Kekuatan Surah Al Fath, Mengenang LDK 1 HMI Cibadak dan LMD Masjid Salman ITB

Nov 3, 2026

Oleh: Prof. Eggi Sudjana – Brother Eggi Sudjana (BES)

PERJALANAN HAMPIR SETENGAH ABAD: PROF. EGGI SUDJANA URAIKAN TUJUH VARIABEL KONSISTENSI PERJUANGAN ISLAM MELALUI QS. AL-FATH AYAT 27–29

📖 Al-Qur’an Menjadi Pedoman Perjalanan Perjuangan

Dalam refleksi Mutiara Hikmah Selasa, 3 November 2026, Prof. Eggi Sudjana atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES) mengangkat QS. Al-Fath ayat 27–29 sebagai landasan untuk memahami konsistensi dalam perjuangan menegakkan ajaran Islam.

Ketiga ayat tersebut tidak hanya menggambarkan janji Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW mengenai kemenangan dan masuknya kaum Muslimin ke Masjidil Haram, tetapi juga menjelaskan karakter orang-orang beriman yang senantiasa menjaga ketaatan, persaudaraan, keteguhan, serta kesungguhan dalam beribadah.

Ayat 27 menjelaskan kebenaran mimpi Rasulullah SAW memasuki Masjidil Haram dalam keadaan aman. Ayat 28 menegaskan bahwa Allah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Sementara ayat 29 menggambarkan karakter Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang tegas terhadap orang-orang yang memusuhi Islam, tetapi penuh kasih sayang di antara sesama mereka, rajin rukuk dan sujud, serta mengharapkan karunia dan keridaan Allah.

Bagi BES, ketiga ayat tersebut memiliki hubungan erat dengan perjalanan pribadi dan pengalaman dakwah yang telah dijalaninya selama hampir setengah abad.

🕌 Mengenang LDK 1 HMI Cibadak dan LMD Masjid Salman ITB

BES menjelaskan, pemahamannya terhadap QS. Al-Fath ayat 27–29 semakin mendalam ketika mengikuti kegiatan LMD (Latihan Mujahid Dakwah) di Masjid Salman ITB pada awal 1980-an.

Dalam kegiatan tersebut terdapat sosok tokoh legendaris dakwah, Bang Imadduddin Abdulrahim, yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Imad.

Sebelumnya, pada 1979, BES mengikuti LDK 1 HMI di Cibadak, Sukabumi, yang diselenggarakan KORKOM HMI Jayabaya.

Dalam pelatihan LMD, Bang Imad mengarahkan peserta agar menghafalkan ketiga ayat terakhir Surah Al-Fath tersebut. Arahan itu terus melekat dalam ingatan BES hingga Selasa, 3 November 2026.

Perjalanan kemudian berlanjut ke HMI MPO 1986–1988, TPUA, KORLABI, dan berbagai aktivitas perjuangan lainnya.

Setelah sekitar 46–47 tahun sejak LDK 1 HMI tahun 1979, BES memandang perjalanan tersebut sebagai proses panjang pembentukan persepsi, kesadaran, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta upaya mengikuti Rasulullah Muhammad SAW.

Menurutnya, salah satu nikmat terbesar yang patut disyukuri adalah ketika manisnya Iman, Islam, dan Ikhsan tetap terpelihara dalam kehidupan.

Ia menghubungkan refleksi tersebut dengan firman Allah dalam Surah Ar-Rahman ayat 55 yang mengulang kalimat:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fa Bi Ayyi Ala’i Rabbikuma Tukadzdziban.

“Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?”

Kalimat tersebut diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahman sebagai pengingat atas berbagai nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.

📚 Hudaibiyah: Pelajaran tentang Kemenangan yang Tidak Selalu Terlihat

Dalam menjelaskan QS. Al-Fath ayat 27, BES mengangkat peristiwa Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah.

Saat itu, Rasulullah SAW bermimpi memasuki Masjidil Haram bersama para sahabat dalam keadaan aman, dengan menggunduli atau memendekkan rambut.

Mimpi tersebut dikenal sebagai Ru’ya Bil Haqq, yaitu mimpi yang benar.

Rasulullah SAW kemudian mengajak sekitar 1.400 sahabat untuk melaksanakan umrah. Mereka berangkat bukan sebagai pasukan perang, melainkan sebagai rombongan yang hendak beribadah.

Namun, ketika tiba di Hudaibiyah, mereka dihalangi kaum Quraisy sehingga tidak dapat memasuki Makkah.

Peristiwa itu berakhir dengan Perjanjian Hudaibiyah atau Sulhul Hudaibiyah. Sejumlah ketentuannya secara lahiriah dipandang merugikan kaum Muslimin. Mereka harus kembali ke Madinah dan baru diperbolehkan melaksanakan umrah pada tahun berikutnya selama tiga hari.

Ketentuan lain menyangkut pengembalian orang yang melarikan diri dari Quraisy ke Madinah, sementara orang yang berpindah dari Madinah ke Quraisy tidak mendapatkan ketentuan serupa.

Sebagian sahabat merasa kecewa. Umar bin Khattab bahkan mempertanyakan kepada Rasulullah SAW mengenai janji memasuki Masjidil Haram.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa janji tersebut benar, tetapi tidak menyatakan bahwa pelaksanaannya harus terjadi pada tahun itu juga.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi pelajaran penting tentang keterbatasan pengetahuan manusia dalam memahami rencana dan ketetapan Allah.

Dalam rangkaian peristiwa Hudaibiyah inilah Surah Al-Fath diturunkan. Allah menyebut peristiwa tersebut sebagai Fathan Mubina, yakni kemenangan yang nyata, meskipun secara lahiriah perjanjian itu tampak seperti kekalahan.

Sejarah selanjutnya mencatat beberapa peristiwa penting:

  • 6 H – Perjanjian Hudaibiyah: Membuka jalan bagi perkembangan dakwah Islam.
  • 7 H – Khaibar: Kemenangan kaum Muslimin dalam peristiwa Khaibar.
  • 7 H – Umrah Qadha: Rasulullah SAW dan para sahabat memasuki Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah sesuai kesepakatan.
  • 8 H – Fathu Makkah: Pembebasan Kota Makkah.

Bagi BES, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu hadir sesuai perkiraan manusia. Ada proses, kesabaran, dan ketetapan Allah yang harus dipahami dengan penuh keimanan.

🌱 Lima Pelajaran Utama dari QS. Al-Fath Ayat 27–29

Dalam refleksinya, BES menguraikan lima ibrah atau pelajaran utama.

  1. Ru’ya Bil Haqq: Memiliki Cita-Cita Perjuangan yang Benar

Mimpi Rasulullah SAW memasuki Masjidil Haram menjadi kenyataan melalui proses yang telah ditentukan Allah.

BES menghubungkannya dengan perjalanan LDK 1 HMI Cibadak 1979, LMD Masjid Salman ITB awal 1980-an, HMI MPO 1986–1988, TPUA, dan KORLABI.

Menurutnya, perjuangan membutuhkan cita-cita yang benar dan tidak boleh bergeser hanya untuk mengejar uang, jabatan, proyek, maupun keuntungan pribadi.

  1. Fa Alima Ma Lam Ta’lamu: Allah Mengetahui Apa yang Tidak Kamu Ketahui

Peristiwa Hudaibiyah memperlihatkan bahwa para sahabat belum mengetahui seluruh hikmah di balik perjanjian tersebut.

BES menilai, prinsip ini relevan dalam kehidupan setiap pejuang. Manusia memiliki keterbatasan pengetahuan sehingga harus terus menjaga ketaatan, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah.

  1. Fathan Qariba dan Fathan Mubina: Kemenangan Dekat dan Kemenangan Nyata

Hudaibiyah, Khaibar, Umrah Qadha, dan Fathu Makkah menjadi rangkaian sejarah yang mengajarkan pentingnya kesabaran.

Perjuangan tidak boleh dihentikan hanya karena hasil belum sesuai harapan. Setiap proses membutuhkan keteguhan, kerja keras, dan keyakinan kepada pertolongan Allah.

  1. Muhammadur Rasulullah Walladzina Ma’ahu: Tetap Bersama Rasulullah

QS. Al-Fath ayat 29 menggambarkan karakter orang-orang yang bersama Rasulullah SAW.

Mereka memiliki ketegasan terhadap pihak yang memusuhi Islam, tetapi tetap menjaga kasih sayang di antara sesama. Mereka juga senantiasa rukuk dan sujud serta mencari karunia dan keridaan Allah.

Bagi BES, prinsip Ma’ahu menjadi pengingat untuk tetap bersama ajaran Rasulullah SAW, menjaga persaudaraan, dan tidak mengorbankan prinsip demi kepentingan sesaat.

  1. Kazar’in Akhraja Syath’ahu: Perjuangan Seperti Benih yang Terus Tumbuh

Allah mengumpamakan orang-orang beriman seperti tanaman yang mengeluarkan tunas, semakin kuat, semakin besar, dan akhirnya tegak kokoh.

BES menghubungkan perumpamaan tersebut dengan perjalanan perjuangannya: LDK 1 HMI Cibadak 1979 sebagai benih, LMD Salman ITB bersama Bang Imad sebagai pertumbuhan tunas, HMI MPO 1986–1988 sebagai penguatan, serta TPUA dan KORLABI sebagai bagian dari perkembangan perjalanan.

Menurutnya, perjuangan tidak cukup berhenti pada semangat awal. Perjuangan harus tumbuh, berkembang, dan menghasilkan manfaat.

📊 Tujuh Variabel untuk Mengukur Konsistensi Perjuangan

Dari lima pelajaran tersebut, BES kemudian merumuskan tujuh variabel untuk mengukur konsistensi perjuangan menegakkan ajaran Islam.

  1. Ru’ya Bil Haqq

Memiliki cita-cita perjuangan yang benar. Bukan sekadar mengejar Rp100 miliar, jabatan, proyek, atau keuntungan pribadi, melainkan memperjuangkan tegaknya ajaran Islam, persatuan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, serta kehidupan berdasarkan petunjuk Allah.

Termasuk cita-cita menjalankan tujuh rukun kepemimpinan, Istikhlaf, Tamkin, Tabdil, dan mencapai Fauzul Azim, yaitu kemenangan agung berupa keridaan Allah dan surga-Nya.

Ukuran konsistensi: Apakah cita-cita perjuangan masih sama sejak 1979 hingga 2026?

  1. Fa Alima Ma Lam Ta’lamu

Menyadari bahwa pengetahuan manusia terbatas, sedangkan Allah Maha Mengetahui.

Kesadaran ini harus melahirkan ketaatan, kerendahan hati, ikhtiar, dan tawakal.

Ukuran konsistensi: Apakah masih menyadari keterbatasan pengetahuan manusia dan menjadikan Allah sebagai sumber petunjuk?

  1. Fathan Qariba dan Fathan Mubina

Memiliki keyakinan bahwa perjuangan membutuhkan proses, kesabaran, dan ikhtiar.

Hudaibiyah, Khaibar, Umrah Qadha, dan Fathu Makkah menjadi contoh sejarah mengenai proses kemenangan.

Ukuran konsistensi: Apakah tetap berjuang ketika menghadapi kesulitan tanpa kehilangan keyakinan dan harapan?

  1. Liyudh-hirahu Alad Dini Kullihi Wa Kafa Billahi Syahida

Meyakini bahwa Allah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.

Bil Huda Wa Dinil Haqq menjadi dasar perjuangan, sedangkan Liyudh-hirahu Alad Dini Kullihi menggambarkan janji Allah tentang kemenangan agama yang benar.

Wa Kafa Billahi Syahida mengingatkan bahwa Allah adalah saksi yang paling mencukupi.

Ukuran konsistensi: Apakah petunjuk Allah tetap menjadi pedoman utama, bukan kepentingan duniawi dan keuntungan pribadi?

  1. Asyidda’u Alal Kuffar Ruhamau Bainahum

Memiliki ketegasan terhadap pihak yang memusuhi kebenaran, sekaligus menjaga kasih sayang kepada sesama.

Prinsip ini harus diwujudkan melalui keberanian menghadapi ketidakadilan, penjajahan, praktik oligarki yang merugikan rakyat, dan penyimpangan kekuasaan.

Namun, ketegasan harus tetap disertai akhlak, keadilan, dan tanggung jawab.

Ukuran konsistensi: Apakah masih mampu bersikap tegas terhadap ketidakadilan sekaligus menjaga persaudaraan?

  1. Rukka’an Sujjadan Yabtaghuna Fadhlan Minallahi Wa Ridhwana

Menjadikan ibadah sebagai fondasi perjuangan.

Rukuk dan sujud harus tercermin dalam pelaksanaan salat, ketundukan, dan ketaatan kepada Allah.

Tujuan perjuangan adalah mencari karunia dan keridaan Allah, bukan mengejar Rp100 miliar, jabatan, proyek, atau keuntungan pribadi.

BES juga mengangkat angka 75% tidak salat dan 73% tidak bisa membaca Al-Qur’an sebagai bahan refleksi. Angka tersebut perlu disertai sumber penelitian yang dapat diverifikasi apabila digunakan sebagai fakta publik.

Ukuran konsistensi: Apakah salat, membaca Al-Qur’an, dan ketaatan masih menjadi bagian nyata dalam kehidupan?

  1. Kazar’in Akhraja Syath’ahu Fa Azarahu Fastaghladha Fastawa Ala Suqihi

Menjaga proses pertumbuhan perjuangan sebagaimana benih yang mengeluarkan tunas, semakin kuat, semakin besar, dan akhirnya tegak kokoh.

BES menghubungkan tahapan tersebut dengan perjalanan LDK 1 HMI Cibadak 1979, LMD Salman ITB bersama Bang Imad, HMI MPO 1986–1988, TPUA, dan KORLABI.

Ukuran konsistensi: Apakah perjuangan terus berkembang, semakin kuat, tegak pada prinsip, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat?

🇮🇩 Konsistensi Harus Dibuktikan dengan Integritas dan Manfaat

Dalam perspektif sosiologis dan biografis, BES menilai bahwa perjalanan panjang dalam organisasi dan dakwah tidak otomatis membuktikan seseorang istiqamah.

Konsistensi harus terlihat melalui kesesuaian antara cita-cita, ucapan, ibadah, tindakan, integritas, dan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, kritik terhadap pihak lain juga harus dilakukan secara adil. Istilah seperti buzzer, oligarki, dan dugaan praktik suap tidak boleh digunakan sebagai tuduhan tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keberhasilan perjuangan tidak semata-mata diukur dari banyaknya pihak yang merasa terganggu, tetapi dari kuatnya prinsip, kebenaran argumentasi, dan manfaat yang dihasilkan.

Perjuangan menegakkan ajaran Islam juga harus tetap menjunjung akhlak, keadilan, persaudaraan, serta persatuan bangsa.

🤲 Penutup: Menjaga Manisnya Iman, Islam, dan Ikhsan

Melalui refleksi QS. Al-Fath ayat 27–29, BES menegaskan bahwa tujuh variabel konsistensi merupakan ukuran penting dalam perjalanan perjuangan.

Ketujuh variabel tersebut adalah Ru’ya Bil Haqq, Fa Alima Ma Lam Ta’lamu, Fathan Qariba dan Fathan Mubina, Liyudh-hirahu Alad Dini Kullihi Wa Kafa Billahi Syahida, Asyidda’u Alal Kuffar Ruhamau Bainahum, Rukka’an Sujjadan Yabtaghuna Fadhlan Minallahi Wa Ridhwana, serta Kazar’in Akhraja Syath’ahu Fa Azarahu Fastaghladha Fastawa Ala Suqihi.

Dari LDK 1 HMI Cibadak 1979, LMD Masjid Salman ITB bersama Bang Imaduddin Abdulrahim, HMI MPO 1986–1988, TPUA, KORLABI, hingga Selasa, 3 November 2026, perjalanan tersebut menjadi bahan introspeksi untuk menjaga keimanan dan konsistensi.

Bagi BES, perjuangan bukan perlombaan memperoleh kekuasaan dan kekayaan, melainkan perjalanan panjang menjaga iman, Islam, Ikhsan, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu, kalimat dalam Surah Ar-Rahman kembali menjadi pengingat:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?”

Alhamdulillah, semua nikmat berasal dari Allah. Bukan karena kekayaan, jabatan, maupun pujian manusia, melainkan karena karunia Allah yang senantiasa harus disyukuri.

Wallahu A’lam Bishawab.

🤲 Salam Jihad dan Sabar, BES – Brother Eggi Sudjana.