Respons Insiden Tragis Tapir Dilindungi, Muhammadiyah Green Movement Lampung Perkuat Edukasi Konservasi dan Gerakan Pelestarian Lingkungan

Jul 8, 2026

PIKIRANMERDEKA.COM, Lampung – Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Muhammadiyah Green Movement Wilayah Lampung sebagai rangkaian puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, menjadi langkah nyata Muhammadiyah dalam memperkuat gerakan pelestarian lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem, menyusul terjadinya insiden tragis perburuan seekor tapir yang merupakan satwa langka dilindungi.

Program ini merupakan kolaborasi antara MLH PP Muhammadiyah dengan Lazismu Pusat yang memiliki pilar program di bidang lingkungan hidup, serta didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Rangkaian kegiatan meliputi Bimbingan Teknis (Bimtek) Sekolah Adiwiyata, penanaman pohon produktif, Sekolah Konservasi, dan Pelatihan Kader Lingkungan (PKL) bagi kader Muhammadiyah se-Provinsi Lampung.

Ketua Pelaksana yang juga Ketua MLH PWM Lampung, Antoniyus Cahyalana, M.IP., menjelaskan bahwa Muhammadiyah Green Movement merupakan bentuk komitmen nyata Persyarikatan Muhammadiyah dalam membangun budaya peduli lingkungan yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, organisasi otonom, hingga masyarakat.

Kegiatan diawali dengan Bimbingan Teknis Sekolah Adiwiyata di Universitas Muhammadiyah Lampung yang diikuti sekitar 50 peserta dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di Provinsi Lampung. Acara dibuka oleh Sekretaris MLH PP Muhammadiyah, Djihadul Mubarok, S.E., M.H., kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Antoniyus Cahyalana, M.IP., Sigit Atmojo, M.Pd. dari Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Firdaus Amarsyah dari Lazismu Wilayah Lampung, Prof. Dr. Muhammad Fuad dari Dikdasmen dan PNF PWM Lampung, serta Sekretaris PWM Lampung, Drs. Ma’ruf Abdidin, M.Si.

Hadir pula Rektor Universitas Muhammadiyah Lampung, Dr. H. Dalman, M.Pd., bersama jajaran pimpinan Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, warga persyarikatan, serta para tamu undangan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi dari Waliyah, S.E. dari Kementerian Lingkungan Hidup RI, Sigit Atmojo, M.Pd., serta Djihadul Mubarok, S.E., M.H., mengenai implementasi Sekolah Adiwiyata sebagai upaya membangun sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Program Sekolah Adiwiyata diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, ramah lingkungan, sekaligus membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam sejak usia dini.

Usai pelaksanaan Bimtek, seluruh peserta bersama pimpinan Muhammadiyah melakukan penanaman pohon produktif di lingkungan Universitas Muhammadiyah Lampung. Penanaman dilakukan oleh Djihadul Mubarok, Dr. H. Dalman, Sigit Atmojo, Antoniyus Cahyalana, serta seluruh peserta Bimtek.

Gerakan penghijauan tersebut menjadi simbol komitmen Muhammadiyah dalam mengurangi dampak perubahan iklim, meningkatkan tutupan hijau, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Perhatian utama dalam Muhammadiyah Green Movement tahun ini tertuju pada peristiwa tragis yang terjadi di Lampung, ketika seekor tapir, satwa langka yang dilindungi undang-undang, menjadi korban perburuan liar dan diolah menjadi makanan oleh warga akibat minimnya pengetahuan mengenai status perlindungan satwa tersebut.

Peristiwa tersebut dinilai menjadi peringatan serius bahwa konflik antara manusia dengan satwa liar semakin meningkat. Berkurangnya habitat akibat deforestasi dan pembukaan lahan menyebabkan berbagai satwa keluar dari kawasan hutan dan memasuki permukiman warga, sehingga rentan menjadi korban.

MLH PP Muhammadiyah menilai kondisi tersebut tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan penegakan hukum semata, melainkan harus dibarengi edukasi yang masif kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi keanekaragaman hayati.

Melalui Sekolah Konservasi dan Pelatihan Kader Lingkungan, peserta yang berasal dari MLH PDM se-Provinsi Lampung, Aisyiyah, serta organisasi otonom Muhammadiyah memperoleh pembekalan mengenai konservasi satwa liar, mitigasi konflik manusia dengan satwa, hingga strategi pelestarian habitat.

Materi konservasi disampaikan oleh Sapto Adji Prabowo dari Kementerian Kehutanan RI. Para peserta dibekali pengetahuan mengenai pentingnya menjaga satwa endemik Sumatra serta teknik edukasi masyarakat agar mampu hidup berdampingan dengan satwa liar tanpa menimbulkan konflik.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya dapat disalahkan ketika belum memahami pentingnya perlindungan satwa. Oleh karena itu, edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat memahami bahwa menjaga alam dan keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan kehidupan.

Lampung memiliki posisi strategis sebagai wilayah penyangga berbagai kawasan konservasi yang menjadi habitat satwa-satwa dilindungi seperti gajah Sumatra, harimau Sumatra, tapir, dan berbagai satwa endemik lainnya. Karena itu, keterlibatan masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi faktor penting dalam keberhasilan upaya konservasi.

Melalui Pelatihan Kader Lingkungan, Muhammadiyah berharap masyarakat tidak lagi memandang satwa liar sebagai ancaman maupun komoditas, tetapi sebagai bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga bersama.

Selain isu konservasi satwa, Muhammadiyah Green Movement juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan pengelolaan sampah yang hingga kini menjadi tantangan di berbagai daerah.

Materi mengenai pengelolaan sampah disampaikan oleh Fazri Putrantomo dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Peserta memperoleh pembelajaran mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pengurangan sampah dari sumbernya, serta strategi membangun budaya pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga, ranting, cabang, hingga tingkat kabupaten, kota, dan provinsi.

MLH PP Muhammadiyah berharap para kader yang telah mengikuti pelatihan mampu menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi produksi sampah sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya ekonomi sirkular dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Pelatihan juga menghadirkan materi Green Leadership yang disampaikan oleh Sekretaris PWM Lampung, Drs. Ma’ruf Abdidin, M.Si., mengenai pentingnya membangun kepemimpinan yang berwawasan lingkungan sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah.

Sementara itu, Rijal Ramdani, Ph.D. dari MLH PP Muhammadiyah memberikan materi mengenai Pengelolaan Hutan Lestari yang Berkemajuan sebagai bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui Muhammadiyah Green Movement, tiga pilar utama dikembangkan secara terpadu, yaitu Sekolah Adiwiyata untuk membangun karakter peduli lingkungan sejak dini, Pelatihan Kader Lingkungan sebagai pembentukan agen perubahan di tengah masyarakat, serta Sekolah Konservasi yang memberikan kemampuan teknis dalam mitigasi konflik satwa dan pelestarian habitat.

Ketiga program tersebut diharapkan mampu melahirkan kader-kader lingkungan yang tidak hanya memahami teori konservasi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari melalui edukasi, pendampingan masyarakat, dan advokasi terhadap pelestarian lingkungan.

Muhammadiyah menegaskan bahwa bumi saat ini menghadapi tantangan besar akibat kerusakan lingkungan yang semakin meluas. Hilangnya kawasan hutan menyebabkan satwa-satwa kehilangan habitat alami, termasuk tapir yang memiliki peran penting sebagai penyebar biji tanaman dan penjaga regenerasi hutan secara alami.

Melalui kolaborasi antara Muhammadiyah, Lazismu, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, dunia pendidikan, dan masyarakat, diharapkan tidak ada lagi peristiwa tragis yang menimpa satwa-satwa dilindungi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat.

Gerakan ini menjadi awal lahirnya kader-kader lingkungan Muhammadiyah di Lampung yang siap mengedukasi masyarakat, menjaga kelestarian alam, mengurangi konflik manusia dengan satwa liar, serta menggerakkan budaya peduli lingkungan demi menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.