Sumpah Pemuda dalam Perspektif Islam: Memilih Sahabat yang Menyelamatkan, Bukan yang Mencelakakan

Okt 28, 2026

Oleh: Prof. Eggi Sudjana – Brother Eggi Sudjana (BES)

Pikiranmerdeka.com – JAKARTA, Rabu, 28 Oktober 2026 |

Memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda, Prof. Eggi Sudjana atau Brother Eggi Sudjana (BES) mengajak masyarakat merenungkan makna persahabatan, persatuan, dan pengaruh lingkungan melalui tadabur Al-Qur’an, khususnya Surah As-Saffat ayat 51–57.

Dalam refleksi Mutiara Hikmah kali ini, BES menyoroti konsep Qarin, yakni teman dekat atau pihak yang menyertai seseorang, yang dapat memberikan pengaruh terhadap keyakinan, perilaku, dan arah kehidupannya. Pesan tersebut dikaitkan dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menyatukan pemuda dari berbagai daerah dalam satu cita-cita kebangsaan.

📖 QS As-Saffat Ayat 51–57: Kisah Teman yang Hampir Mencelakakan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS As-Saffat [37] ayat 51:

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ

Qaala Qaailun Minhum Inni Kana Li Qarin.

“Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman.’”

Pada ayat berikutnya, teman tersebut mempertanyakan keyakinan tentang hari kebangkitan dan pertanggungjawaban setelah kematian.

QS As-Saffat [37]: 52 berbunyi:

يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ

Yaquulu A Innaka Laminal Musaddiqin.

“Yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Berbangkit)?’”

Pertanyaan itu dilanjutkan dalam ayat 53, yang mempertanyakan apakah manusia benar-benar akan dibangkitkan untuk menerima pembalasan setelah menjadi tanah dan tulang-belulang.

Dalam kelanjutan kisah pada ayat 54–55, seorang penghuni surga mengajak teman-temannya melihat keadaan sahabatnya tersebut. Ia kemudian melihat temannya berada di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala.

QS As-Saffat [37]: 56–57 selanjutnya mengungkapkan penyesalan:

“Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku. Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).”

Bagi BES, rangkaian ayat tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga keyakinan dan berhati-hati terhadap pengaruh orang-orang terdekat.

🌿 Qarin dan Pengaruh Teman dalam Kehidupan

Pemahaman mengenai Qarin juga dapat ditadaburi melalui beberapa ayat lainnya, antara lain QS Az-Zukhruf [43]: 36, QS Qaf [50]: 27, dan QS An-Nisa [4]: 38.

QS Az-Zukhruf menjelaskan tentang orang yang berpaling dari peringatan Allah dan disertai setan sebagai Qarin. Sementara itu, QS Qaf menggambarkan Qarin yang berlepas diri, dan QS An-Nisa mengingatkan tentang buruknya menjadikan setan sebagai teman.

Pesan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kisah dua pemilik kebun dalam QS Al-Kahfi [18]: 34–42. Dalam kisah itu, seseorang membanggakan kekayaan dan pengikutnya, sedangkan temannya mengingatkan agar ia tidak melupakan Allah.

BES menekankan bahwa pengaruh teman tidak hanya terbatas pada pergaulan langsung. Lingkungan sosial, tokoh panutan, informasi, dan media digital juga dapat membentuk cara berpikir serta tindakan seseorang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Al-Mar’u ‘Ala Dini Khalilihi.

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya.”

Karena itu, memilih sahabat dan lingkungan yang baik menjadi bagian penting dalam menjaga prinsip, perilaku, dan tanggung jawab kepada Allah.

⚠️ Peringatan terhadap Pengaruh yang Menyesatkan

Pesan QS As-Saffat ayat 56 tentang teman yang hampir mencelakakan memiliki kesesuaian makna dengan QS Al-Furqan [25]: 28–29. Ayat tersebut menggambarkan penyesalan seseorang karena menjadikan teman dekat yang menyesatkannya dari peringatan Allah.

Sementara itu, QS Al-Ahzab [33]: 67 menggambarkan penyesalan manusia yang mengikuti pemimpin dan pembesar yang menjauhkan mereka dari jalan yang benar.

Dalam konteks kehidupan sekarang, pesan tersebut relevan untuk mengingatkan masyarakat agar bersikap kritis terhadap pengaruh sosial, politik, ekonomi, maupun informasi di media sosial.

Pengaruh yang mendorong kebencian, korupsi, kesombongan, dan pembenaran terhadap kezaliman perlu diwaspadai. Namun, penilaian terhadap individu atau kelompok tetap harus dilakukan secara objektif dan didukung bukti yang memadai.

🤲 Nikmat Allah sebagai Jalan Keselamatan

Dalam QS As-Saffat [37]: 57, penghuni surga menyadari bahwa nikmat Allah telah menyelamatkannya dari nasib yang dialami temannya.

BES menghubungkan pesan ini dengan tiga doa Nabi Sulaiman dalam QS An-Naml [27]: 19, yang sebelumnya dibahas dalam Mutiara Hikmah Senin, 26 Oktober 2026.

Ketiga doa tersebut memohon agar Allah memberikan kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya, mengerjakan amal saleh yang diridai-Nya, serta memasukkan hamba-Nya ke dalam golongan orang-orang saleh melalui rahmat-Nya.

Menurut refleksi tersebut, keselamatan tidak semata-mata bergantung pada kemampuan manusia, tetapi juga pada hidayah, syukur, amal saleh, dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

🇮🇩 Sumpah Pemuda: Memilih Perjuangan yang Menyatukan

Dalam kaitannya dengan sejarah bangsa, BES mengajak masyarakat melihat Sumpah Pemuda sebagai teladan persatuan dan pilihan perjuangan bersama.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia mengikrarkan tiga pernyataan bersejarah:

  1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
  2. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
  3. Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Ikrar tersebut menyatukan pemuda dari berbagai latar belakang, termasuk Jawa, Sunda, Batak, Ambon, Sulawesi, Makassar, Papua, Sumatera, dan Kalimantan, dalam satu identitas kebangsaan.

Dalam perspektif tadabur, semangat Sumpah Pemuda dapat dimaknai sebagai pilihan untuk membangun persahabatan dan perjuangan yang menguatkan persatuan, bukan perpecahan.

Persatuan pemuda menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan panjang perjuangan bangsa menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, atau 17 tahun setelah Sumpah Pemuda.

🌏 Tantangan Pemuda Indonesia pada 2026

Setelah 98 tahun berlalu, tantangan generasi muda semakin beragam. Pengaruh tidak hanya datang dari teman secara langsung, tetapi juga dari media sosial, informasi digital, tokoh publik, kelompok, serta kepentingan ekonomi dan politik.

Karena itu, pemuda perlu memperkuat ilmu, akhlak, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kemampuan membedakan kritik yang membangun dari informasi yang menyesatkan.

BES mengingatkan pentingnya menghindari pengaruh yang mendorong riya, ujub, korupsi, kebencian, atau sikap mengabaikan tanggung jawab agama dan sosial. Pada saat yang sama, setiap kritik dan perbedaan pendapat perlu disikapi secara objektif agar tidak menimbulkan tuduhan tanpa dasar.

🕊️ Menjaga Warisan Persatuan

Melalui tadabur QS As-Saffat [37]: 51–57, BES mengajak generasi muda menjadikan persahabatan, lingkungan, dan pengaruh kehidupan sebagai bahan introspeksi.

Qarin yang baik adalah pengaruh yang menguatkan iman, ilmu, kejujuran, amal saleh, tanggung jawab, dan persatuan. Sebaliknya, pengaruh yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan mendorong perpecahan harus diwaspadai.

Semangat Sumpah Pemuda 1928 menjadi teladan bahwa perbedaan suku dan daerah dapat disatukan oleh cita-cita bersama. Generasi muda saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan tersebut melalui sikap kritis, akhlak yang baik, dan semangat kebangsaan.

Menutup Mutiara Hikmah pada Rabu, 28 Oktober 2026, BES mengajak masyarakat memilih sahabat dan lingkungan yang membawa kepada kebaikan, memperkuat persatuan, serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallahu A’lam.

🇮🇩 Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Salam Jihad dan Sabar,

BES – Brother Eggi Sudjana