Takziah Prabowo ke Megawati: Cermin Kemanusiaan Diatas Politik

Sep 29, 2026

Pelajaran penting dari kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke kediaman Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Jakarta, Senin malam, 28 September 2026. Prabowo datang untuk bertakziah dan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno sekaligus adik Megawati, yang wafat pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun.

Dalam suasana duka itu, Prabowo menyampaikan penghormatan kepada keluarga besar almarhum. Preaiden hadir didampingi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Keterangan resmi pemerintah menyebut kunjungan tersebut sebagai penyampaian duka cita dan penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Yang dapat kita petik dari peristiwa ini adalah perbedaan politik tidak menghapus hubungan kemanusiaan.

Prabowo dan Megawati memiliki sejarah hubungan yang panjang. Keduanya pernah menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2009. Dalam perjalanan berikutnya, keduanya berada pada posisi politik yang berbeda, termasuk dalam Pilpres 2014 dan 2019. Namun, kompetisi politik tidak membuat hubungan kedua tokoh bangsa berhenti pada permusuhan. Salah satu momentum yang banyak dikenang adalah pertemuan Prabowo dan Megawati di kediaman Jalan Teuku Umar pada 24 Juli 2019 setelah Pilpres 2019. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari dinamika rekonsiliasi politik pascapemilu.

Sejarah itu penting untuk kita kenang sebagai tauladan sebagai kedewasaan berpolitik. Politik memang mengenal kompetisi, tetapi kehidupan berbangsa membutuhkan sesuatu yang lebih panjang daripada kompetisi dalam suatu periode pemilu.

Hari ini, ketika PDI Perjuangan berada di luar pemerintahan, hubungan tersebut kembali terlihat dalam konteks yang sangat manusiawi. Prabowo datang bukan dalam kapasitas untuk melakukan kampanye politik, melainkan sebagai Presiden Republik Indonesia yang menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Megawati atas berpulangnya Alm. Guruh Soekarnoputra.

Bahkan salah satu sumber terpercaya menyampaikan pertemuan kedua tokoh pada 29 September 2026 tidak ada pembicaraan politik, murni Takziah duka cita.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak buru-buru memberi tafsir politik terhadap pertemuan yang berlangsung dalam suasana duka tersebut. Tidak semua pertemuan dua tokoh bangsa merupakan pertemuan politik. Tidak setiap silaturahmi harus dicurigai memiliki agenda kekuasaan.

Justru di tengah kehidupan media sosial yang sering kali mudah terpolarisasi, sikap Prabowo datang bertakziah kepada Megawati dapat menjadi pengingat bahwa kemanusiaan berada di atas kepentingan politik.

Perbedaan pilihan politik adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Tetapi ketika seorang anak bangsa kehilangan anggota keluarganya, yang hadir bukan lagi identitas kelompok, melainkan rasa kemanusiaan.

Karena itu, pertemuan tersebut patut dihormati sebagaimana adanya. Jangan menjadikan foto pertemuan, gestur, atau suasana takziah sebagai bahan spekulasi negatif tanpa dasar. Mati kita hormati keluarga yang sedang berduka dan hormati pula pilihan dua tokoh bangsa tersebut untuk bertemu dalam suasana kemanusiaan.

Ditengah perkembangan komunikasi digital yang tanpa batas, bangsa ini justru membutuhkan contoh baik ini bahwa berbeda pilihan tidak saling membenci.

Takziah Prabowo juga menjadi momentum untuk kembali mengenang sosok Guruh Soekarnoputra. Almarhum bukan hanya putra bungsu Bung Karno dan adik Megawati, tetapi salah satu tokoh penting dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia.

Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Sejak muda ia menekuni musik, tari dan seni pertunjukan. Ia mendirikan Swara Mahardhika dan kemudian terlibat dalam berbagai karya musik dan pertunjukan yang memadukan unsur modern dengan kekayaan tradisi Nusantara. Almarhum membentuk Guruh Gipsy bersama sejumlah musisi Indonesia, antara lain Chrisye, Keenan Nasution dan Abadi Soesman.

Karya-karyanya seperti “Galih dan Ratna”, “Melati Suci”, “Kala Sang Surya Tenggelam”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Lenggang Puspita” dan berbagai karya lainnya menjadi bagian dari perjalanan musik Indonesia. Ia juga dikenal melalui pertunjukan-pertunjukan besar yang menggabungkan musik, tari, busana, koreografi dan tata panggung sebagai satu kesatuan ekspresi kebudayaan.

Di bidang politik, Guruh juga pernah menjadi anggota DPR RI sejak periode 1992–1997 dan kemudian kembali menjadi anggota DPR melalui PDI Perjuangan dalam periode-periode berikutnya hingga 2019–2024.

Dengan demikian, Guruh meninggalkan dua jejak sekaligus, sebagai seniman yang memperkaya kebudayaan Indonesia dan sebagai politisi yang pernah menjalankan mandat rakyat.

Maka, ketika Prabowo datang ke rumah Megawati untuk bertakziah, yang perlu kita lihat adalah pelajaran sederhana tentang bagaimana kehidupan berbangsa seharusnya dijalani.

Boleh berbeda dalam politik, tetapi jangan kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Politik mempunyai batas waktu dan kepentingan, kekuasaan silih berganti, partai dapat berada di dalam ataupun di luar pemerintahan, tetapi hubungan kemanusiaan, penghormatan kepada keluarga yang berduka, dan persaudaraan kebangsaan jauh lebih panjang umurnya.

Semoga almarhum Guruh Soekarnoputra mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Semoga keluarga besar Soekarno diberikan kekuatan dan ketabahan.

Dan semoga bangsa Indonesia belajar dari peristiwa ini, demokrasi membutuhkan perbedaan, tapi Demokrasi Indonesia membutuhkan persaudaraan.

Oleh: Agusto Sulistio – Citizen Journlist.

Kalibata, Jaksel, Selasa 29 September 2026, 14:45 Wib.