MTN Market Hadirkan Enam Inisiatif Pasar Seni dari Berbagai Daerah di Art Jakarta 2026

Okt 4, 2026 #MTN Market

Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya Bidang Seni Rupa menghadirkan MTN Market di Art Jakarta 2026. Menjadi bagian dari AJ Scope, seksi baru Art Jakarta, program ini mempertemukan enam inisiatif pasar seni independen dari berbagai daerah yang memiliki pendekatan khas dalam menghubungkan praktik artistik, komunitas setempat, dan publik.

Berlangsung pada 2–4 Oktober di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Art Jakarta 2026 menghadirkan 75 galeri dari Indonesia dan mancanegara, bersama sejumlah seksi khusus yang mewadahi beragam praktik dan kolaborasi seni rupa.

Kehadiran MTN Market dalam AJ Scope memperluas ruang pertemuan tersebut dengan memperkenalkan inisiatif pasar seni yang tumbuh di luar Jakarta kepada pengunjung dan jejaring profesional Art Jakarta.

MTN Market menampilkan Mini Art Malang (Malang), Artists Art Fair (Pekanbaru), ART HEY (Banyumas), Maa Ledungga (Gorontalo), Hello Goodbye Photo Market (Bekasi), dan Watercolor Art Fair (Yogyakarta).

Melalui presentasi karya, arsip, dan perjalanan masing-masing, program ini memperlihatkan keragaman cara pasar seni yang berkembang secara organik dalam konteks-konteks lokal Indonesia dan menjadi wadah aktivitas seniman
serta pegiat seni di tingkat daerah.

Pertemuan ini membuka kesempatan untuk bertukar pengetahuan, memperluas jejaring, dan mendukung keberlanjutan ekosistem seni rupa di daerah.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Ahmad Mahendra, menyampaikan, bahwa kehadiran MTN Market di Art Jakarta dengan membawa enam inisiatif pasar seni dari berbagai
wilayah Indonesia menunjukkan bahwa praktik seni rupa dan jejaring pasarnya terus berkembang tidak hanya di kota-kota besar.

“Sebagai salah satu inisiatif MTN Seni Budaya, MTN Market hadir untuk membuka lebih banyak jalur distribusi karya dan mempertemukan talenta dengan komunitas, publik, serta jejaring profesional, sehingga perjalanan seniman rupa Indonesia dapat menjangkau ruang yang lebih luas,” ujar Mahendra.

Kolaborasi ini sejalan dengan upaya Art Jakarta untuk tumbuh bersama berbagai unsur dalam ekosistem seni rupa. Tom Tandio, Fair Director Art Jakarta, menyampaikan, seiring berkembangnya Art Jakarta, kami juga tumbuh bersama seniman, galeri, kolektor, komunitas, kurator, dan pencinta seni yang membentuk ekosistem seni rupa.

“Kami menyediakan ruang bagi pertemuan dan pertukaran yang menggerakkan pasar seni. Kehadiran keenam inisiatif ini memperluas hubungan tersebut, sekaligus membuka peluang bagi jejaring seni di berbagai daerah untuk saling terhubung,” ujar Tom Tandio, Fair Director Art Jakarta.

Enam inisiatif dalam MTN Market

Mini Art Malang — Malang

Studio Dinding Luar (SDL) secara konsisten berupaya menciptakan ruang pertemuan bagi para pelaku seni melalui Mini Art Malang (MAM). Memasuki tahun ketujuh, MAM berkembang menjadi salah satu penanda perkembangan seni rupa di Malang, terutama dalam menghadirkan keragaman karya melalui format berskala kecil yang kaya akan eksplorasi kreatif.

Inisiatif ini menyediakan wadah yang inklusif sekaligus membuka akses terhadap jejaring bagi ekosistem seni rupa di Jawa Timur, khususnya mahasiswa, seniman profesional, dan komunitas seni setempat.

Mini Art Malang mempertemukan karya-karya dari wilayah tersebut dengan publik, kolektor, dan jejaring seni yang lebih luas.

Dengan memadukan nilai edukasi dan
kesempatan ekonomi, MAM turut mendorong keberlanjutan praktik artistik serta kemandirian ekosistem seni rupa.

Artists Art Fair — Pekanbaru

Artists Art Fair Pekanbaru menyediakan ruang interaksi langsung antara seniman dan publik dalam suasana yang dinamis, inklusif, dan demokratis.

Sebagai penyelenggaraan pertama dengan format pasar seni di Sumatra, inisiatif ini memberi kesempatan kepada seniman dari
berbagai daerah di Indonesia, khususnya Sumatra, untuk menampilkan karya dan bertemu langsung dengan kolektor, pencinta seni, serta masyarakat luas tanpa perantara.

ART HEY — Banyumas

ART HEY lahir dari kebutuhan akan ruang pameran yang terbuka dan diselenggarakan secara konsisten. Inisiatif ini mewakili perkembangan seni rupa di kawasan Banyumas Raya dengan mengupayakan pameran yang relevan bagi konteks kehidupan para senimannya—berangkat dari lingkungan dan pengalaman mereka sendiri.

ART HEY berfokus pada pelaku seni dari wilayah budaya Banyumasan dan bercita-cita menjadi titik temu seni rupa di kawasan tersebut.

Dalam perkembangannya, ART HEY ingin
memperkenalkan daya hidup seni rupa Banyumas kepada publik di luar wilayahnya, sekaligus menjadi wadah bagi para seniman yang berkarya di berbagai penjuru wilayah budaya Banyumasan.

Maa Ledungga — Gorontalo

Maa Ledungga diinisiasi oleh Huntu Art Distrik (Hartdisk), sebuah ruang kerja bersama lintas disiplin yang mempertemukan pelaku seni rupa, seni pertunjukan, sastra, lingkungan, budaya, hingga pangan lokal. Pada 2012–2018, kegiatan artistik Hartdisk berlangsung di sekitar Danau Limboto sebagai tanggapan terhadap kondisi lingkungan danau yang kritis akibat sedimentasi.

Pada 2018, Hartdisk menggagas Maa Ledungga sebagai festival seni yang berhubungan dengan perayaan panen padi. Dalam bahasa Gorontalo, maa ledungga berarti “telah tiba” atau “telah datang”, merujuk pada datangnya masa panen.

Edisi pertamanya berlangsung di
persawahan Desa Huntu, Kabupaten Gorontalo, dengan melibatkan seniman lokal. Edisi-edisi berikutnya diselenggarakan pada 2019, 2022, dan 2025, dengan memanfaatkan lumbung padi warga sebagai ruang pamer.

Selain menghadirkan karya seniman Gorontalo, penyelenggaraan
tersebut melibatkan seniman undangan dari luar daerah serta seniman yang terpilih melalui panggilan terbuka.

Hello Goodbye Photo Market — Bekasi

Hello Goodbye Photo Market merupakan pasar seni yang berpusat pada fotografi dan praktik visual, dengan pendekatan yang inklusif, edukatif, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Inisiatif ini mempertemukan seniman, publik, kolektor, komunitas, dan jejaring pasar seni.

Modelnya bertumpu pada ekosistem Pannafoto Institute, yang menghubungkan pendidikan, penciptaan, presentasi, pasar, dan pengembangan karier. Karya dihadirkan dalam berbagai bentuk dan rentang harga, termasuk cetak foto seni, buku foto, zine, dan karya visual lainnya.

Pendekatan ini membuka akses bagi publik untuk mulai mengoleksi karya, sekaligus membantu seniman membangun rekam jejak di pasar seni. Dalam jangka panjang, Hello Goodbye dikembangkan sebagai wadah inkubasi yang mendukung keberlanjutan praktik seniman serta
mempersiapkan mereka menjangkau pasar seni nasional dan internasional.

Watercolor Art Fair — Yogyakarta

Watercolor Art Fair, atau Wacofair, didirikan sebagai wadah independen yang menyediakan ruang terfokus bagi perkembangan seni cat air. Inisiatif yang digagas oleh seniman ini menghubungkan seniman daerah secara langsung dengan publik, memperlihatkan keragaman kemungkinan teknik cat air, dan mendorong tumbuhnya pasar seni lokal yang berkelanjutan.

Wacofair memiliki tiga pendekatan yang saling melengkapi: Indoor-Wacofair, yang menghadirkan karya cat air di atas kertas atau kanvas dengan ukuran maksimal 29,7 × 40 cm; Outdoor-Wacofame, yang mengajak komunitas terlibat dalam kegiatan melukis bersama; serta Outdoor-Wacomerch, yang menghadirkan berbagai produk turunan.

Melalui ketiganya, Wacofair membangun pertemuan yang terbuka dan transparan antara seniman, kolektor baru, dan kolektor berpengalaman.

Kontributor : Amhar Batu AttoZ