“From Anxiety to Awareness, from Awareness to Collaboration, from Collaboration to Bloom”
Jakarta, 7 Desember 2025 kemarin, di tengah meningkatnya keresahan generasi muda akan banyaknya bencana alam yang bersumber dari kerusakan lingkungan, organisasi pemuda, Green Economy Youth Organization (GEYO) dengan kolaborasi bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menghadirkan sebuah acara publik baru yang progresif dan transformatif yaitu Berkawan Setia.
Mengambil tema eco-conscious lifestyle dan ekonomi sirkular, acara yang berlokasi di Jakarta Design Center ini menggaet anak-anak muda dari berbagai minat dan latar belakang untuk berkumpul, berdialog, dan menciptakan rekomendasi aksi lingkungan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan misi utama untuk merubah kekhawatiran akan lingkungan menjadi aksi nyata bersama.
Acara ini terdiri dari Talkshow dengan konsep pentahelix yang berisi narasumber dari berbagai bidang, sesi tanya jawab, role discussion antar peserta, dan ditutup dengan penandatanganan Pakta Pemuda oleh perwakilan peserta, komunitas, dan ketua dari Green Economy Youth Organization.
Mengusung konsep perjalanan, Berkawan Setia dibuka melalui sesi refleksi The Wall, di mana peserta menuliskan keresahan iklim sebagai titik awal perubahan. Selanjutnya, mereka memasuki The Portal sebagai fase transisi menuju optimisme dan keberanian untuk turut mengambil peran dalam perubahan.
Dilanjut ke inti acara yang adalah talkshow dan diskusi lintas perspektif, menghadirkan Ratna Djuwita, Psikologi, Dosen Psikologi Lingkungan UI; Imam Pesuwaryantoro, Public Relation dari perusahaan pengolah limbah plastik Plasticpay; Kevin Wisnumurthi sebagai Dewan Pengawas Yayasan Green Welfare Indonesia, hingga sustainability advocate and content creator, Maya Lynn.
Para narasumber dengan antusias membahas dan berdiskusi dengan peserta mengenai proses kecemasan iklim terbentuk, bagaimana bisnis dengan konsep hijau menjadi solusi ekonomi sirkular, bagaimana komunitas dapat menggerakkan gaya hidup ramah lingkungan, hingga bagaimana kampanye media sosial dapat mempengaruhi kebiasaan konsumsi masyarakat.
Namun yang terpenting, mereka sepakat menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk turut terlibat dalam aksi nyata merawat bumi dan mulailah dari hal kecil. Para narasumber juga menyoroti besarnya potensi industri hijau dan mendorong pengembangan model bisnis berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi sirkular. Namun, tantangan utamanya masih terletak pada belum optimalnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, padahal konsep pentahelix menuntut dukungan akademisi, pelaku bisnis, komunitas, media, dan pemerintah agar sebuah program dapat berhasil.
Usai talkshow, peserta mengikuti focus group discussion dalam empat kelompok peran Enabler, Creator, Connector, dan Consumer untuk merumuskan solusi dan komitmen aksi lingkungan yang relevan. Hasilnya kemudian dipresentasikan dan dilanjutkan dengan Youth Pact Ceremony, yakni pembacaan dan penandatanganan Pakta Pemuda sebagai deklarasi aksi kolektif untuk ekonomi sirkular di Indonesia. Acara ditutup dengan sesi simbolik Tree of Hope, ketika peserta menempelkan daun harapan dan
komitmen aksi sebagai penanda tumbuhnya perubahan.
GEYO berharap acara ini dapat menjadi media yang dapat membawa anak muda dengan rasa cemas terkait lingkungan untuk dapat beraksi bersama secara kolektif. Di sinilah GEYO ingin membuktikan bahwa perubahan tidak harus dimulai besar, cukup dimulai bersama.
Sebelumnya, GEYO juga aktif berkolaborasi dengan berbagai kementerian dalam mengadakan berbagai acara publik untuk membahas isu-isu penting yang belum banyak masyarakat ketahui, seperti Local Conference of Youth (LCOY), MIKTA Youth Dialogue, Environmental Youth Community Dialogue (EYCD), dan masih banyak lagi.