk memahami perjalanan sejarah, khususnya ketika kebenaran didustakan, diperolok-olokkan, hingga akhirnya muncul pergantian generasi.

Pesan tersebut disampaikan BES dalam refleksi Mutiara Hikmah, Senin (19/10/2026) dengan mengangkat kandungan QS. Al-An’am ayat 5–6.

Dalam QS. Al-An’am ayat 5, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«فَقَدْ كَذَّبُوْا بِالْحَـقِّ لَـمَّا جَآءَهُمْ ۗ فَسَوْفَ يَأْتِيْهِمْ اَنْۢبٰۤـؤُا مَا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ»

“Sungguh, mereka telah mendustakan kebenaran ketika sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka kenyataan dari berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.”

Menurut BES, ayat tersebut menggambarkan adanya tahapan ketika manusia menghadapi kebenaran, yakni kadzabu bil-haqq, yaitu mendustakan kebenaran; kemudian yastahzi’un, yakni memperolok-olokkan kebenaran; hingga akhirnya datang kenyataan dari apa yang sebelumnya mereka remehkan.

Ia menjelaskan, kebenaran yang datang melalui wahyu dan ajaran Islam tidak selalu langsung diterima manusia. Dari generasi ke generasi, selalu ada pihak yang mengabaikan, menolak atau bahkan memperolok-olok kebenaran.

BES kemudian mengaitkan hal tersebut dengan QS. Al-An’am ayat 6 yang mengingatkan manusia untuk memperhatikan generasi-generasi terdahulu yang telah diberikan kekuatan dan kemakmuran, tetapi kemudian mengalami kehancuran karena dosa-dosa mereka.

Ayat tersebut menyebutkan:

«وَاَنْشَأْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ قَرْنًا اٰخَرِيْنَ»

“Dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka.”

Bagi BES, ayat tersebut menunjukkan adanya sunnatullah, yaitu ketetapan atau pola hukum Allah dalam perjalanan kehidupan dan sejarah manusia.

Ia menguraikan pola tersebut melalui beberapa tahapan.

Pertama, tamkin, ketika suatu generasi memperoleh kekuatan, kedudukan, kekuasaan dan berbagai kemudahan. Menurutnya, kekuatan dan kemajuan tidak dapat dipandang sebagai jaminan bahwa suatu generasi akan bertahan selamanya.

Kedua, datang berbagai nikmat dan kelapangan. Al-Qur’an menggambarkannya melalui hujan yang lebat dan sungai-sungai yang mengalir. BES mengingatkan bahwa nikmat tersebut dapat menjadi rahmat apabila disyukuri, tetapi juga dapat menjadi ujian apabila manusia semakin jauh dari Allah.

Ketiga, ihlak, yaitu kebinasaan akibat perbuatan manusia sendiri. Hal ini ditegaskan dalam frasa “fa ahlaknahum bi dzunubihim”, yang berarti Allah membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka.

Keempat, insya’ qarnan akharin, yakni lahirnya generasi lain setelah generasi sebelumnya berakhir.

Menurut BES, pesan tersebut penting untuk direnungkan dalam melihat kondisi kehidupan saat ini. Kekuasaan, harta, jabatan dan berbagai bentuk kemajuan tidak bersifat abadi. Setiap generasi akan menghadapi ujian dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh kemewahan dan kekuasaan. Sebaliknya, masyarakat perlu mempersiapkan generasi yang memiliki iman, ilmu, amanah, kesabaran, kepedulian sosial dan komitmen terhadap kebajikan.

BES menekankan bahwa sejarah tidak berhenti pada berakhirnya sebuah generasi. Setelah suatu generasi berlalu, selalu terdapat peluang lahirnya generasi baru yang lebih baik.

Karena itu, menurutnya, menghadapi masa depan tidak cukup hanya dengan mengeluhkan keadaan. Yang lebih penting adalah mempersiapkan qarnan akharin, generasi baru yang bertakwa dan mampu membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

“Generasi yang menjadikan iman sebagai landasan, ilmu sebagai penerang, kebajikan sebagai perjuangan, kesabaran sebagai kekuatan, dan keadilan sebagai pedoman,” demikian pesan BES.

Ia menutup refleksinya dengan ajakan untuk tetap yakin dalam berusaha dan bersabar dalam menjalankan kebaikan.

“Yakin Usaha Sampai,” ujarnya.

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

(Agt/PM)