JAKARTA, 20 Oktober 2026 — Prof. Eggi Sudjana atau Brother Eggi Sudjana (BES) mengajak masyarakat mencermati pesan QS. Ar-Rum ayat 2–7 tentang kekalahan dan kemenangan bangsa Rum (Romawi), serta relevansinya dengan pembangunan generasi Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan BES dalam Mutiara Hikmah, Selasa (20/10/2026), bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut BES, rangkaian ayat tersebut menunjukkan bahwa ketetapan dan janji Allah tidak pernah meleset. QS. Ar-Rum menggambarkan bangsa Rum yang mengalami kekalahan besar dari Persia, tetapi kemudian dijanjikan akan memperoleh kemenangan dalam beberapa tahun.
“Bangsa Romawi telah dikalahkan. Di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang,” demikian terjemahan QS. Ar-Rum ayat 2–3 yang dikutip BES.
Janji Kemenangan Setelah Kekalahan
BES menjelaskan, Rum yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Romawi Timur atau Byzantium yang pada masa itu merupakan kekuatan Nasrani dan termasuk Ahli Kitab. Sekitar abad ke-7 Masehi, Rum mengalami kekalahan besar dalam peperangan melawan Persia.
Kekalahan tersebut, menurut BES, kemudian menjadi bahan ejekan kaum musyrik Quraisy terhadap kaum Muslimin. Namun Al-Qur’an justru menyampaikan kabar bahwa Rum akan kembali menang dalam beberapa tahun.
Hal tersebut terdapat dalam QS. Ar-Rum ayat 4:
“Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.”
Bagi BES, bagian penting dari ayat tersebut adalah “Lillahil Amru min Qablu wa min Ba’du”, yang berarti segala urusan berada dalam ketetapan Allah, baik sebelum maupun setelah kemenangan.
Ia menilai kisah tersebut menunjukkan bahwa keadaan yang tampak secara lahiriah tidak selalu menjadi ukuran akhir dari sebuah perjalanan sejarah.
Mengapa Orang Beriman Bergembira?
BES juga menyoroti pertanyaan mengapa kaum beriman ikut bergembira ketika Rum memperoleh kemenangan, meskipun Rum bukan kaum Muslimin.
Menurut dia, salah satu penjelasannya adalah posisi Rum sebagai Ahli Kitab yang berhadapan dengan Persia yang menganut kepercayaan Majusi.
Namun, kata BES, QS. Ar-Rum ayat 5 memberikan makna yang lebih luas melalui frasa “Bi Nasrillah”, yakni kegembiraan tersebut berkaitan dengan pertolongan Allah.
“Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.”
BES juga mengaitkan momentum kemenangan Rum dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar. Menurutnya, kedua peristiwa tersebut memberikan pelajaran tentang bagaimana pertolongan Allah dapat hadir ketika keadaan secara lahiriah tampak sulit.
Dari Pergantian Generasi ke Generasi Taqwa
BES kemudian menghubungkan kisah Rum dengan pembahasan sebelumnya mengenai pergantian generasi dan sunnatullah.
Ia menyebut bahwa suatu kekuatan yang pernah berada pada posisi dominan dapat mengalami kehancuran, sementara kekuatan yang sebelumnya mengalami kekalahan dapat bangkit kembali.
Dari perspektif tersebut, BES memperkenalkan gagasan Generasi Taqwa (GT) sebagai generasi yang tidak hanya mengandalkan perhitungan lahiriah, tetapi memiliki keyakinan kepada janji Allah.
Menurutnya, Generasi Taqwa adalah generasi yang tetap memiliki keyakinan meskipun keadaan belum menunjukkan hasil yang diharapkan, sekaligus tetap bekerja, berusaha dan menjalankan kewajiban dengan penuh tanggung jawab.
Kritik terhadap Ukuran Generasi Emas
Dalam konteks Indonesia, BES kemudian mempertanyakan bagaimana konsep Generasi Emas seharusnya dibangun.
Ia mengingatkan QS. Ar-Rum ayat 7:
“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.”
Menurut BES, kemajuan pendidikan, teknologi, ekonomi, politik, hukum, hilirisasi industri, kecerdasan buatan, serta pembangunan ekonomi merupakan bagian penting dalam kemajuan bangsa.
Namun, menurutnya, ukuran keberhasilan generasi tidak semestinya berhenti pada aspek material.
Ia mempertanyakan apakah generasi masa depan juga telah dibekali dengan ketakwaan, shalat, amanah, kesabaran, kepedulian sosial, kemampuan menjaga kehormatan diri, memenuhi janji serta kesadaran terhadap pertanggungjawaban di akhirat.
BES menilai persoalannya bukan mempertentangkan Generasi Emas dengan Generasi Taqwa, melainkan memastikan bahwa keunggulan duniawi memiliki fondasi iman dan moral.
Indonesia Diharapkan Membangun Generasi Unggul dan Bertakwa
BES menegaskan bahwa ilmu, teknologi, kekayaan dan kekuasaan merupakan instrumen yang dapat membawa kemajuan apabila digunakan dengan amanah. Sebaliknya, seluruhnya dapat menjadi sumber persoalan apabila kehilangan landasan moral dan ketakwaan.
Karena itu, ia berharap pembangunan Indonesia tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul secara akademik, ekonomi dan teknologi, tetapi juga memiliki iman, ketakwaan, integritas dan kesadaran terhadap kehidupan akhirat.
“Generasi Emas yang bertakwa,” menjadi gagasan utama BES dalam refleksinya.
Menurutnya, generasi Indonesia ideal adalah generasi yang mampu membangun kemajuan dunia tanpa kehilangan orientasi kepada akhirat.
BES berharap momentum dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat pembangunan manusia Indonesia secara menyeluruh, sehingga agenda Indonesia Emas tidak hanya menghasilkan kemajuan material, tetapi juga melahirkan generasi yang berkarakter, amanah dan bertakwa.
Wallahu A’lam.
BES – Brother Eggi Sudjana