🌿 Mutiara Hikmah – Senin, 5 Oktober 2026
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Prof. Eggi Sudjana (BES: Brother Eggi Sudjana)?
🕌 QS. Al-Anfal 8:19 — Power Tauhid vs Power Alutsista
Tepat hari ini, Senin, 5 Oktober 2026, bertepatan dengan Dirgahayu TNI ke-81.
BES mengingatkan satu ayat yang sangat penting untuk direnungkan oleh para Jenderal TNI, seluruh prajurit, dan Presiden Republik Indonesia sebagai Panglima Tertinggi.
Pengingat ini bukan untuk melemahkan TNI, justru untuk menguatkan hakikat kekuatan TNI di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
📖 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنْ تَسْتَفْتِحُوْا فَقَدْ جَآءَكُمُ الْفَتْحُ ۚ وَاِنْ تَنْتَهُوْا فَهُوَ خَيْرٌ لَّـكُمْ ۚ وَاِنْ تَعُوْدُوْا نَعُدْ ۚ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَّلَوْ كَثُرَتْ ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya:
“Jika kamu meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu; dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (memberi pertolongan); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 19)
✨ 1. Logika Al-Qur’an tentang Kekuatan
وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ
“Pasukanmu tidak akan dapat menolak bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya banyak.”
Ayat ini mengandung pelajaran penting tentang hakikat kekuatan.
Logika jahiliyah berkata: menang karena banyak pasukan, banyak senjata, banyak uang, dan banyak kekuatan.
Sedangkan logika Al-Qur’an mengajarkan bahwa sebanyak apa pun fi’ah, pasukan, koalisi, kekuatan politik, kekuatan ekonomi, maupun alutsista yang canggih tidak akan menjadi jaminan mutlak apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan datangnya suatu marabahaya.
Alutsista adalah singkatan dari Alat Utama Sistem Persenjataan, yaitu berbagai sistem dan perlengkapan utama yang digunakan dalam pertahanan dan keamanan negara.
Mengapa demikian?
Karena ayat tersebut ditutup dengan firman Allah:
وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
“Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”
Inilah yang disebut Power Tauhid, yaitu kesadaran bahwa kekuatan manusia pada akhirnya tetap berada di bawah kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pemenang bukan semata-mata mereka yang memiliki senjata paling banyak, tetapi mereka yang mendapatkan pertolongan Allah. Yang sedikit, tetapi bersama Allah, dapat mengalahkan yang banyak tetapi melawan kehendak Allah.
Inilah salah satu pelajaran dari Perang Badar, ketika kaum Muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit menghadapi pasukan yang lebih besar.
Power Tauhid adalah kekuatan yang tidak terlihat oleh radar, tidak terdeteksi satelit, tetapi kekuasaan Allah mampu mengubah keadaan yang secara manusiawi tampak mustahil.
🌙 2. Mengapa Manusia Sering Melupakan Power Tauhid?
Jawabannya sederhana:
Karena manusia sering silau dengan fi’ah atau jumlah dan kekuatan yang terlihat.
Manusia cenderung menghitung jumlah pasukan, senjata, anggaran, teknologi, intelijen, dan berbagai kekuatan material.
Padahal ada kekuatan yang tidak dapat dihitung hanya dengan rumus manusia, yaitu kekuatan iman dan pertolongan Allah.
Sebagai contoh, dalam catatan BES disebutkan perbandingan Amerika Serikat dan Iran.
Amerika Serikat memiliki kekuatan militer yang sangat besar, sementara Iran memiliki kemampuan militer yang berbeda skalanya.
Namun, dalam menghadapi suatu konflik, tidak semua keputusan dapat dijelaskan hanya dengan perhitungan jumlah senjata dan kekuatan militer. Ada faktor keberanian, keyakinan, moral, politik, dan berbagai faktor lain yang juga memengaruhi keputusan sebuah negara.
Karena itu, pertanyaan pentingnya adalah:
Mengapa manusia sering kali dalam analisisnya melupakan Power Tauhid?
Di Indonesia pun pelajaran yang sama dapat direnungkan dari kisah Namrud dan Nabi Ibrahim a.s., serta Fir’aun dan Nabi Musa a.s.
Mereka yang memiliki kekuasaan sering kali dapat terlena.
Merasa mempunyai pasukan yang banyak, pasukan khusus, intelijen, anggaran, dan kekuasaan, lalu merasa dapat bertindak tanpa batas.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
وَلَوْ كَثُرَتْ
“Walaupun jumlahnya banyak.”
Artinya, jumlah dan kekuatan material bukanlah kekuasaan mutlak.
🧭 Tiga Penyakit yang Membuat Manusia Lupa
- Hubbud Dunya — Cinta Dunia
Manusia terlalu mencintai dunia sehingga kekuatan material, termasuk alutsista yang canggih, dapat dipandang seolah-olah menjadi sumber kekuatan mutlak. - Sombong Data
Manusia merasa analisis intelijen, jumlah batalyon, teknologi, dan data yang dimilikinya sudah merupakan ukuran yang mutlak.
Padahal masih ada variabel kekuasaan Allah yang tidak dapat dimasukkan begitu saja ke dalam PowerPoint, tabel statistik, maupun perhitungan manusia. - Tidak Tahu Diri dan Tidak Tahu Batas
Inilah istilah BES yang sangat penting.
Tahu diri berarti menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah.
Tahu batas berarti menyadari bahwa kekuasaan manusia memiliki batas, sedangkan kekuasaan Allah tidak memiliki batas.
🇮🇩 3. Pelajaran untuk TNI pada Dirgahayu ke-81
Pada 5 Oktober 2026, kita mengucapkan:
DIRGAHAYU TNI KE-81.
TNI BERJAYA SELALU DAN DIBERKAHI ALLAH SWT.
TNI AD, TNI AL, TNI AU — Bersama Rakyat, Bersama Allah.
TNI yang BES cintai adalah TNI yang memahami ayat ini.
TNI yang memahami bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada senjata, teknologi, jumlah pasukan, atau anggaran, tetapi juga pada iman, moral, keberanian, dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Justru karena cinta kepada TNI, BES sebagai Pembina KORLABI (Komando Pelaporan Bela Islam) mengingatkan pentingnya konsep tahu diri dan tahu batas ketika berhadapan dengan Power Tauhid.
🕊️ 4. Persoalan KM 50 dan Pentingnya Keadilan
Masih ada luka bangsa yang menurut BES belum sembuh dan perlu diselesaikan secara beradab dan berkeadilan, yaitu kasus KM 50 yang berkaitan dengan FPI (Front Pembela Islam), yang menelan korban enam orang.
Logika fi’ah berkata:
“Kasus sudah selesai, pasukan banyak, senjata lengkap, lupakan saja.”
Namun logika Power Tauhid berkata:
وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
“Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”
Karena itu, menurut pandangan BES, persoalan tersebut tidak semestinya dilupakan begitu saja apabila masih menyisakan pertanyaan tentang keadilan.
Penyelesaian secara beradab bukanlah balas dendam, melainkan:
Keterbukaan fakta secara jujur.
Keadilan restoratif, yaitu pendekatan penyelesaian yang berorientasi pada pemulihan keadilan dan hak pihak-pihak yang terdampak.
Jaminan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali dalam hubungan antara aparat dan umat Islam.
Dengan demikian, kekuatan negara tidak digunakan untuk menekan rakyat, tetapi untuk menghadirkan rasa aman, keadilan, dan kepercayaan.
TNI yang kuat adalah TNI yang disegani musuh, dicintai rakyat, dan selalu menyadari bahwa kekuatan tertinggi tetap milik Allah.
Sebaliknya, apabila kekuatan negara kehilangan kepercayaan rakyat, dapat muncul disobedience atau ketidakpatuhan serta distrust atau ketidakpercayaan. Keadaan seperti itu tentu berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
🕌 5. Kesimpulan QS. Al-Anfal Ayat 19 untuk Presiden sebagai Panglima Tertinggi
Ada beberapa pesan penting yang dapat direnungkan.
Pertama, apabila manusia meminta keputusan, maka keputusan Allah telah datang. Yang banyak belum tentu menang.
Kedua, apabila berhenti memusuhi Rasul dan berhenti memusuhi ajaran Islam, maka hal tersebut lebih baik.
Ketiga, apabila kembali mengulangi kesalahan dan kezaliman, maka Allah dapat kembali memberikan pertolongan kepada mereka yang terzalimi.
Karena itu, kekuatan TNI bukan hanya karena memiliki alutsista yang canggih, tetapi juga karena memiliki prajurit yang beriman, berintegritas, berani, disiplin, dan menyadari bahwa:
وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
“Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”
🇮🇩 DIRGAHAYU TNI KE-81
TNI kuat bersama rakyat.
TNI berjaya bersama iman.
TNI senantiasa berada dalam lindungan dan keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jayalah TNI bersama Tauhid.
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar BES – Brother Eggi Sudjana.