Guru kita satu per-satu pergi dan tak pernah tahu apa yang kita lakukan? Aku di jalanan, kau di kabinet, kamu di perusahaan, engkau di negara lain, itu semua sudah dibayangkan.
Oleh: Agusto Sulistio.
Kadang, sejarah tak selalu lahir dari gedung mewah, justru tumbuh dari lorong sempit, dari rumah sederhana yang nyaris luput dari perhatian jaman. Dan Indonesia pernah memiliki satu rumah kecil seperti itu.
Di kawasan Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana berukuran kurang lebih 9×13 meter. Tidak luas. Tidak mewah. Kamar-kamarnya sempit, ruang tamunya kecil, dan suasananya jauh dari kesan elit. Namun siapa sangka, dari rumah itulah lahir tokoh-tokoh yang kelak menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia.
Di rumah itu, seorang pemuda bernama Soekarno pernah tidur beralaskan tikar di kamar tanpa jendela. Di meja makan yang sama, duduk pula Musso dan Semaun yang kemudian menjadi tokoh penting gerakan komunisme Indonesia.
Tak jauh dari mereka, ada S.M. Kartosoewirjo yang kelak mendirikan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Mereka datang dari jalan pikiran yang berbeda, bahkan saling bertentangan di kemudian hari. Tetapi semuanya pernah belajar dari guru yang sama.
Guru itu bernama HOS Tjokroaminoto. Nama lengkapnya Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Ia lahir di Ponorogo, Jawa Timur, pada 16 Agustus 1882, dari keluarga priyayi yang memiliki kedekatan dengan lingkungan birokrasi dan bangsawan Jawa. Ayahnya seorang wedana, sementara garis keluarganya tersambung dengan kalangan elite Mataram.
Namun Tjokroaminoto memilih jalan yang berbeda. Ia tidak ingin sekadar menjadi bangsawan yang nyaman hidup di bawah sistem kolonial.
Pendidikan modern yang ia tempuh di OSVIA Magelang, sekolah calon pamong praja bentukan Belanda justru membuatnya semakin memahami bagaimana rakyat pribumi diperlakukan tidak adil.
Ia sempat bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi, tetapi tidak bertahan lama. Ada kegelisahan besar dalam dirinya. Ia merasa tidak cocok menjadi bagian dari sistem yang menurutnya hanya memperkuat penindasan terhadap rakyat sendiri.
Pada 1906, ia pindah ke Surabaya. Di kota perdagangan yang ramai itu, hidupnya berubah. Sambil bekerja di perusahaan Kooy & Co, ia aktif dalam Sarekat Islam yang saat itu awalnya hanya organisasi pedagang pribumi Muslim. Di tangan Tjokroaminoto, Sarekat Islam berkembang menjadi gerakan politik rakyat terbesar di Hindia Belanda.
Pidato-pidatonya dikenal luar biasa. Ia berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami rakyat kecil, tetapi penuh kekuatan dan keberanian. Ia mampu membakar semangat masyarakat yang selama ratusan tahun hidup di bawah tekanan kolonialisme. Tidak heran bila pemerintah Belanda mulai menganggapnya ancaman serius.
Belanda bahkan menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java Raja Jawa Tanpa Mahkota.
Namun yang paling menarik dari Tjokroaminoto bukan hanya soal kemampuan politiknya. Yang membuatnya berbeda adalah caranya membangun ruang berpikir.
Rumahnya di Gang Peneleh berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Para pemuda dari berbagai latar belakang datang, tinggal, belajar, dan berdebat hampir setiap malam. Mereka berbicara tentang Islam, nasionalisme, sosialisme, kolonialisme, hingga masa depan kemerdekaan Indonesia.
Di rumah itu pula Soekarno muda belajar seni berbicara kepada rakyat.
Konon, Soekarno sering memperhatikan setiap gerakan tangan Tjokroaminoto saat berpidato. Ia mempelajari cara gurunya menyusun kalimat, memainkan emosi massa, hingga membangun pengaruh lewat kata-kata. Bahkan diceritakan, Soekarno kerap berlatih pidato sendiri pada malam hari hingga membuat penghuni kos lain terbangun.
Apa yang dilakukan Soekarno ternyata bukan hal sia-sia. Kelak ia menjadi salah satu orator terbesar dalam sejarah Indonesia.
Tetapi sejarah tidak berhenti di sana, yang luar biasa sekaligus ironis, murid-murid Tjokroaminoto kemudian berjalan ke arah ideologi yang sangat berbeda.
Musso, Semaun, dan Alimin memilih jalur komunisme revolusioner. Tan Malaka tumbuh menjadi tokoh kiri internasional yang paling diburu pemerintah kolonial di Asia. Kartosoewirjo bergerak ke arah Islam politik dan mendirikan DI/TII. Sedangkan Soekarno membangun nasionalisme yang mencoba merangkul semuanya.
Mereka pernah duduk di meja yang sama, tetapi akhirnya berdiri di medan sejarah yang saling berhadapan.
Pada 1948, Musso memimpin Pemberontakan Madiun melawan pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno. Musso akhirnya tewas ditembak.
Beberapa tahun kemudian, Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia dan memimpin pemberontakan DI/TII selama bertahun-tahun. Ironisnya, pada 1962, Soekarno menandatangani hukuman mati bagi mantan teman satu rumahnya sendiri.
Sejarah seperti sedang memperlihatkan satu kenyataan besar, gagasan yang lahir dari ruang yang sama bisa tumbuh menjadi arah perjuangan yang sangat berbeda.
Mungkin di situlah letak kebesaran seorang Tjokroaminoto, ia tidak mendidik murid-muridnya menjadi manusia yang seragam. Ia tidak membentuk mereka menjadi pengikut yang mengiyakan gurunya.
Ia justru melahirkan manusia-manusia yang berani berpikir, berani mengambil jalan sendiri, meski jalan itu saling bertabrakan.
Prinsip hidupnya terkenal hingga hari ini, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
Kalimat itu bukan semata slogan, namun gambaran tentang bagaimana perjuangan harus dibangun dengan ilmu, moral, dan kecerdikan.
Bila kita tarik ke kondisi Indonesia hari ini, pelajaran dari rumah kecil di Gang Peneleh terasa semakin relevan. Kita hidup di jaman ketika arus informasi bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan masyarakat memeriksa kebenaran. Narasi sering kali berlari mendahului fakta. Potongan video pendek, judul provokatif, potongan pidato, hingga opini yang belum tentu utuh, dapat dalam hitungan menit membentuk kemarahan publik.
Media sosial membuat semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua orang mau memeriksa. Akibatnya, ruang diskusi publik sering berubah menjadi ruang saling curiga. Orang lebih mudah menghakimi daripada memahami. Bahkan tokoh, agama, pemerintah, dan sejarah pun kerap dinilai hanya dari potongan-potongan informasi yang belum tentu lengkap.
Di tengah situasi seperti itu, sosok Tjokroaminoto memberi pelajaran penting bahwa bangsa besar tidak dibangun dari kebencian yang terburu-buru, melainkan dari tradisi berpikir yang matang. Rumah kos kecilnya dahulu bukan tempat menyeragamkan pikiran, tetapi tempat melatih keberanian berdiskusi, berbeda pendapat, dan mempertanggungjawabkan gagasan.
Perbedaan ideologi di antara murid-muridnya memang akhirnya melahirkan benturan sejarah. Namun dari sana kita belajar bahwa perdebatan gagasan adalah bagian dari perjalanan bangsa. Yang berbahaya justru ketika masyarakat berhenti berpikir jernih dan lebih memilih terseret oleh arus emosi sesaat.
Hari ini, kita sering menyaksikan seseorang dipuja setinggi langit pagi hari, lalu dihancurkan habis-habisan pada malam harinya hanya karena satu narasi viral.
Banyak orang lebih cepat membagikan informasi daripada memeriksa sumbernya. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya membenci atau mendukung sesuatu bukan karena memahami persoalan, tetapi karena mengikuti arus kelompoknya.
Padahal sejarah Indonesia sendiri mengajarkan bahwa bangsa ini pernah berkali-kali mengalami perpecahan besar akibat pertarungan narasi dan ideologi.
Karena itu, rumah kecil di Peneleh seharusnya tidak hanya dikenang sebagai museum sejarah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kemajuan bangsa membutuhkan masyarakat yang mau belajar berpikir mendalam, bukan sekadar bereaksi cepat.
Sayangnya, Tjokroaminoto tidak sempat menyaksikan bagaimana murid-muridnya mengubah sejarah Indonesia. Kesehatannya terus menurun akibat aktivitas politik yang padat. Ia wafat pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta, dalam usia 52 tahun.
Namun pengaruhnya tidak pernah benar-benar mati.
Tiga puluh tahun setelah kepergiannya, Soekarno murid yang dulu belajar pidato di rumah kos kecilnya menetapkan HOS Tjokroaminoto sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Kini rumah di Gang Peneleh itu telah menjadi museum sejarah. Dindingnya masih berdiri. Pintunya masih dicat hijau seperti masa lalu. Tetapi nilai terbesar rumah itu bukan pada bangunannya. Melainkan pada pesan yang ditinggalkannya.
Bahwa perubahan besar bangsa kadang lahir dari tempat yang sederhana. Bahwa seorang guru sejati bukan diukur dari banyaknya murid yang selalu sepakat dengannya, melainkan dari kemampuannya melahirkan generasi yang berani berpikir sendiri.
Hari ini kita berada dijalan yang berbeda meski dahulu kita pernah satu meja rumah pergerakan.
Guru kita satu per-satu pergi dan tak pernah tahu apa yang kita lakukan? Aku di jalanan, kau di kabinet, kamu di perusahaan, engkau di negara lain, itu semua sudah dibayangkan oleh Guru kita.
Yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu kita adalah membiarkan isu dan narasi bergerak tanpa kita tahu kebenarannya.
Salam Merdeka.
Kalibata, Minggu 31 Mei 2026, 17:18 Wib.