Oleh: Prof. Dr. BES – Brother Eggi Sudjana.
🌿 Mutiara Hikmah – Sabtu, 12 September 2026
💰 Power of Infaq: Jangan Menunggu Sampai Terlambat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
QS. Al-Munafiqun: 9
Kemudian Allah berfirman:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”
QS. Al-Munafiqun: 10
🌹 Dua ayat ini seperti dua peringatan sekaligus satu jalan keluar.
Pertama: jangan sampai harta dan anak-anak membuat kita lalai dari mengingat Allah.
Kedua: jangan menunda-nunda berinfak sampai kematian datang.
Ketiga: gunakan harta yang Allah titipkan kepada kita untuk menjadi bekal akhirat.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat dalam:
Mengapa ketika kematian datang, manusia meminta kesempatan untuk bersedekah?
Mengapa bukan meminta kesempatan untuk shalat, puasa atau berhaji?
Jawabannya perlu kita pahami dengan hati-hati.
🌿 Harta: Titipan atau Tujuan Hidup?
Allah tidak mengharamkan manusia memiliki harta.
Allah juga tidak melarang kita mencintai keluarga.
Yang dilarang adalah ketika harta dan anak membuat kita lupa kepada Allah.
Harta seharusnya berada di tangan, bukan menguasai hati.
Anak adalah amanah, bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.
Karena itu, masalahnya bukan:
“Apakah kita memiliki harta?”
Tetapi:
“Siapa yang mengendalikan siapa?”
Apakah kita mengendalikan harta?
Atau justru harta yang mengendalikan kehidupan kita?
Allah menyebut orang yang membiarkan harta dan keluarganya melalaikan Allah sebagai:
الْخٰسِرُوْنَ — Al-Khasirun
yaitu orang-orang yang merugi.
Kerugian dunia bisa berupa kehilangan harta.
Tetapi kerugian terbesar adalah ketika seseorang mendapatkan banyak harta, namun kehilangan waktu untuk beribadah, kehilangan kepedulian kepada sesama, dan kehilangan bekal untuk akhirat.
🌿 Mengapa Orang yang Akan Meninggal Meminta Kesempatan untuk Bersedekah?
Ayat 10 memberikan gambaran yang sangat menyentuh.
Ketika kematian sudah datang, manusia baru menyadari nilai kesempatan.
Ia berkata:
رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍ فَاَصَّدَّقَ
“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah.”
Mengapa?
Karena pada saat itu manusia telah melihat kenyataan akhirat yang sebelumnya hanya didengar.
Harta yang selama hidup dikumpulkan ternyata tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Rumah ditinggalkan.
Kendaraan ditinggalkan.
Jabatan ditinggalkan.
Rekening ditinggalkan.
Yang dibawa adalah amal.
Maka manusia baru menyadari:
“Seandainya dulu aku lebih banyak memberikan hartaku di jalan Allah.”
Inilah yang disebut penyesalan setelah kesempatan berakhir.
Dan kesempatan itu tidak boleh kita tunggu sampai datangnya kematian.
🌹 Power of Infaq: Mengapa Sedekah Begitu Ditekankan?
Ada beberapa pelajaran besar dari ayat ini.
1️⃣ Infaq adalah bukti bahwa kita tidak diperbudak harta
Allah berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
QS. Ali ‘Imran: 92
Memberikan sesuatu yang kita cintai tidak selalu mudah.
Justru di situlah latihan keimanan terjadi.
Kita belajar mengatakan:
“Ini milik Allah. Saya hanya dititipi.”
2️⃣ Sedekah adalah cara melawan penyakit cinta dunia
Allah mengingatkan:
الشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ
“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu.”
QS. Al-Baqarah: 268
Kadang-kadang ketika hendak bersedekah muncul bisikan:
“Jangan dulu. Nanti uangmu habis.”
“Bagaimana kalau besok membutuhkan?”
“Tunggu kaya dulu.”
Padahal bersedekah tidak harus menunggu kaya.
Yang penting adalah ikhlas, halal sumbernya, dan sesuai kemampuan.
3️⃣ Sedekah adalah investasi akhirat
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
HR. Muslim
Secara kasat mata, ketika kita memberikan uang, saldo memang berkurang.
Tetapi secara spiritual, sedekah tidak berarti membuat seseorang menjadi miskin. Allah menjanjikan pahala dan keberkahan bagi orang yang bersedekah.
Maka cara berpikir seorang mukmin berbeda:
Dunia melihat: uang keluar.
Iman melihat: pahala sedang ditanam.
4️⃣ Sedekah jariyah dapat menjadi amal yang terus mengalir
Rasulullah ﷺ bersabda:
اِذَا مَاتَ ابْنُ اٰدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara…”
Yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
HR. Muslim
Inilah salah satu kekuatan sedekah.
Sebuah sumur yang terus digunakan.
Masjid yang terus dimanfaatkan.
Ilmu yang terus diamalkan.
Program sosial yang terus membantu masyarakat.
Semua itu dapat menjadi jalan mengalirnya pahala setelah seseorang meninggal, sesuai dengan kehendak dan rahmat Allah.
🌹 Maka jangan berpikir:
“Sedekah adalah uang yang hilang.”
Berpikirlah:
“Sedekah adalah amal yang saya kirim lebih dahulu ke akhirat.”
🌿 Lalu, Mengapa Bukan Meminta Shalat, Puasa atau Haji?
Ini pertanyaan penting.
Bukan berarti shalat, puasa, haji atau syahadat lebih rendah daripada sedekah. Semua ibadah memiliki kedudukan dan ketentuan masing-masing.
Namun QS. Al-Munafiqun: 10 secara khusus menggambarkan orang yang menjelang kematian meminta tambahan waktu agar dapat bersedekah.
Salah satu hikmahnya adalah bahwa ayat tersebut menyoroti hubungan manusia dengan harta.
Pada ayat sebelumnya, Allah memperingatkan:
“Jangan harta dan anak-anak melalaikanmu dari mengingat Allah.”
Lalu ayat berikutnya berkata:
“Infakkanlah sebagian dari apa yang Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang.”
Jadi ada hubungan yang sangat jelas:
Masalahnya: harta dapat melalaikan.
Obatnya: harta digunakan untuk kebaikan dan diinfakkan.
Dengan kata lain:
🌹 Harta yang membuat kita lalai harus ditundukkan dengan amal.
🌿 Analisa KORLABI: Mengapa Kita Sulit Berinfak?
Dalam perspektif pembinaan kader umat, ada tiga penyakit yang perlu dilawan.
😨 1. Takut Miskin
Kita takut uang berkurang.
Padahal Allah mengingatkan bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan.
Maka seorang mukmin harus belajar membedakan antara hemat dan pelit.
Hemat adalah mengelola amanah.
Pelit adalah ketika hati begitu terikat kepada harta sehingga sulit mengeluarkannya untuk kebaikan.
💰 2. Cinta Dunia
Harta dan anak bukan musuh.
Tetapi ketika keduanya menjadi tujuan tertinggi kehidupan, manusia bisa lupa kepada Allah.
Karena itu, jangan sampai kita bekerja keras mengumpulkan harta, tetapi tidak pernah sempat bertanya:
“Untuk apa sebenarnya Allah memberikan harta ini kepadaku?”
🌱 3. Tidak Memahami Sedekah sebagai Bekal Akhirat
Sebagian orang melihat sedekah sebagai uang yang hilang.
Padahal bagi seorang mukmin, sedekah adalah bekal yang ditanam untuk kehidupan setelah kematian.
🔥 CBM: Cerdas, Berani, Militan dalam Berinfaq
🧠 CERDAS
Pahami bahwa harta adalah amanah.
Jangan hanya menghitung berapa yang kita miliki.
Hitung juga berapa yang sudah kita gunakan untuk Allah dan untuk kemaslahatan sesama.
❤️ BERANI
Berani melawan rasa takut kehilangan harta.
Tidak perlu menunggu kaya untuk mulai bersedekah.
Mulailah dari yang mampu.
🔥 MILITAN
Jadikan infaq sebagai kebiasaan.
Bukan hanya ketika sedang memiliki uang lebih.
Buat komitmen rutin sesuai kemampuan.
Sedikit tetapi istiqamah jauh lebih baik daripada besar sekali lalu berhenti.
🌹 Dua Ayat, Dua Arah
Dari QS. Al-Munafiqun ayat 9 dan 10, kita mendapatkan dua arah kehidupan:
1️⃣ Jangan biarkan harta menguasai hati.
2️⃣ Gunakan harta sebagai jalan mendekat kepada Allah.
Harta bukan untuk disembah.
Harta bukan untuk dibanggakan.
Harta adalah amanah.
Allah memberikan harta kepada kita sekaligus memberikan kesempatan untuk menentukan: apakah harta itu menjadi beban, atau menjadi bekal akhirat.
🤲 Doa Umat Islam yang CBM
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُنْفِقِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang gemar berinfak dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi.”
🤲 Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
🌹 Jangan menunggu kematian untuk menyadari nilai sedekah.
Jangan menunggu kaya untuk mulai memberi.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai kesempatan.
Selagi Allah masih memberikan umur, masih ada kesempatan.
Selagi tangan masih bisa memberi, berilah.
Selagi hati masih bisa tergerak, berbuatlah.
Sebab ketika kematian datang, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk memperbaiki masa lalu.
Yang tersisa hanyalah amal yang telah kita tanam.
Harta terbaik bukan sekadar harta yang banyak.
Harta terbaik adalah harta yang menjadi jalan menuju ridha Allah dan kemaslahatan sesama.
🌿 Semoga Allah menjadikan harta kita berkah, keluarga kita amanah, hati kita tidak diperbudak dunia, dan tangan kita ringan untuk berinfaq.
Salam Jihad, BES = Brother Eggi Sudjana.