Tanggal 1 Juni 1998, atau tepat 28 tahun lalu, rakyat dan mahasiswa Semarang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Rakyat Semarang (AMRS) memperingati Hari Lahir Pancasila di Halaman Kantor Gubernur Prov Jateng – DPRD I Prov. Jateng, Jl. Pahlawan, Kota Semarang.
Momentum itu menjadi sangat bersejarah, karena merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila pertama setelah runtuhnya rezim Orde Baru di bawah Soeharto pada 21 Mei 1998.
Saat itu, suasana bangsa masih dipenuhi gejolak. Reformasi baru saja dimulai. Euforia tumbangnya rezim bercampur dengan ketidakpastian arah bangsa ke depan. Di tengah situasi tersebut, mahasiswa dan rakyat bergerak bukan hanya untuk merayakan kemenangan reformasi, tetapi juga menjaga agar cita-cita perubahan tidak berhenti di tengah jalan.
Sebagai bagian dari Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila AMRS mengundang alm Permadi, SH serta Kuldip Singh sebagai tamu kehormatan dan simbol aktivis pro rakyat. Panitia saat itu menilai keduanya memiliki konsistensi perjuangan yang nyata terhadap penderitaan rakyat kecil.
Permadi dikenal aktif menyuarakan kepentingan rakyat dan berani mengkritik kekuasaan. Sementara Kuldip Singh, aktivis muda yang baru saja bebas dari penjara rezim otoritarian Orde Baru, dipandang sebagai sosok yang teguh melawan penindasan dan tetap setia pada perjuangan rakyat.
Kehadiran keduanya membangkitkan semangat AMRS untuk terus melanjutkan agenda reformasi. Dari Semarang, semangat perjuangan itu kemudian bergerak menuju Jakarta dan bergabung dengan simpul gerakan lainnya. Bersama berbagai simpul gerakan mahasiswa dan rakyat, kami membawa tuntutan besar saat itu, mendesak digelarnya Sidang Istimewa dan Pemilu yang demokratis.
Di antara rekan-rekan seperjuangan kala itu terdapat nama-nama seperti Sinal Blegur dari PRD Unika Soegijapranata, Wirayanti dari PRD Undip, Zakaria Al Anshori dari Pijar IAIN Walisongo, Dadang dari Pijar Undip, saya (penulis), serta berbagai elemen gerakan lainnya yang turut menjadi bagian dari denyut reformasi.
Perjalanan perjuangan itu kemudian membawa kami pada fase-fase penting sejarah bangsa, termasuk lahirnya gelombang aksi besar yang berujung pada Peristiwa Semanggi I dan disusul Semanggi II. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa reformasi tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari keberanian, pengorbanan, dan idealisme banyak anak bangsa.
Kini, setelah hampir tiga dekade berlalu, banyak hal telah berubah. Namun semangat zaman itu tetap relevan, bahwa demokrasi harus terus dijaga, suara rakyat tidak boleh dibungkam, dan Pancasila semestinya hidup dalam keberpihakan terhadap keadilan sosial, bukan sekadar slogan seremonial.
Panitia AMRS 1998
(Mohon maaf bila ada nama yang belum tercatat)
Patria Rahmadi — GMNI Undip
Abdul Kadir Karding – PMII Undip
Agusto Sulistio — Pijar Semarang
Agung Ompong – PMKRI, Unika
Zakaria Al Anshori — Pijar IAIN Walisongo
Denni Sepvitian (Pijar, Undip)
Ichwan AR — GMNI Undip
Ova Muria Fatah — Pijar Unisula
Joko Restu — Pijar Unisula
Prapto — Poltek Undip
Cimot — Seni Rupa Unnes
Sinal Blegur — Unika Semarang
Dumadi – GMNI Undip
Dan berbagai kawan seperjuangan lainnya.
*Oleh: Agusto Sulistio dan berbagai sumber.