🌿 MUTIARA HIKMAH – Ahad, 13 September 2026
Standar Ukuran Bicara dan Jalan Hidup
Oleh: Prof. Dr. BES – Brother Eggi Sudjana.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰٮهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَا حٍ ۢ بَيْنَ النَّا سِ ۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
📖 QS. An-Nisa’ 4:114
Kemudian Allah berfirman:
وَمَنْ يُّشَا قِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَـهُ الْهُدٰى وَ يَـتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَـنَّمَ ۗ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”
📖 QS. An-Nisa’ 4:115
Dua ayat ini menarik untuk direnungkan secara berpasangan. 🤲
Ayat 114 berbicara tentang apa yang seharusnya keluar dari pembicaraan kita, sedangkan ayat 115 berbicara tentang jalan hidup yang harus kita pilih setelah kebenaran menjadi jelas.
Dengan kata lain:
🗣️ Ayat 114: standar lisan.
🛤️ Ayat 115: standar jalan hidup.
🗣️ Ketika Bicara Harus Menghasilkan Kebaikan
Allah terlebih dahulu mengingatkan bahwa tidak semua pembicaraan memiliki nilai kebaikan.
Ada pembicaraan yang hanya menghabiskan waktu. Ada yang menjadi ghibah, fitnah, prasangka, pertengkaran, bahkan menjadi sumber permusuhan.
Tetapi Allah memberikan pengecualian terhadap pembicaraan yang mengandung tiga hal penting. 🌱
1️⃣ Pertama, mengajak kepada sedekah.
💰 Sedekah bukan sekedar memberikan sebagian harta. Di dalamnya ada kepedulian terhadap sesama, keberanian berbagi dan usaha membantu mereka yang membutuhkan.
Karena itu, pembicaraan yang menggerakkan orang untuk membantu fakir miskin, korban bencana, pendidikan, kesehatan, wakaf, atau berbagai bentuk kemaslahatan sosial merupakan pembicaraan yang memiliki nilai kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar.
2️⃣ Kedua, mengajak kepada ma’ruf.
🤝 Ma’ruf adalah segala bentuk kebaikan yang diakui oleh syariat dan akal sehat yang lurus.
Mengajak kepada kejujuran, amanah, ibadah, kepedulian sosial, menolak korupsi, membantu orang yang lemah dan menjaga hak sesama adalah bagian dari semangat amar ma’ruf.
3️⃣ Ketiga, melakukan ishlah di antara manusia.
🕊️ Ishlah berarti memperbaiki hubungan dan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
Di tengah masyarakat yang mudah terpecah oleh perbedaan pilihan, kepentingan, organisasi maupun pendapat, orang yang berusaha mempertemukan kembali pihak yang bertikai justru sedang menjalankan pesan penting Al-Qur’an.
Jadi, ukuran pembicaraan bukan sekedar seberapa pintar kita berbicara, tetapi apa akibat dari pembicaraan itu. 🎯
Rapat, diskusi, pertemuan, percakapan di warung kopi, bahkan komunikasi melalui WhatsApp atau media sosial, semuanya dapat menjadi bernilai apabila mengarah kepada kebaikan.
Sebaliknya, semakin banyak bicara tetapi isinya hanya mencela, mengadu domba, menyebarkan kabar yang tidak benar atau memperbesar permusuhan, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa sebenarnya manfaat pembicaraan ini di hadapan Allah? 🤔
Allah menutup ayat 114 dengan penegasan:
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ
“Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah…”
🔑 Inilah kuncinya.
Bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi juga untuk siapa kita mengatakannya dan untuk tujuan apa kita melakukannya.
🛤️ Setelah Bicara, Ke Mana Jalan Kita?
Kemudian QS. An-Nisa’ ayat 115 memberikan ukuran yang lebih mendasar.
⚠️ Allah memperingatkan orang yang menentang Rasul setelah kebenaran telah jelas baginya dan memilih jalan yang bukan jalan orang-orang beriman.
Ayat ini mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada ucapan. ☝️
Ada konsekuensi dari keyakinan.
Ketika kebenaran telah jelas, seorang mukmin dituntut untuk menjadikan petunjuk Rasulullah ﷺ sebagai pedoman dan menempuh jalan kehidupan yang sesuai dengan iman.
Karena itu, jangan sampai lisan kita berbicara tentang kebaikan, tetapi tindakan kita justru menjauh dari nilai kebenaran, keadilan dan kemaslahatan.
Di sinilah dua ayat tersebut terasa saling melengkapi. 🔗
🗣️ Ayat 114 bertanya: “Apa yang keluar dari lisanmu?”
Sedangkan ayat 115 seakan mengingatkan:
🛤️ “Setelah itu, jalan mana yang kamu pilih?”
Kita perlu berhati-hati dalam memahami سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ atau “jalan orang-orang mukmin”. Ayat ini bukan alasan untuk dengan mudah memberi cap kafir, sesat atau munafik kepada orang lain hanya karena perbedaan pendapat.
Justru ayat ini pertama-tama harus menjadi cermin bagi diri sendiri. 🪞
Apakah pilihan hidup kita benar-benar sejalan dengan iman?
Apakah kepentingan dunia membuat kita mengabaikan nilai kejujuran?
Apakah kepentingan kelompok membuat kita meninggalkan keadilan?
Apakah kekuasaan membuat kita membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah?
Ataukah kita tetap berusaha menjadikan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman, meskipun jalan itu tidak selalu mudah? 🤲
⚖️ Bicara dan Tindakan Harus Selaras
Bagi kader umat yang memegang prinsip CBM—Cerdas, Berani, Militan, dua ayat ini dapat menjadi pedoman sederhana.
🧠 CERDAS:
Saring setiap pembicaraan. Jangan semua persoalan harus dibicarakan. Tanyakan: apakah pembicaraan ini membawa sedekah, kebaikan atau ishlah?
💪 BERANI:
Berani mengatakan yang benar dan berani menolak pembicaraan yang hanya melahirkan fitnah, kebencian dan perpecahan.
🔥 MILITAN:
Konsisten menjaga niat karena Allah. Jangan menjadikan perjuangan sebagai sarana mencari pujian, kedudukan atau kepentingan pribadi.
Dengan demikian, CBM bukan hanya keberanian bergerak, tetapi juga kecerdasan menyaring informasi, keberanian mempertahankan kebenaran dan konsistensi menjalankan nilai yang diyakini.
Di sinilah prinsip JUBEDIL—Jujur, Benar dan Adil menjadi penting.
🟢 Jujur dalam bicara.
🔵 Benar dalam berpijak.
🟠 Adil dalam bertindak.
🚦 Dua Ayat, Dua Garis Pedoman
Kalau diringkas, QS. An-Nisa’ 114 dan 115 memberikan dua garis pedoman.
🗣️ Pertama, garis lisan:
Jangan biarkan pembicaraan kita menjadi sumber kesia-siaan, permusuhan dan kerusakan. Arahkan kepada sedekah, ma’ruf dan ishlah.
🛤️ Kedua, garis jalan hidup:
Jangan berhenti pada kata-kata. Setelah kebenaran jelas, jadikan Rasulullah ﷺ dan jalan orang-orang beriman sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Maka jangan sampai kita rajin berbicara tentang perdamaian tetapi justru gemar mengadu domba.
Jangan sampai kita berbicara tentang keadilan tetapi membenarkan ketidakadilan ketika menguntungkan diri sendiri.
Jangan sampai kita mengajak orang lain berbuat baik tetapi diri sendiri justru meninggalkan nilai yang kita serukan.
Sebab, kekuatan seorang mukmin bukan hanya pada apa yang dikatakannya, tetapi pada keselarasan antara lisan, niat dan perbuatannya. ❤️
Dan yang paling penting, jangan mudah menunjuk orang lain sebagai munafik hanya karena melihat satu perilaku yang tidak kita sukai. Penilaian terhadap hati manusia adalah wilayah Allah. Yang menjadi tugas kita adalah memperbaiki diri dan menegakkan kebaikan dengan cara yang benar. 🤲
Semoga Allah menjadikan lisan kita sumber kebaikan, langkah kita berada di jalan yang diridai-Nya, dan perjuangan kita benar-benar menjadi amal yang diterima.
🤲 DOA
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
_“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”€
📖 QS. Al-Furqan 25:74
🌿 Semoga kita menjadi manusia yang baik lisannya, lurus jalannya, benar niatnya dan nyata manfaatnya bagi sesama.
Salam Jihad, BES = Brother Eggi Sudjana