Ket Gambar: Suasana Takziah Belasungkawa atas wafatnya Guruh Soekarno Putra: Presiden RI Prabowo, Presiden ke-5 Megawati, Ketua DPR RI Puan Maharani, Wk.Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Kediaman Megawati, Jakarta 28/9/2026 (Antara)
Oleh: Sulaiman Haikal – Ketua PIJAR 98.
Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di kediamannya, Jakarta, Senin malam, 28 September 2026, untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, adik Megawati sekaligus putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno.
Kunjungan tersebut merupakan bentuk duka cita dan penghormatan kepada keluarga yang sedang kehilangan saudara yang dicintainya. Namun, di balik suasana takziah itu terdapat pandangan yang memiliki makna lebih luas bagi kehidupan berbangsa, yakni hadirnya dua pimpinan lembaga perwakilan rakyat, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang mendampingi Presiden Prabowo dan Ketua DPR RI Puan Maharani yang mendampingi ibunya, Megawati.
Puan dan Dasco berasal dari kekuatan politik yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama berada di lembaga yang membawa mandat rakyat. Kehadiran mereka dalam satu suasana duka menunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak menghilangkan ruang persaudaraan, penghormatan dan kemanusiaan.
Dalam budaya Indonesia, hadir ketika seseorang sedang berduka merupakan bagian dari etika sosial. Takziah bukan soal ritual keagamaan, tetapi juga wujud empati dan penghormatan kepada sesama. Nilai tersebut telah lama hidup dalam berbagai tradisi masyarakat Indonesia, datang ketika ada yang kehilangan, menguatkan keluarga yang sedang berduka, serta menjaga hubungan baik tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Karena itu, pertemuan Prabowo dan Megawati, serta kebersamaan Puan dan Dasco dalam suasana takziah, patut dilihat dalam konteks yang lebih luas. Di tengah perbedaan politik dan derasnya komunikasi digital yang sering mempertajam polarisasi, para tokoh bangsa justru memperlihatkan bahwa hubungan antarmanusia tetap dapat ditempatkan di atas sekat-sekat politik.
Momen tersebut terasa semakin bermakna karena sosok yang wafat adalah Guruh Soekarnoputra, seorang tokoh seniman yang sepanjang hidupnya banyak menggali dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia.
Guruh tidak hanya berkarya dalam musik, tetapi juga mengembangkan seni pertunjukan yang memadukan musik, tari, koreografi, busana dan berbagai unsur tradisional Nusantara dengan gagasan seni modern. Melalui karya-karyanya Almarhum menghadirkan keberagaman budaya Indonesia dalam bahasa seni yang kreatif.
Guruh Soekarno Putra tidak jadikan keragaman untuk dipertentangkan, tapi perbedaan tradisi justru dirangkai menjadi keindahan dan identitas Indonesia yang lebih besar. Berbagai kekayaan daerah tidak menjadi sekat, melainkan bagian dari mozaik kebudayaan nasional.
Di sinilah terdapat benang merah antara warisan Guruh dan peristiwa takziah yang mempertemukan Prabowo, Megawati, Puan Maharani dan Sufmi Dasco Ahmad.
Guruh merawat persatuan Indonesia melalui kebudayaan, sementara pertemuan para tokoh bangsa tersebut memperlihatkan bahwa persatuan dirawat melalui sikap kemanusiaan.
Guruh mengekspresikan persatuan melalui musik dan seni, sedangkan para pemimpin bangsa menunjukkannya melalui sikap dalam hubungan antarmanusia. Namun, keduanya bertemu pada satu nilai, yakni keberagaman tidak harus melahirkan permusuhan.
Indonesia dibangun dari banyak perbedaan, suku, bahasa, agama, adat istiadat, tradisi hingga pilihan politik. Persatuan tidak menghapus perbedaan dan membuat semua orang harus memiliki pandangan yang sama, namun persatuan adalah hidup berdampingan dengan tetap menjaga rasa hormat.
Dalam konteks itu, kehadiran Puan dan Dasco memiliki makna penting. Sebagai pimpinan DPR, keduanya tidak membawa identitas politik masing-masing, tetapi memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai bagian dari lembaga yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Perbedaan pandangan di parlemen merupakan bagian dari demokrasi. Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi permusuhan di tengah masyarakat.
Hal yang sama dapat dilihat dari hubungan Prabowo dan Megawati. Keduanya pernah menjadi pasangan dalam Pilpres 2009, kemudian berada pada posisi politik berbeda dalam kontestasi berikutnya. Namun, dinamika politik tersebut tidak menghapus ruang silaturahmi dan penghormatan sebagai sesama tokoh bangsa.
Takziah pada 28 September 2026 memperlihatkan satu hal sederhana tetapi penting yaitu hubungan kemanusiaan tetap memiliki tempat, bahkan ketika perjalanan politik seseorang tidak selalu berada pada jalan yang sama.
Karena itu, masyarakat tidak perlu tergesa-gesa menafsirkan pertemuan tersebut sebagai transaksi, kesepakatan atau perubahan sikap politik tanpa dasar fakta. Dalam suasana duka, yang lebih utama adalah menghormati keluarga yang kehilangan dan memahami takziah sebagai bentuk belasungkawa serta penghormatan kepada almarhum.
Dari peristiwa ini, kita kembali diingatkan pada budaya bangsa sendiri, datang ketika sesama sedang berduka, menghormati keluarga, menjaga silaturahmi meskipun berbeda pilihan, serta menghidupkan semangat gotong royong. Lebih dari itu, ada pelajaran bahwa kepentingan kemanusiaan tidak seharusnya selalu ditempatkan di belakang kepentingan politik.
Mungkin inilah salah satu pesan simbolik yang dapat kita renungkan dari kepergian Guruh Soekarnoputra. Kebudayaan Indonesia tidak akan hidup hanya karena karya seni terus dipertunjukkan atau diwariskan, tetapi juga karena nilai persaudaraan, keberagaman dan kemanusiaan yang menjadi roh kebudayaan itu tetap dipraktikkan oleh generasi berikutnya.
Guruh merawat Indonesia melalui kebudayaan. Kita merawat Indonesia melalui persaudaraan.
Itulah makna yang layak kita petik dari takziah Presiden Prabowo kepada Megawati, sekaligus kebersamaan Puan Maharani dan Sufmi Dasco Ahmad dalam suasana duka: berbeda pilihan bukan alasan untuk kehilangan persaudaraan, dan perbedaan politik tidak boleh menghilangkan kemanusiaan.