BES Ajak Introspeksi Diri: Tahu Diri, Tahu Batas, dan Ingat Semua Amal Akan Dicatat

Okt 22, 2026

Pikiranmerdeka.com – JAKARTA, 22 Oktober 2026 | Prof. Eggi Sudjana atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), melalui renungan Mutiara Hikmah Kamis, 22 Oktober 2026, mengajak umat Islam melakukan introspeksi diri dengan memahami dua hal mendasar, yakni tahu diri dan tahu batas.

Dalam renungan bertajuk “Cahaya Pagi”, BES mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-‘Alaq ayat 8:

“Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).”

Menurut BES, kesadaran tentang tempat kembali menjadi dasar agar manusia tidak merasa dirinya memiliki kekuasaan dan kehidupan tanpa batas. Kesadaran tersebut juga mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui sholat dan Zikrullah.

BES menyebut sholat lima waktu sebagai salah satu bentuk latihan untuk senantiasa mengingat dan kembali kepada Allah.

Semua Perbuatan Memiliki Catatan

Dalam renungan tersebut, BES juga mengutip QS. Al-Kahf ayat 49 yang menjelaskan tentang catatan amal manusia. Ia menekankan bahwa tidak ada perbuatan yang luput dari catatan Allah, baik yang kecil maupun yang besar.

Menurut dia, kesadaran tersebut penting dalam kehidupan sehari-hari karena setiap ucapan, tindakan, niat, maupun keputusan manusia pada akhirnya memiliki konsekuensi pertanggungjawaban.

BES mengaitkan pesan tersebut dengan sejumlah persoalan yang sebelumnya ia soroti, termasuk isu yang disebutnya sebagai “fitnah 100 M”. Ia mengajak setiap pihak untuk mengedepankan fakta, data, saksi, dan tabayyun atau klarifikasi sebelum menyampaikan suatu tuduhan.

“Lakukan apa yang kau mau karena di sana ada catatan,” menjadi salah satu pesan utama BES dalam renungan tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa QS. Al-Kahf ayat 49 menegaskan Allah tidak menzalimi seorang pun. Karena itu, manusia perlu berhati-hati dalam menggunakan ucapan dan tindakannya.

Kebaikan Sekecil Apa Pun Tidak Sia-sia

Selain mengingatkan tentang catatan amal, BES mengutip QS. Az-Zalzalah ayat 7:

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Menurut BES, ayat tersebut memberikan keseimbangan dalam melakukan introspeksi. Introspeksi bukan hanya tentang mengingat kesalahan dan dosa, tetapi juga membangun harapan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, tetap memiliki nilai di hadapan Allah.

Ia menekankan bahwa manusia tidak seharusnya meremehkan kebaikan kecil maupun usaha untuk memperbaiki diri.

BES juga mengaitkan pesan tersebut dengan perjalanan HMI MPO selama 38 tahun dengan semangat “Yakin Usaha Sampai”, yang menurutnya merupakan perjalanan panjang yang diharapkan menjadi bagian dari amal kebaikan.

Batas Pertanggungjawaban Tidak Dapat Ditebus dengan Harta

BES kemudian mengutip QS. Ali ‘Imran ayat 91 yang menjelaskan bahwa emas sepenuh bumi sekalipun tidak dapat menjadi tebusan bagi orang yang meninggal dalam kekafiran.

Ayat tersebut, menurut BES, mengajarkan pentingnya memahami batas kehidupan manusia. Harta, pembangunan, hilirisasi, pertumbuhan ekonomi, PDB yang tinggi, maupun cita-cita Generasi Emas tidak boleh membuat manusia melupakan pertanggungjawaban kepada Allah.

Karena itu, menurut dia, introspeksi sebaiknya dilakukan selama manusia masih hidup.

Dalam konteks persoalan yang disebut sebagai “fitnah 100 M”, BES juga mengingatkan pentingnya membuka ruang tabayyun dan permintaan maaf selama kesempatan masih ada.

“Pintu tobat masih terbuka selama manusia masih hidup,” demikian pesan yang ditekankan dalam renungan tersebut.

Allah Mengetahui di Mana Pun Manusia Berada

Renungan kemudian ditutup dengan QS. Al-Baqarah ayat 115:

“Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

BES menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan harapan bahwa manusia dapat melakukan introspeksi kapan dan di mana saja. Tidak hanya di masjid, tetapi juga di rumah, kantor, perjalanan, ruang pengadilan, maupun dalam berbagai keadaan kehidupan.

Dalam konteks sejumlah persoalan yang disinggungnya, BES menyebut nama Ahmad Khozinudin dan Roy Suryo serta proses yang menurutnya belum berlanjut selama beberapa waktu. Ia mengingatkan bahwa setiap pihak pada akhirnya memiliki tanggung jawab di hadapan Allah.

Hal serupa, menurut BES, berlaku terhadap berbagai persoalan dunia, termasuk Palestina, Iran, Israel, Amerika Serikat, hingga kehidupan di lingkungan kepresidenan.

Pesannya, manusia tidak dapat menghindar dari pengetahuan Allah.

Lima Syarat Introspeksi

Berdasarkan lima ayat yang dikutip, BES kemudian merumuskan lima pelajaran utama.

Pertama, introspeksi dimulai dengan kesadaran akan Ruj’a, yakni kesadaran bahwa manusia akan kembali kepada Allah.

Kedua, berani membuka catatan diri sendiri. Menurut BES, introspeksi seharusnya dimulai dari diri sendiri sebelum menilai kesalahan orang lain.

Ketiga, tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena Allah mengetahui dan menilai setiap amal.

Keempat, melakukan introspeksi sebelum kematian, karena kesempatan memperbaiki diri tidak boleh ditunda.

Kelima, melakukan introspeksi di mana pun berada, karena Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui.

BES juga mengingatkan agar manusia tidak hanya mencari pengakuan melalui manusia, popularitas, atau sesuatu yang sedang viral, tetapi kembali mendekatkan diri kepada Allah melalui sholat dan Zikrullah.

Puncak Rangkaian Mutiara Hikmah

BES menyebut renungan Kamis, 22 Oktober 2026, sebagai penutup rangkaian Mutiara Hikmah Senin hingga Kamis.

Rangkaian tersebut sebelumnya mengangkat tema Qarn Akharin, Ghulibatir Rum Sayaghlibun, dan Ata Amrullah Fala Tasta’jiluh. Pada Kamis, rangkaian tersebut ditutup dengan pesan Inna Ila Rabbikar Ruj’a—sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali.

Dalam bagian akhir renungannya, BES kembali menyinggung persoalan yang disebut sebagai fitnah terhadap dirinya, termasuk tuduhan sebagai “pengkhianat”, “pecundang”, “tuyul”, menerima uang Rp100 miliar, hingga memperoleh proyek Rp1 triliun.

BES menegaskan bahwa persoalan semacam itu seharusnya disikapi dengan mengedepankan fakta, data, saksi, tabayyun, dan pertanggungjawaban moral serta agama, bukan sekadar tuduhan.

Menurutnya, setiap manusia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan seluruh perkataan dan perbuatannya.

Pesan utama Cahaya Pagi tersebut kemudian kembali pada satu ayat:

“Inna Ila Rabbikar Ruj’a.”

“Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).”

BES menutup renungannya dengan pesan agar setiap orang senantiasa tahu diri, tahu batas, dan melakukan introspeksi sebelum kembali kepada Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar,
BES – Brother Eggi Sudjana