Kolaborasi PARFI 56 – Dompet Dhuafa Meradjoet Sendja -Persembahan Cinta Untuk Republik

Agu 14, 2026 #PARFI 56

Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Senja bukanlah akhir, melainkan peralihan menuju fajar baru. Semangat inilah yang diusung oleh orkestrasi kebangsaan spesial “Meradjoet Sendja”, yang digelar sebagai puncak program Bakti Seniman Nusantara.

Diproduseri dan disutradarai oleh aktris serta seniman Olivia Zalianty, pertunjukan ini adalah persembahan monumental yang meradjoet kembali benang-benang perjuangan para pendiri bangsa dan nilai-nilai kebangsaan untuk diwariskan kepada generasi penerus.

Olivia Zalianty, Sutradara dan Produser “meradjoet Sendja”, mengungkapkan bahwa ini adalah panggilan hatinya untuk menyambungkan kembali benang-benang perjuangan yang terpisah.

“Saya ingin penonton merasakan bahwa nilai-nilai para pendiri bangsa dan seniman masih hidup dan perlu dibawa ke masa depan. Ini adalah persembahan cinta saya dan suami saya, KGPH Ndaru Kusumo, untuk Republik Indonesia,” ujar Olivia, Jum’at (14/8/2026) di Gedung Filantropi, Jatipadang, Jakarta.

Mengusung ejaan kuno “Sendja” bukan tanpa alasan. Olivia Zalianty menjelaskan bahwa pemilihan ejaan ini secara artistik membawa nuansa visual dan emosional ke era awal kemerdekaan, memperkuat makna bahwa senja adalah masa peralihan di mana cahaya mungkin meredup, namun warisan tetap abadi.

“Meradjoet” dimaknai sebagai upaya menyambungkan kembali benang-benang pemikiran yang terpisah, sementara “Sendja” memiliki dua lapis makna: fase penghujung kehidupan para tokoh dan seniman, serta senja sebagai pintu menuju hari baru.

“Judul ini secara keseluruhan bermakna meradjoet kembali ingatan, gagasan, dan perjuangan agar tidak tenggelam bersama senja, tetapi diteruskan kepada generasi berikutnya,” terangnya.

Selain sebagai sebuah gugatan cinta dan refleksi mendalam tentang keberanian mencintai Indonesia, ‘Meradjoet Sendja’ yang akan berlangsung pada Rabu, 26 Agustus di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) juga sekaligus menjadi titik puncak dari program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture, yang didukung penuh oleh PARFI 56 dan bekerja sama dengan Dompet Dhuafa.

Adapun Marcella Zalianty, selaku Produser Eksekutif sekaligus Ketua Umum PARFI 56, menegaskan bahwa “meradjoet Sendja” adalah perwujudan dari visi PARFI dalam menghadirkan program Bakti Seniman Nusantara melalui kolaborasi dengan Dompet Dhuafa.

“PARFI hadir bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai penggerak utama untuk memastikan bahwa seniman dan pekerja film—baik yang senior maupun yang muda—memiliki ruang untuk berkarya dan dihormati. ‘meradjoet Sendja’ adalah bukti bahwa cinta pada profesi dan bangsa harus diperjuangkan bersama, tidak sendiri-sendiri. Kami ingin mempersatukan semua unsur film dan seni dalam semangat kebangsaan,” ujar Marcella.

Marcella juga menyatakan bahwa acara ini adalah ruang yang tepat untuk berkolaborasi menjadi lebih bermanfaat, tidak hanya untuk profesi dan sesama, tetapi untuk memajukan kebudayaan Indonesia dan memberdayakan masyarakat,” tegas Marcella.

Ia juga menyoroti bahwa budaya dan kemanusiaan adalah elemen penting yang akan memperkuat identitas bangsa, dan “meradjoet Sendja” adalah jawaban nyata atas keprihatinannya terhadap kondisi para seniman senior Indonesia.

Para talent dalam orkestrasi kebangsaan ‘meradjoet Sendja’ ini adalah aktor dan aktris profesional diantaranya ada Arswendy Bening Swara, Tanta Ginting, Fryda Lucyana, Isyana Sarasvati, Lutfi Ardiansyah. Edopaha, Jane Callista, Shanna Shannon, Ridho Rokhanah yang digawangi oleh tim artistik berpengalaman, didukung oleh 200 paduan suara yang akan mengiringi puncak acara.

Orkestrasi ‘meradjoet Sendja’ dibagi ke dalam empat babak yang sarat akan narasi sejarah dan kebangsaan. Babak I berjudul “Fajar Nusantara” menggambarkan kelahiran alam Nusantara dan dialog antara Soekarno dan Hatta.
Lalu babak II “Tanah Pengasingan” mengisahkan perenungan Hatta, Syahrir, dan Soekarno di masa pembuangan yang melahirkan Pancasila.

Kemudian babak III “Bahasa Keberanian” menampilkan monolog Siti Soendari tentang keputusan penting dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Puncaknya, Babak IV “Pertemuan Satu Malam” menyajikan pertemuan Soekarno dan Tan Malaka dengan dua jalan berbeda, yang ditutup dengan monolog Soekarno di senja usianya. Finale akan dimeriahkan oleh 500 pelajar yang memenuhi auditorium menyanyikan lagu “Pancasila” secara bersama-sama—sebuah simbol estafet nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.

Salah satu aktor senior yang terlibat, Arswendy Bening Swara, yang telah berkecimpung di dunia perfilman sejak 1985 dan aktif di Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya sejak 1982, mengungkapkan ketertarikannya bergabung karena nilai-nilai kebangsaan yang diusung.

Menurutnya, “meradjoet Sendja” adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah dan perjuangan para pendiri bangsa.

Sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Arswendy juga berbagi pengalaman kepada para talent muda, menekankan pentingnya akting yang tidak terlihat seperti akting—sebuah filosofi yang ia pelajari dari pengalaman internasionalnya di Marrakech International Film Festival.

“Peran tokoh sejarah di atas panggung adalah tantangan besar karena kita harus menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat mereka di hadapan generasi masa kini,” ujar Arswendy.

Social Fund PARFI 56 dan Dompet Dhuafa

Kolaborasi antara PARFI 56 dan Dompet Dhuafa telah terjalin sejak penandatanganan Nota Kesepahaman pada Desember 2024, yang bertujuan memperluas kampanye kemanusiaan dan pemberdayaan berbasis budaya.

Komitmen tersebut diwujudkan dalam berbagai program, termasuk bantuan sosial bagi pekerja seni yang membutuhkan.

Melalui orkestrasi kebangsaan “meradjoet Sendja”, PARFI 56 dan Dompet Dhuafa memperkuat sinergi ini dengan menghadirkan program Social Fund, dimana seluruh hasil penjualan tiket acara ini akan disumbangkan sepenuhnya untuk mendanai kegiatan sosial bagi dua kelompok penerima manfaat: para seniman dan budayawan Indonesia yang memasuki masa senja serta kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Yudi Latif, memberikan apresiasi yang mendalam terhadap kolaborasi ini.

Ia menilai bahwa sinergi antara Dompet Dhuafa dan PARFI adalah perpaduan jiwa yang tepat, dimana jiwa Dompet Dhuafa adalah memberdayakan, sementara jiwa PARFI adalah berbudaya.

“Kolaborasi ini akan memberdayakan kaum dhuafa melalui pendekatan budaya sehingga mampu menyalakan lilin-lilin harapan bagi Indonesia. Ini semacam sinyal semesta bahwa gerakan pemberdayaan Dompet Dhuafa ke depan akan lebih diperkuat dengan pendekatan kultural,” jelas Yudi Latif.

Menurutnya, pendekatan kultural atas kemanusiaan akan lebih tersentuh dengan daya estetik, kreatif, dan menggugah, sehingga dapat meningkatkan martabat kemanusiaan.

Acara ini akan menyediakan 500 kursi terkurasi di Gedung Kesenian Jakarta, salah satu venue heritage paling prestisius. Puncak acara akan diisi dengan finale 500 pelajar yang memenuhi auditorium menyanyikan lagu “Pancasila”, melambangkan estafet nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.

Tiket “Meradjoet Sendja” dapat dipesan melalui mitra resmi Loket.com mulai minggu ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai harga dan kategori tiket, masyarakat dapat mengakses kanal resmi media sosial @parfi56.

Kontributor : Amhar Batu AttoZ