Oleh: Prof. Eggi Sudjana – Brother Eggi Sudjana (BES)
🕊️ Operasi Mata dan Rasa Syukur atas Kesehatan
Pikiranmerdeka.com – Mutiara Hikmah Kamis, 5 November 2026, tidak dapat disampaikan oleh BES karena harus menjalani operasi mata katarak sebelah kiri, sebagai lanjutan dari operasi mata pada Rabu sebelumnya.
Saat menjalani kontrol di JES Kedoya pada Kamis, 5 November 2026, Dr. dr. Setia Budi menemukan tekanan bola mata sebelah kiri BES mencapai angka 55. Kondisi tersebut tergolong sangat tinggi dan berisiko menimbulkan glaukoma.
Atas pertimbangan medis, Dr. Budi segera melakukan tindakan penyedotan cairan berlebih pada mata setelah memberikan bius lokal. Dalam waktu kurang dari lima menit, tekanan bola mata berhasil diturunkan hingga di bawah angka 10.
Alhamdulillah, kondisi mata BES kini mulai membaik sehingga dapat kembali menyampaikan Mutiara Hikmah pada Jumat, 6 November 2026.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesehatan merupakan nikmat Allah SWT yang patut disyukuri dan dijaga.
📖 Jantungnya Iman: Tiga Variabel Utama Menurut Al-Qur’an
Dalam kajian Mutiara Hikmah Jumat, BES mengangkat tema mengenai variabel iman berdasarkan Al-Qur’an, bukan berdasarkan penilaian manusia, kepentingan kelompok, buzzer, maupun kepentingan politik.
Landasan utama pembahasan adalah Surah Al-Anfal ayat 2.
QS. Al-Anfal [8]: 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Innamal Mu’minunalladzina Idza Dzukirallahu Wajilat Qulubuhum Wa Idza Tuliyat Alaihim Ayatuhu Zadathum Imana Wa Ala Rabbihim Yatawakkalun.
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Menurut BES, ayat tersebut mengandung tiga variabel utama keimanan.
Pertama, Wajilat Qulubuhum, yaitu hati yang bergetar ketika nama Allah disebut. Kata Wajilat menggambarkan rasa takut atau khauf kepada Allah, sedangkan Qulubuhum berarti hati. Maknanya, seorang mukmin memiliki kesadaran batin terhadap kebesaran Allah, bukan justru lebih takut kehilangan jabatan, kekayaan, pengaruh, atau dukungan manusia.
Kedua, Zadathum Imana, yaitu bertambahnya iman ketika ayat-ayat Allah dibacakan. Menurut BES, yang bertambah adalah kualitas keimanan, bukan kekayaan, jabatan, ataupun kekuasaan. Harta dan kedudukan tidak dapat dijadikan ukuran tunggal keimanan seseorang.
Ketiga, Yatawakkalun, yaitu bertawakal hanya kepada Allah. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh.
🌟 Tujuh Sifat Mukmin yang Beruntung
Pembahasan berikutnya merujuk Surah Al-Mu’minun ayat 1–11.
QS. Al-Mu’minun [23]: 1–11
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
Qad Aflahal Mu’minun.
Artinya, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”
BES menjelaskan tujuh sifat utama orang mukmin yang terkandung dalam rangkaian ayat tersebut:
1. Fi Shalatihim Khashi’un: khusyuk dalam salat, mencerminkan ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah. Hal ini sejalan dengan pelajaran tawadhu dalam kisah Nabi Sulaiman yang tersenyum mendengar perkataan semut.
2. Anil Laghwi Mu’ridhun: menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan sia-sia, termasuk penyebaran hoaks, fitnah, serta informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
3. Liz Zakati Fa’ilun: menunaikan zakat sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian sosial kepada sesama.
4. Lifurujihim Hafizhun: menjaga kehormatan dan kesucian diri sesuai ketentuan Allah, termasuk menjauhi perbuatan yang dilarang agama.
5. Li Amanatihim Wa Ahdihim Ra’un: menjaga amanah dan janji. Jabatan merupakan tanggung jawab, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Semangat ini juga sejalan dengan nilai Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.
6. Ala Shalawatihim Yuhafizhun: memelihara salat secara konsisten, bukan sekadar melaksanakan kewajiban tanpa menjaga kualitasnya.
7. Waritsun Firdaus: memperoleh warisan surga Firdaus dan kekal di dalamnya. Inilah tujuan akhir yang jauh lebih bernilai daripada mengejar kekayaan duniawi yang bersifat sementara.
❤️ Bukti Kecintaan kepada Allah adalah Mengikuti Rasulullah
BES kemudian menghubungkan pembahasan iman dengan Surah Ali Imran ayat 31.
QS. Ali Imran [3]: 31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Qul In Kuntum Tuhibbunallaha Fattabi’uni Yuhbibkumullah Wa Yaghfir Lakum Dzunubakum Wallahu Ghafurur Rahim.
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Menurut BES, ayat tersebut menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah tidak cukup hanya dinyatakan melalui ucapan. Kecintaan itu harus dibuktikan melalui Fattabi’uni, yakni mengikuti Rasulullah SAW.
Karena itu, umat Islam perlu menjadikan Rasulullah sebagai teladan, bukan menggantungkan keyakinan kepada buzzer, oligarki, kepentingan materi, ataupun rayuan politik.
Prinsip ini juga berkaitan dengan ungkapan Muhammadur Rasulullah Walladzina Ma’ahu, yakni Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau, yang memiliki keteguhan terhadap prinsip agama sekaligus kasih sayang terhadap sesama.
⚖️ Iman Tidak Berhenti pada Pengakuan, tetapi Harus Diuji
Pembahasan selanjutnya merujuk Surah Al-Ankabut ayat 1–3.
QS. Al-Ankabut [29]: 1–3
الٓمٓ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Alif Lam Mim. Ahasiban Nasu An Yutraku An Yaqulu Amanna Wa Hum La Yuftanun. Wa Laqad Fatannalladzina Min Qablihim Falaya’lamannallahulladzina Shadaqu Wa Laya’lamannal Kadzibin.
Artinya:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
BES mengingatkan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan keimanan. Sejarah para nabi dan sahabat memperlihatkan bahwa keimanan tidak terlepas dari tantangan.
Nabi Musa menghadapi kekejaman Fir’aun. Nabi Isa menghadapi penolakan dan pertentangan. Nabi Muhammad SAW menghadapi kaum Quraisy serta tantangan Romawi dan Persia.
Dalam sejarah Islam, Perang Uhud menjadi ujian berat ketika sekitar 70 sahabat gugur sebagai syuhada. Perjanjian Hudaibiyah menguji kesabaran dan ketaatan, sedangkan Perang Tabuk menjadi ujian besar karena perjalanan sekitar 700 kilometer, cuaca panas, paceklik, dan musim panen kurma.
Dalam peristiwa Tabuk, sekitar 30.000 pasukan Muslim berangkat memenuhi seruan Infiru, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Pesan utamanya, keimanan tidak cukup dibuktikan melalui pengakuan, tetapi harus tercermin dalam keteguhan, kesabaran, ketaatan, dan perilaku ketika menghadapi ujian kehidupan.
📚 Tujuh Hadis sebagai Penguat Variabel Iman
Selain empat surah tersebut, BES menguraikan tujuh hadis sebagai penguat pembahasan mengenai keimanan.
1. Hadis Jibril: Definisi Iman
Riwayat Muslim.
الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Al-Imanu An Tu’mina Billahi Wa Malaikatihi Wa Kutubihi Wa Rusulihi Wal Yaumil Akhir Wa Tu’mina Bil Qadari Khairihi Wa Syarrihi.
Hadis ini menjelaskan enam rukun iman: beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta takdir baik dan buruk.
BES menghubungkannya dengan QS. Al-Anfal ayat 2, terutama tentang keyakinan kepada Allah dan bertambahnya iman melalui ayat-ayat-Nya.
2. Hadis tentang Iman Bertambah dan Berkurang
Riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah.
الإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
Al-Imanu Yazidu Wa Yanqus, Yazidu Bit Tha’ati Wa Yanqusu Bil Ma’shiyah.
Artinya, iman bertambah melalui ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan.
BES menghubungkannya dengan Zadathum Imana. Dalam konteks kehidupan, persoalan rendahnya pelaksanaan salat, kemampuan membaca Al-Qur’an, penyebaran hoaks, dan praktik korupsi menjadi hal yang perlu mendapat perhatian serius.
Bahan kajian BES juga menyebut angka 75 persen tidak melaksanakan salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an. Angka tersebut perlu disertai sumber survei yang jelas agar dapat dipertanggungjawabkan.
Kritik terhadap buzzer yang dikaitkan dengan angka Rp100 miliar dan praktik oligarki juga diarahkan pada perilaku yang bertentangan dengan nilai amanah dan kejujuran.
3. Hadis tentang Hati yang Gemetar karena Allah
Riwayat Thabrani.
إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَ قَلْبُهُ وَإِذَا ذُكِرَ النَّاسُ قَسَا قَلْبُهُ
Idza Dzukirallahu Wajila Qalbuhu Wa Idza Dzukira Nasu Qasa Qalbuhu.
Hadis ini dikaitkan dengan Wajilat Qulubuhum dalam Surah Al-Anfal ayat 2.
Pesannya, manusia jangan sampai lebih takut kehilangan kekayaan, kedudukan, dan pengaruh dibandingkan takut kepada Allah. Kesombongan seperti sifat Iblis yang berkata Ana Khairun Minhu (aku lebih baik darinya) harus dihindari.
4. Hadis tentang Tawakal
Riwayat Tirmidzi, dinilai hasan sahih.
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Lau Annakum Tatawakkaluna Alallahi Haqqa Tawakkulihi Larazaqakum Kama Yarzuquth Thair Taghdu Khimasan Wa Taruhu Bithanan.
Artinya, apabila manusia bertawakal dengan sebenar-benarnya kepada Allah, Allah akan memberikan rezeki sebagaimana burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.
Pesannya, tawakal harus disertai ikhtiar. Hal ini juga tercermin dalam semangat pasukan Muslim ketika menghadapi ujian Tabuk.
5. Hadis tentang Khusyuk dalam Salat
Riwayat Muslim.
مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
Ma Min Imri’in Muslimin Tahdhuruhu Shalatun Maktubatun Fayuhsinu Wudhuaha Wa Khusyu’aha Wa Ruku’aha Illa Kanat Kaffaratan Lima Qablaha Minadz Dzunub Ma Lam Yu’ta Kabirah Wa Dzalikad Dahru Kulluh.
Hadis ini menerangkan keutamaan menyempurnakan wudhu, kekhusyukan, dan rukuk dalam salat sebagai sebab penghapusan dosa-dosa kecil, selama tidak melakukan dosa besar.
BES menghubungkannya dengan sifat Fi Shalatihim Khashi’un dalam Surah Al-Mu’minun.
6. Hadis tentang Menjauhi Perkara Sia-sia
Riwayat Tirmidzi, dinilai hasan sahih.
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Min Husni Islamil Mar’i Tarkuhu Ma La Ya’nihi.
Artinya, di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.
Hadis ini memperkuat pesan Anil Laghwi Mu’ridhun, yaitu menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, termasuk fitnah dan informasi yang belum jelas kebenarannya.
7. Hadis tentang Ketaatan kepada Rasulullah
Riwayat Bukhari.
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Kullu Ummati Yadkhulunal Jannah Illa Man Aba. Qalu Ya Rasulallah Wa Man Ya’ba? Qala Man Atha’ani Dakhalal Jannah Wa Man Ashani Faqad Aba.
Hadis ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah merupakan jalan menuju surga, sedangkan mendurhakai beliau berarti menolak petunjuk yang dibawanya.
BES menghubungkannya dengan Surah Ali Imran ayat 31, khususnya Fattabi’uni Yuhbibkumullah, yaitu mengikuti Rasulullah sebagai bukti kecintaan kepada Allah.
🌿 Kesimpulan: Iman Harus Terlihat dalam Kehidupan
Dari keseluruhan pembahasan, BES menegaskan bahwa parameter iman menurut Al-Qur’an dapat dipahami melalui empat rangkaian surah dan diperkuat tujuh hadis.
Pertama, Surah Al-Anfal ayat 2 menjelaskan tiga variabel iman: hati yang bergetar ketika mengingat Allah, bertambahnya keimanan ketika dibacakan ayat-ayat-Nya, serta tawakal kepada Allah.
Kedua, Surah Al-Mu’minun ayat 1–11 menjelaskan tujuh sifat mukmin yang beruntung, mulai dari khusyuk dalam salat, menjauhi kesia-siaan, menunaikan zakat, menjaga kehormatan, memelihara amanah dan janji, hingga menjaga salat serta mengharapkan surga Firdaus.
Ketiga, Surah Ali Imran ayat 31 menjelaskan bahwa bukti kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah SAW.
Keempat, Surah Al-Ankabut ayat 1–3 menegaskan bahwa iman akan menghadapi ujian. Melalui ujian kehidupan, manusia dituntut menunjukkan kesabaran, keteguhan, kejujuran, dan ketaatan.
Dengan demikian, iman bukan sekadar pengakuan atau simbol keagamaan. Iman harus tercermin dalam akhlak, perilaku, tanggung jawab, amanah, kepedulian sosial, dan kesediaan menjalankan perintah Allah.
BES mengajak umat Islam menjaga manisnya iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
Fa Bi Ayyi Ala’i Rabbikuma Tukadzdziban.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keselamatan, ampunan, dan rahmat-Nya kepada kita semua, serta memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Wallahu A’lam Bishawab.
Salam Jihad dan Sabar, BES – Brother Eggi Sudjana