Sebuah Kisah dari Desa Bengawan

Oleh: Ichwan Arifin (*

Sorot mata Hamim terfokus pada joran pancingnya. Meski diserang rasa kantuk, namun matanya terus dipicingkan. Wajahnya sesekali diseka kain basah. Bertahan menjaga mata dan pikiran tetap terjaga. Rokok dijemari tangannya terus menyala. Rasa kantuk coba ditaklukan dengan kopi “kothok” panas didalam “tumbler”.

Kedua tangannya memegang Joran model “digging”, panjang sekitar 150 cm. Senar pancing panjang mengantarkan umpan masuk jauh ke dalam dasar sungai. Mencoba mengundang ikan-ikan mendekat.

Arus air bengawan sangat tenang. Nyaris tanpa riak dan gelombang. Malam juga terasa gelap dan pekat. Sinar bulan tak banyak membantu, purnama sudah lewat. Nyamuk sesekali meraung hingga dekat gendang telinga. Jaket “hoodie”, tak mampu melindungi tubuh dan kepala dari gigitan nyamuk dan serangga malam.

Tak terasa, hampir 3 jam, Hamim berada di lokasi itu. Senar pancing masih tidak bergerak. Tak ada tanda-tanda ikan menyentuh umpan. Sesekali joran ditariknya ke permukaan. Hasilnya selalu “zonk”.

Pemuda itu tidak patah semangat. Hamim pemancing sejati. Area pancingnya tidak hanya sungai tapi juga  laut. “Hobby” itu terus dijalani meski sudah bekerja di kota. Setiap pulang ke desanya, selalu menyempatkan diri memancing. Kebetulan desa kelahirannya, sesuai namanya Desa Bengawan, terletak di pinggir bengawan.

Biasanya, Ia mengajak teman-teman masa kecilnya seperti Kundori, Haikal, Arif, Wawan dan sebagainya. Tapi malam itu, Hamim menyendiri. Ia memilih area pemancingan strategis. Tepat di cekungan sungai yang dalam. Habitat bagus bagi ikan beranak pinak. Lokasinya berdekatan dengan makam leluhur atau cikal bakal warga Desa Bengawan, Ki Among Rogo.

Suasananya tenang. Apalagi malam hari, semakin sunyi. Detak jantungnya pun terasa terdengar keras.“Smart watch” di pergelangan tangan menunjuk jam 2 dinihari. Berbatang-batang rokok telah dihabiskan. Belum juga ada ikan memakan umpan. Beberapa kali matanya terpejam. Sekian detik kemudian “melek” lagi. Dalam balutan kantuk, Hamim mendengar sayup suara gamelan. Mungkin desa sebelah menggelar hajatan, pikirnya.

Tiba-tiba pundaknya terasa disentuh seseorang. Hamim mencoba menengadahkan kepala. Matanya dibuka lebar mencari tahu siapa sosok itu. Di hadapannya, berdiri seorang tua. Usia sekitar 80an lebih. Kulitnya keriput namun terlihat bersih. Sorot matanya tajam tapi terkesan teduh. Tubuh kurusnya terlihat ringkih dibalut surjan. Sebagian rambut putihnya tertutupi kain (udeng) berwarna hitam.

Hamim terkejut. Sosok itu diyakininya sebagai Ki Among Rogo, cikal bakal atau leluhur masyarakat Desa Bengawan. Kisahnya telah didengar sejak kecil. Meski sudah berpuluh tahun berlalu, tokoh ini tetap dihormati di desanya hingga sekarang.

Setiap tahun, warga desa menggelar “sedekah bumi” di lokasi yang diyakini sebagai makam Ki Among Rogo. Pagelaran wayang, sindir dan kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari ritual tersebut.

Sosok itu begitu mempengaruhi kehidupan warga Desa Bengawan. Masyarakat meyakini, tidak ada seorangpun dapat memimpin desa itu, tanpa restu Ki Among Rogo. Restu itu bisa diperoleh dari mimpi atau tanda-tanda lainnya. Mirip “pulung” yang mencari sosok yang akan dilekatkan kekuasaan.

Tidak ada sepatah katapun terucap dari mulut Ki Among Rogo. Ia hanya tersenyum. Tangan kirinya memegang pundak Hamim, sedang tangan lainnya menunjuk ke arah Balai Desa Bengawan. Hamim hanya tertunduk, tak mampu berkata-kata.

Tak lama kemudian, fajar menyingsing. Rasa lelah membalut tubuhnya. Sisa air putih dalam botol diguyurkan di wajahnya. Matanya terasa berat. Ia menghela napas panjang. Perlahan berdiri dan membereskan peralatan pancingnya. Tak seekor ikan berhasil dibawa pulang. Namun pertanyaan besar menggumpal dibenaknya.

Hamim kemudian menemui Ki Handiono, salah satu sesepuh desa. Orang tua itu mendengarkan secara saksama. Kemudian menghela napas sembari menyulut sebatang rokok kretek. Dalam balutan asap rokok tebal, Ki Handiono berkata, “Nak Hamim, itu pertanda dari leluhur. Panggilan untuk mengabdi pada warga desa,” ungkapnya dengan nada berat dan serak. Menguatkan wibawa dan aura mistis dari wajahnya. Ki Handiono tidak menjelaskan lebih lanjut yang dimaksud dengan pengabdian itu.

Hamim memaknainya sebagai panggilan mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa (pilkades). Tafsir itu semakin kuat karena pilkades sudah dekat. Namun belum ada calon lain, kecuali Kades Aria Surangga, sang petahana.

Tak butuh waktu lama, cerita itu pun menyebar ke pelosok desa. Tokoh-tokoh yang berseberangan dengan petahana mulai merapat. Meneguhkan tekad Hamim. “Wangsit” dan dukungan para tokoh oposisi membuat kepercayaan dirinya semakin membuncah.

Apalagi dalam pandangannya, Aria Surangga melakukan”blunder politik”. Pejabat desa yang berbeda pandangan disingkirkan. Sikapnya juga dinilai arogan. Acapkali melukai hati masyarakat. Surangga juga dituding tidak transparan dalam pengelolaan dana. Kebijakan dan pembangunan desa hanya menguntungkan diri dan kroni-kroninya.

“Mas Hamim, kita perlu pemimpin baru. Sampeyanlah sosok yang ditunggu warga. Mereka pasti akan memilih sampeyan!” kata “Mbah Kamituwo”, salah satu pejabat desa yang tersingkir. Ungkapan senada dikemukakan Dumadi, tokoh pemuda desa. Dikenal sebagai pendukung fanatik Surangga namun berbalik arah, kecewa dengan perlakuan yang didapat. “Betul Mas Hamim, tokoh-tokoh masyarakat telah saya pegang. Sampeyan pasti menang!” tegas Dumadi. Hamim pun tersanjung.

Meski kedua orang tuanya tidak sepakat, Hamim bertekad maju. Tabungan hasil kerja dikuras untuk membiayai aktivitas politik ini. Namun, biaya politik itu tidak murah. Uang tabungan tak cukup membiayai semua kebutuhan. Hamim pun menjual sebagian tanah orang tuanya.

Ia juga menyewa konsultan politik dan merekrut tokoh-tokoh oposisi dan pemuda desa sebagai tim sukses. Selama masa konsolidasi hingga kampanye, rumahnya dibuka untuk umum. Makan, minum, rokok dan sebagainya selalu tersedia. Para tamu mengalir deras tanpa jeda. Selain itu, Hamim juga menyumbang dana untuk beragam kegiatan sosial masyarakat. Upaya itu dilakukan untuk menandingi petahana yang juga banyak melakukan hal serupa.

Ya, Surangga dapat melakukan kegiatan apa saja karena anggaran Desa Bengawan sangat banyak. Berasal dari beragam sumber, seperti pajak/retribusi dari beberapa perusahaan besar yang ada di desa itu, dukungan dana dari pemerintahan diatasnya dan sebagainya.

Situasi itu berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi para elite desa. Aria Surangga dan kalangan dekatnya sangat kaya. Mereka memiliki lini usaha yang berkongsi dengan perusahaan-perusahaan itu. Hampir 90% perputaran ekonomi desa dikuasai Surangga dan para oligarki dibelakangnya. Kondisi berbeda dengan sebagian besar warga yang hidup “pas-pasan”.  Bekerja sebagai buruh tani, pekerja pabrik dan pekerjaan kasar lainnya.

Disparitas sosial sangat tinggi, membuat Hamim percaya diri menawarkan perubahan. Tawaran itu disambut dengan hangat oleh masyarakat. Ragam survey dilakukan. Hasilnya, sebagai pemenang.

Surangga tidak tinggal diam. Ragam survey tandingan dibuatnya. Dukungan dari beragam organisasi dimobilisasi sekaligus mempengaruhi opini publik. Jika perlu, orang-orangnya melakukan dengan taburan ancaman dan kekerasan. Namun, langkah itu kontraproduktif. Semakin menambah parah luka sosial. Antipati kepada Surangga semakin menguat!

Hari-hari kampanye berlangsung sengit. Persaingan pendukung lebih brutal.Tak jarang terjadi konflik fisik, Pertarungan “head to head” antara dua calon, membuat kontestasi ini sebagai pertaruhan harga diri dan persaingan pribadi.

Dalam kalkulasi politiknya, Hamim yakin memenangkan pertarungan. Apalagi kunjungan warga yang menyataakan dukungan ke rumahnya terus mengalir deras. Sementara di rumah petahana, hanya terlihat barisan loyalis dan para pebisnis yang selama ini mendapatkan keuntungan. Mereka para oligark yang menopang kekuasaan Surangga.

Pagelaran politik ini juga menjadi ajang pertaruhan para penjudi, Mereka bertaruh dalam nominal besar. Sebagian besar menaruh taruhannya pada Hamim. Ada juga yang bermain di dua kaki. Hamim tidak menaruh faktor judi ini dalam dalam kalkulasi politiknya.

Hari “H” pun datang. Hamim dengan percaya diri, melangkah tegap menuju balai desa. Sejumlah anggota tim sukses mengiringi langkahnya. Puluhan orang sudah berkumpul. Petahana lebih dahulu datang dengan sejumlah “bodyguard”nya. Satu regu aparat keamanan memisahkan barisan pendukung keduanya. Di pendopo, diletakkan seperangkat meja, kursi serta beberapa bilik kecil tertutup sebagai tempat pemungutan suara.

Satu persatu warga memasuki bilik pencoblosan. Hamim mengamati dengan saksama. Sebagian warga yang dikenalnya mulai masuk bilik suara. Anggota tim suksesnya juga mendapat giliran awal.

Waktu terus berlalu. Semua warga yang hadir di balai desa sudah menggunakan haknya. Namun, dalam hitungan Hamim, yang datang baru sebagian kecil warga. Masih ada ratusan orang yang belum datang. Diantaranya juga para oposan Surangga yang selama ini gencar mendukungnya!

Hingga waktu pencoblosan ditutup, orang-orang itu tidak terlihat batang hidungnya. Hamim mulai cemas. Keringat dingin mengucur deras. Bajunya basah kuyup. Ia pun melepas jas dan melonggarkan dasinya.

Perhitungan suara dimulai. Seperti prediksi awal, Hamim memimpin perolehan suara. Namun itu baru dari kotak suara pertama. Isinya kartu suara dari daerah basis pendukungnya. Beralih ke kotak suara kedua, situasi berubah. Perolehan suara mulai berkejaran. Bahkan menginjak kotak suara ketiga, suara petahana perlahan naik, bahkan akhirnya melesat!

Mata Hamim mulai nanar, Dari sudut matanya, melihat sosok asing. Berdiri jauh dari pendopo namun matanya mengamati kegiatan di balai desa. Hanya segelintir orang yang mengenal sosok itu, Namanya Kala Bendu, pengusaha dan penjudi ulung. Melihat banyak petaruh yang memegang Hamim, Bendu berpikir sebaliknya. Potensi untung besar jika berhasil membalikkan keadaan. Selain bertaruh untuk Surangga, Kala Bendu juga telah mengantongi kontrak proyek-proyek besar di Desa Bengawan.

Karena itu, menjelang hari pencoblosan, tim Kala Bendu menyisir rumah warga satu persatu, terutama di daerah basisnya Hamim. Mereka membeli kartu suara setiap warga yang didatangi dengan harga mahal. Jika menolak, ancaman kekerasan pun dilakukan. Kartu suara para tokoh oposisi juga dibelinya dengan harga jauh lebih mahal dari kartu suara warga biasa.

Akibatnya, tidak banyak warga pergi ke balai desa. Pilkades hanya diikuti kurang dari separuh penduduk desa. Namun toh, hasilnya sudah cukup menjadi legitimasi bagi petahana melanjutkan kekuasaanya.

Perhitungan suara masih berlangsung. Namun Hamim tampak sudah menyerah. Kepalanya perlahan terkulai lemas. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya memburu. Pandangannya menjadi gelap. Sepekat suasana malam saat memancing di dekat makam Ki Among Rogo.

Keluarganya pun histeris. Sebagian berlari ke depan, menyangga tubuh Hamim supaya tidak terjatuh dari kursinya. Aria Surangga tak bereaksi, hanya memilin-milin kumis tebalnya. Sementara itu, dari jauh, Kala Bendu dengan mata sipitnya tersenyum lebar. 

(Agusto/PM – Sumber: Ichwan – Cerpen ini telah tayang di Radar Bojonegoro – Foto: ilustrasi)

(* Penulis (Ichwan Arifin) adalah mantan aktivis Mahasiswa Undip era tahun 90-an. Mantan Ketua GMNI, Komisariat Universitas Diponegoro, Semarang. Penulis aktif sejak masih Mahasiswa S1, S2 Undip hingga saat ini, walau profesinya sebagai pekerja di salah satu perusahaan Migas.

Dimasa jelang Reformasi, Mei 1998, yang saat itu telah menjadi alumnus GMNI bersama aliansi Perguruan Tinggi Semarang, Organisasi Kampus/non Kampus, seperti PIJAR Semarang, PMII, PMKRI, HMI, Warga Semarang, dll turut memelopori terbentuknya AMRS (Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Semarang). Suatu wadah taktis yang lahir spontan atas kesamaan perasaan yang sama saat itu.