Ketetapan Allah Pasti Datang, Mengapa Manusia Selalu Ingin Tergesa-gesa?

Okt 20, 2026

Pikiranmerdeka.com – JAKARTA, 21 Oktober 2026 — Mengapa manusia sering menginginkan sesuatu terjadi secepat mungkin, sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan agar manusia tidak tergesa-gesa meminta ketetapan-Nya dipercepat?

Pertanyaan itu menjadi pokok refleksi Mutiara Hikmah yang disampaikan Prof. Eggi Sudjana atau Brother Eggi Sudjana (BES), Rabu, 21 Oktober 2026. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 1:

اَتٰۤى اَمْرُ اللّٰهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْهُ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Menurut BES, ayat tersebut menjadi kunci untuk memahami rangkaian Mutiara Hikmah selama tiga hari. Pesan Senin menekankan bahwa perubahan membutuhkan proses. Pesan Selasa mengingatkan tentang “fi bid’i sinin”, yakni rentang beberapa tahun sebagaimana digambarkan dalam kemenangan bangsa Rum. Sementara pesan Rabu menegaskan “Ata Amrullah Fala Tasta’jiluh” — ketetapan Allah pasti datang, sehingga manusia tidak sepatutnya tergesa-gesa.

BES menjelaskan, penggunaan kata “Ata”, yang secara harfiah berarti “telah datang”, meskipun peristiwa tersebut belum terlihat secara lahiriah, menunjukkan kepastian ketetapan Allah. Dalam pemahaman keagamaan, janji Allah tidak perlu diragukan, tetapi waktunya bukan berada dalam kendali manusia.

Pada saat yang sama, Allah memberikan larangan “Fala Tasta’jiluh”, jangan meminta agar ketetapan itu dipercepat.

Pesan tersebut, menurut BES, relevan dengan sifat manusia yang cenderung tergesa-gesa. Al-Qur’an dalam QS. Al-Anbiya ayat 37 menyebut manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa.

Persoalannya, kata BES, manusia sering hanya melihat keadaan yang tampak hari ini. Ketika perubahan belum terlihat, muncul keinginan agar keadaan segera berubah. Padahal perjalanan sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu membutuhkan proses, perjuangan, kesabaran, dan waktu.

Hal tersebut dapat dilihat dalam kisah bangsa Rum sebagaimana disebut dalam QS. Ar-Rum ayat 2–7. Setelah mengalami kekalahan, Rum kemudian dijanjikan kemenangan dalam “bid’i sinin”, yaitu suatu rentang beberapa tahun. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa kekalahan tidak selalu menjadi akhir dan kemenangan tidak selalu hadir secara instan.

Dalam konteks Indonesia, BES mengaitkan prinsip tersebut dengan munculnya berbagai harapan politik di tengah masyarakat, termasuk keinginan sebagian orang agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dimakzulkan ataupun agar Joko Widodo diproses secara hukum.

Namun, menurutnya, persoalan politik dan hukum harus tetap ditempatkan dalam koridor konstitusi, hukum, bukti, dan mekanisme yang berlaku. Keinginan terhadap perubahan tidak semestinya membuat masyarakat mengabaikan proses yang harus dilalui.

“Yakin Usaha Sampai,” menurut BES, tidak berarti “Yakin Instan Sampai.”

Pandangan serupa disampaikan dalam melihat konflik Palestina dan dinamika Iran, Israel, serta Amerika Serikat. Harapan terhadap kemenangan Palestina dan perubahan keadaan di kawasan tersebut merupakan aspirasi yang dapat dipahami, tetapi waktu terjadinya perubahan tidak dapat dipaksakan oleh manusia.

BES mengingatkan agar harapan tidak berubah menjadi ketergesaan. Jika perubahan belum terjadi sesuai waktu yang diinginkan, manusia tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa janji Allah tidak benar.

Menurutnya, pelajaran dari sejarah perjuangan Islam juga menunjukkan pentingnya proses. Peristiwa Badar, misalnya, didahului perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ selama bertahun-tahun. Demikian pula kisah Bani Israil menunjukkan bahwa perubahan keadaan dapat membutuhkan perjalanan panjang.

Karena itu, menghadapi berbagai persoalan bangsa maupun dunia, menurut BES, yang dibutuhkan bukan hanya harapan terhadap pergantian keadaan, tetapi juga kesiapan menghadirkan generasi yang mampu mengisi perubahan tersebut.

“Jangan hanya menunggu siapa yang jatuh atau siapa yang berganti. Yang lebih penting adalah menyiapkan generasi pengganti yang lebih baik,” demikian pesan yang ditekankan dalam refleksi tersebut.

BES juga mengingatkan bahwa perubahan yang berlangsung tanpa kesiapan dapat menimbulkan kekosongan. Kekosongan tersebut berpotensi diisi oleh kekuatan baru yang belum tentu lebih baik daripada keadaan sebelumnya.

Karena itu, perjuangan perubahan harus disertai pembentukan Generasi Taqwa yang memiliki ilmu, akhlak, keberanian, kesabaran, dan kemampuan menjalankan amanah.

Bagi BES, inti pesan QS. An-Nahl ayat 1 adalah keseimbangan antara keyakinan dan kesabaran. “Ata Amrullah” mengajarkan bahwa ketetapan Allah pasti datang sehingga manusia harus yakin. Sementara “Fala Tasta’jiluh” mengajarkan agar manusia tidak tergesa-gesa sehingga harus bersabar.

Prinsip tersebut kemudian dirangkum dalam satu pegangan: Yakin, Usaha, dan Sabar.

BES mencontohkan perjalanan dirinya sejak memimpin PB HMI MPO periode 1986–1988 hingga 21 Oktober 2026. Pergantian kepemimpinan dan perubahan zaman, menurutnya, tidak seharusnya menghilangkan keyakinan terhadap perjuangan.

Pada akhirnya, pesan QS. An-Nahl ayat 1 bukan mengajarkan manusia untuk pasif menunggu. Sebaliknya, manusia tetap diperintahkan berdoa, berusaha, memperjuangkan kebenaran, dan mempersiapkan masa depan.

Yang harus dihindari adalah memaksakan waktu hasil sesuai keinginan manusia.

Ketetapan Allah pasti datang. Tugas manusia adalah tetap yakin, berusaha, bersabar, dan istiqamah.

Wallahu A’lam.

BES – Brother Eggi Sudjana