Anies, Ganjar, Parpol dalam lingkaran Pemodal

Nov 19, 2022 #Agusto Sulistio, #Pilpres

Oleh: Agusto Sulistio – Pendiri The Activist Cyber

Piplres 2024 masih panjang. Sekitar hampir 2 tahun. Itu pun jika jadi, kabarnya uang menjadi persoalannya disamping kepentingan politik.

Populeritas Anies dan Ganjar terus melesat. Sepertinya dia bisa meraih cita-citanya. Wabilkhusus Anies Baswedan, yang diyakini oleh mayoritas pendukungnya sebagai antithesa Jokowi.

Penulis soroti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, oleh karena keduanya merupakan Capres yang paling populer menurut survey yang belakangan rajin umumkan.

Namun apakah benar keduanya saat ini paling populer? Tentu perlu pembuktian dan fakta yang ada.

Kenyataan yang dapat kita lihat, adalah bahwa mereka ternyata nasib pencapresannya tergantung dari parpol. Apalagi aturan pilpres menggunakan ambang batas atau presidential threshold (PT) untuk dapat ajukan capres dan cawapres.

Anies, tergantung PKS dan Demokrat, sedangkan Ganjar tergantung PDIP.

Sementara, poros Parpol Golkar (KIB) masih solid, begitu juga dengan Gerindra dan PKB.

Hanya PDIP yang paling merdeka, ia memiliki tiket maju ke Pilpres 2024 tanpa koalisi. Namun dibalik kemulusannya ajukan Capres ia belum nyaman dengan munculnya Ganjar Pranowo. Walau demikian PDIP terkesan konsisten perjuangkan Puan Maharani sebagai capres.

Namun, kita tak boleh kesampingkan kekuasaan Jokowi dalam soal Pilpres 2024. Walau ada kesan pemodal tak lagi percaya dengan Jokowi. Bagaimanapun juga dia bersama para mantan Presiden dan wakil presiden bisa mainkan siatuasi yang tengah dihadapi parpol saat ini. Maka sangat wajar para parpol dan capres menjaga hubungan dengan Jokowi. Salah satu contoh bagaimana beberapa waktu lalu Anies bertemu dengan Gibran, putra mahkota Presiden Jokowi.

Melihat kenyataan itu, menjadi sangat penting berapa jumlah Capres yang akan maju di Pilpres 2024. Semakin banyak capres yang maju, maka peluang Anies dan Ganjar terpilih akan semakin besar. Namun untuk dapat wujudkan ini membutuhkan perjuangan rakyat secara maksimal, yakni mewujudkan President Threshold 0%.

Disisi lain, maraknya massa atau istilah mereka relawan, yang penuh membludag diberbagai acara kampanye Anies dan Ganjar, walau bagi keduanya belum ada dukungan parpol secara resmi, kecuali Nasdem kepada Anies, itu pun diduga masih setengah hati.

Penulis berpendapat bahwa maraknya relawan ditiap acara Anies dan Ganjar adalah fenomena positif. Hal itu terjadi mungkin akibat ketidak percayaan publik terhadap Jokowi, atau akibat keadaan ekonomi nasional yang kian memburuk, sehingga bertambah sulit hidup rakyat.

Disisi lain, terkait peta politik Parpol pendukung Anies, secara fakta terjadi persoalan yang diduga bisa bubar, akibat belum terjadi kesepakan cawapres dan biaya kampanye.

Memang ironis pilpres ini, kesepakatan pilpres seharusnya dilakukan bersama rakyat, namun kenyataanya ditentukan diawal oleh sebagian kelompok elit. Itulah realita parpol hari ini, bahwa ternyata eksistensi dan kuantitas kader dan pengurus parpol masih dipertanyakan. Apakah parpol memiliki pengurus sampai ketingkat RT diseluruh pelosok Indonesia?

Masing2 elit Parpol pendukung Anies (Nasdem, PKS dan Demokrat) rupanya ingin juga majukan kadernya, suatu hal yang seharusnya dikedepankan parpol disetiap Pemilu. Agak aneh, kader parpol kemudian rela hanya menjadi calon wakilnya capres Anies, yang bukan kader pengurus parpol. Begitu juga dengan Jokowi, dulu saat awal maju capres bukan sebagai kader pengurus parpol.

Beda Anies dengan Jokowi, beda pula dengan SBY. Anies bukan seperti saat awal SBY maju sebagai capres tahun 2004, yang diyakini banyak orang pasti menang, siapapun wakilnya. Anies dan Ganjar sedang direkayasa seperti SBY dulu, yang menjadi magnet, sehingga jika disandingkan dengan siapapun wakilnya tak akan masalah.

Persoalan yang dihadapi Anies dan Ganjar secara khusunya adalah soal dukungan parpol. Sebab sampai sekarang dukungan resmi parpol kepada Anies dan Ganjar belum memenuhi syarat PT 20%.

Selain itu munculnya perbedaan harapan. PKS, Demokrat, Nasdem, sama2 ajukan nama untuk dampingi Anies. PKS usulkan nama Aher, menyusul kemudian salah satu petinggi PKS, Salim Segaf juga berminat. Sedangkan Demokrat masih konsisten ajukan AHY. Sementara Nasdem sebagai parpol yang pertama meminang Anies, menyerahkan sepenuhnya soal cawapres kepada Anies. Statemen Nasdem terkesan netral dan bijak, tapi itulah politik strategi menarik perhatian pemodal.

Kesimpulannya, ternyata semua parpol yang sejak awal bicara lantang ingin dukung Anies, terungkap ternyata punya mau, tapi tak didukung kemampuan modal. Dari info yang berkembang, bahwa cawapres yang diajukan yakni Aher, angkat tangan untuk keluarkan dana kampanye 500 milyar, begitu juga yang lain tentunya. Bagi penulis ini suatu sikap yang wajar, ditengah keadaan sulit, harus keluarkan uang besar, dan jika diupayakan dananya, belum tentu akan menang di Pilpres 2024 nanti.

Melihat fenomena pilpres ini, tentu kita memiliki pandangan berbeda. Namun Dari situasi ini, bahwa pendekatan yang dapat dilogikan adalah pendapat pribahasa Jawa “Jer Basuki Mowo Beo” bahwa setiap tindakan membutuhkan biaya.

Istilah ungkapan umun masyarakat, “mau kuasa tak punya modal, tidur aja bro.” Kalimat ini belakangan marak, dan menjadi buah bibir masyarakat dan netizen.

Menjawab realita itu ternyata tak mudah, sebab uang yang menentukan. Sudah jadi rahasia umum bahwa pilpres butuh modal besar, kebutuhan kampanye pilpres kisaran puluhan trilyun bahkan lebih. Inilah akibat sistem pilpresnya PT 20%, yang sembuat segalanya harus kompromi, sehingga uamh yang jadi panglimanya.

Baik Ganjar, Anies, Aher, Salim, dan siapapun orangnya, tak akan mau keluarkan uang sebanyak itu, lagi pula apakah mereka punya dana sebanyak itu, dan belum tentu pula ia bisa terpilih. Disisi lain masyarakat sekarang sudah cerdas, uang menjadi harapan jelang pencoblosan, tak perduli siapa yang memberi.

Kembali ke soal bagaimana kekuatan parpol pendukung Anies dan Ganjar? Khususnya Anies.

Melihat realitas diatas, kemungkinan besar koalisi Nasdem, PKS dan Demokrat akan pecah, sebab belum ada kesepatan, khusunya siapa yang akan mau tanggung biayanya. Terkecuali ada pemodal besar datang. Itu sebabnya Surya Paloh dalam pernyataannya yang dipublish dibanyak media, berharap datangnya investor besar datang kepadanya.

Kenyataan itu tak dapat dipungkiri, suka tak suka kehadiran modal menjadi penting. Namun demikian hendaklah para capres dan parpol tetap kedepankan kepentingan bangsa. Jangan demi kekuasaan dan jabatan, lalu kesampimgkan rakyat.

Mengutip pernyataan Prof. Eggi Sudjana, dari Channel YouTube Eggi Sudjana dengan Judul “Geo Politik dan Pilpres 2024”. Eggi Sudjana, simpulkan, fenomena pilpres, sudah menjadi rahasia umum, yang mana pilpres butuh biaya sangat besar, sehingga para capres harus “melacur, menghamba, mengemis” kepada pemodal demi kekuasaan, oleh karena penerapan Presidential Threshold 20%.

Disisi lain menurut Bang Eggi, panggilan akrab Eggi Sudjana, bagi cukong oligarki, uang tak masalah, oligarki siap untuk gelontorkan berapapun jumlahnya untuk biayai para capres yang tak punya uang, alias butuh duit, asalkan ada kompromi politik.

Eggi Sudjana berpesan kepada kita semua, menghadapi pilpres, melihat Anies Baswedan, jangan sepwrti anak muda yang mudah kesem-sem tertarik, saat melihat cantiknya gadis desa, nggak taunya, dibelakang gadis itu ada Germo Politiknya.

Eggi tegaskan pentingnya kemerdekaan politik keberanian jiwa nasionalis capres. Anies harus berani buktikan dirinya tak tunduk pada siapapun, maka Anies dapat buktikan perjuangkan bersama pendukungnya untuk wujudkan PT 0%.

Jika Anies bertauhid, maka dalam dirinya hanya ada keyakinan “Laa iLLaha, I’ll Allah” hanya takut kepada Allah, bukan “Laailla Amerika, takut kepada Amerika atau Asing Aseng, ucap Eggi Sudjana.

Menurut Eggi, sejak dulu hingga sekarang Amerika selalu berkepentingan kepada politik Indonesia serta sumber alam kita. Tak ada satupun Presiden kita yang mampu hindari itu, contohnya soal pembagian hasil Freeport antara Indonesia, Amerika dll.

Lalu, siapa yang berani menjamin, dibelakang Anies tidak ada Amerika? Kita ketahui Anies pernah sekolah di Amerika, dan kemarin saya salud Anies dapat hadir dan bicara di G20. Padahal G20 kemarin terlihat Amerika begitu dominan, pungkas Prof. Eggi Sudjana.