Reksa Dana di Tengah Gejolak Global: Pasar Uang Jadi Pilihan Utama Investor

Apr 29, 2026

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi pasar saham, dan pelemahan nilai tukar rupiah, industri reksa dana nasional menghadapi tantangan yang cukup berat. Kondisi ini membuat investor semakin selektif dalam menentukan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan mereka.

Sebagai salah satu instrumen investasi populer, reksa dana tentu tidak luput dari dampak gejolak pasar. Berdasarkan data Infovesta, kinerja reksa dana saat ini bergerak beragam, tergantung pada jenis aset yang menjadi portofolionya. Ada yang mampu bertahan stabil, namun tidak sedikit pula yang mengalami tekanan.

Reksa Dana Pasar Uang Tetap Bersinar

Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, reksa dana pasar uang kembali membuktikan diri sebagai pilihan favorit investor. Produk ini menawarkan stabilitas yang sulit ditandingi oleh kelas aset lainnya.

Data Infovesta periode 23 April 2025 hingga 23 April 2026 mencatat, terdapat 138 produk reksa dana pasar uang dengan dana kelolaan rata-rata di atas Rp.10 miliar. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen yang likuid dan relatif aman.
Dari sisi kinerja, reksa dana pasar uang mencatatkan imbal hasil satu tahun di kisaran 3,9% hingga 5,8%. Dalam jangka tiga tahun, return-nya bahkan konsisten berada di rentang 12% hingga 16%.

Beberapa produk unggulan juga mencatatkan performa menarik. BNI-AM Dana Pasar Uang Kemilau Kelas A, misalnya, membukukan imbal hasil 13,83% dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, BNI-AM Dana Lancar Syariah mencatat return bulanan tertinggi sebesar 0,62%, dengan dana kelolaan mencapai Rp.95,3 miliar.
Meski angka return bulanan terlihat relatif kecil, kestabilan inilah yang justru menjadi nilai utama bagi investor, terutama di saat pasar sedang bergejolak.

Reksa Dana Saham Hadapi Tekanan

Berbeda dengan pasar uang, reksa dana saham saat ini berada dalam tekanan yang cukup besar. Ketidakpastian global, meningkatnya tensi geopolitik, serta arus keluar dana asing dari pasar domestik turut memengaruhi kinerjanya.
Chief Investment Officer BNI Asset Management, Farash Farich, mengungkapkan bahwa sebelum gejolak terjadi, reksa dana saham aktif mampu memberikan imbal hasil tahunan di atas 20%. Namun saat ini, angka tersebut turun signifikan menjadi sekitar 9% hingga 12%.

“Net outflow tersebut berkontribusi terhadap koreksi harga aset yang kemudian berdampak pada nilai aktiva bersih,” ujarnya.

Meski demikian, masih ada sejumlah produk yang mencatatkan kinerja impresif. Pacific Saham Syariah, misalnya, membukukan return 124,75% dalam satu tahun, sedangkan Pacific Saham Syariah II mencatatkan kenaikan hingga 141,24%.

Namun, tingginya return tersebut lebih banyak merupakan hasil dari reli pasar pada periode sebelumnya.

Dalam kondisi terkini, volatilitas reksa dana saham tetap sangat tinggi, dengan koreksi harian yang dapat mencapai 2% hingga 5%.

Tak heran jika investor disarankan untuk lebih berhati-hati. Menurut Farash, saat ini pendekatan terbaik adalah menunggu hingga kondisi pasar kembali lebih kondusif sebelum masuk ke reksa dana saham maupun campuran.

Reksa Dana Obligasi Tetap Defensif

Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi masih menjadi alternatif defensif di tengah turbulensi pasar. Meski tekanan tetap ada akibat tingginya suku bunga global, penguatan dolar AS, dan arus modal keluar dari negara berkembang, kinerjanya relatif lebih stabil dibandingkan reksa dana saham.

Data Infovesta menunjukkan, imbal hasil reksa dana pendapatan tetap dalam satu tahun berada di kisaran 3% hingga 6,6%, sedangkan kinerja tiga tahunnya mencapai 5% hingga 11%.

Beberapa produk unggulan antara lain Allianz Fixed Income Fund 2 dengan return 6,61% per tahun, AXA Bond Income Kelas O sebesar 6,38%, serta AXA Obligasi Dollar di level 5,87%.
Produk berbasis dolar juga memberikan manfaat diversifikasi, terutama saat rupiah melemah. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko fluktuasi nilai tukar dan perubahan arah kebijakan moneter global.

Strategi Investasi di Masa Volatilitas

Melihat kondisi saat ini, reksa dana pasar uang masih menjadi pilihan paling stabil dan konsisten. Produk ini cocok bagi investor yang mengutamakan keamanan dan likuiditas.
Reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi opsi defensif bagi mereka yang menginginkan potensi imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang masih terukur.

Adapun reksa dana saham tetap menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang, namun membutuhkan kesiapan menghadapi volatilitas yang tinggi.

Pada akhirnya, pemilihan reksa dana harus disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan horizon waktu masing-masing investor. Di tengah pasar yang bergejolak, prinsip kehati-hatian tetap menjadi kunci utama.

Editor: Agusto Sulistio
Sumber: Bloomberg