Prof Eggi: Tiga Momentum Penting Kehidupan adalah Kelahiran, Kematian dan Kebangkitan

Okt 27, 2026

Pikiranmerdeka.com – Jakarta, 28 Oktober 2026 | Prof. Eggi Sudjana atau yang dikenal sebagai Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan Mutiara Hikmah dengan mengangkat tema tentang kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Pembahasan tersebut merujuk pada QS. Maryam ayat 15 dan ayat 33 yang sama-sama menyebut tiga momentum penting dalam kehidupan manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”
(QS. Maryam 19:15)

Sementara dalam QS. Maryam ayat 33 disebutkan:

وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
(QS. Maryam 19:33)

🌿 Persepsi BES tentang ulang tahun dan kematian

Menurut BES, kedua ayat tersebut menarik untuk ditadaburi melalui metode Tadabur Quran bil Quran. Ia mempertanyakan mengapa kelahiran umumnya disambut dengan kegembiraan, sementara kematian sering disambut dengan kesedihan.

BES berpandangan bahwa kegembiraan atas kelahiran merupakan sesuatu yang wajar, karena kelahiran adalah nikmat dan awal perjalanan kehidupan seseorang.

Namun, menurutnya, kematian dalam keadaan syahid atau husnul khotimah juga patut dipandang sebagai sesuatu yang membahagiakan dalam perspektif iman, karena merupakan kemuliaan dan rahmat Allah bagi orang yang mendapatkannya.

Meski demikian, BES menekankan bahwa kesedihan keluarga atas meninggalnya seseorang juga merupakan bagian dari fitrah manusia.

📖 Yahya AS dan Isa AS: dua ayat dengan redaksi berbeda

BES kemudian menghubungkan QS. Maryam ayat 15 dengan Nabi Yahya AS dan ayat 33 dengan Nabi Isa AS.

Dalam QS. Maryam ayat 15 terdapat ungkapan:

“Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.”

Menurut BES, ayat tersebut menunjukkan salam kesejahteraan bagi Yahya AS pada tiga momentum: hari kelahiran, hari wafat, dan hari kebangkitan.

Sementara QS. Maryam ayat 33 menggunakan ungkapan:

“Was Salamu Alayya Yauma Wulidtu Wa Yauma Amutu Wa Yauma Ub’atsu Hayya.”

Ayat tersebut berkaitan dengan Isa AS yang menyampaikan salam kesejahteraan bagi dirinya pada hari kelahiran, kematian, dan kebangkitan.

🔎 BES menilai terdapat perbedaan menarik antara “Alaihi” pada ayat 15 dan “Alayya” pada ayat 33, serta antara “Salamun” dan “As-Salamu”. Menurutnya, perbedaan redaksi tersebut memiliki konteks dan makna yang perlu ditadaburi secara mendalam.

🕊️ Kematian syahid dan husnul khotimah

BES kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan QS. Ali Imran ayat 169–170:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka.”

Menurut BES, kata “Farihina”, yang berarti bergembira, menjadi salah satu dasar bahwa orang yang memperoleh kemuliaan sebagai syahid mendapatkan kehidupan dan kegembiraan di sisi Allah.

Ia juga mengutip hadis:

“Siapa yang cinta bertemu Allah, Allah cinta bertemu dengannya; dan siapa yang benci bertemu Allah, Allah benci bertemu dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari pemahaman tersebut, BES menyampaikan bahwa kematian syahid atau husnul khotimah patut dipandang dengan kegembiraan iman, meskipun keluarga yang ditinggalkan tetap diperbolehkan merasakan kesedihan sebagai fitrah manusia.

💧 Kesedihan karena kematian adalah fitrah

BES menegaskan bahwa pandangan mengenai kegembiraan terhadap kematian syahid tidak berarti seseorang tidak boleh menangis atau bersedih.

Ia mengingatkan peristiwa wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami. Dan sesungguhnya kami benar-benar bersedih karena berpisah denganmu, wahai Ibrahim.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut BES, hadis tersebut menunjukkan bahwa menangis dan bersedih karena kehilangan bukan berarti lemahnya iman.

Hal serupa juga tercermin dalam kisah Nabi Ya’qub AS ketika kehilangan Yusuf AS. Allah berfirman:

قَالَ اِنَّمَاۤ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْۤ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dia (Ya’qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”
(QS. Yusuf 12:86)

Karena itu, menurut BES, perlu dibedakan antara kesedihan sebagai fitrah dengan ratapan yang berlebihan dan sikap yang menunjukkan penolakan terhadap ketetapan Allah.

🌹 Tiga tahapan kehidupan manusia

BES menyebut QS. Maryam ayat 15 dan 33 sebagai ayat yang mengingatkan manusia terhadap tiga tahapan penting:

🌱 Yauma Wulida — hari kelahiran.

⚰️ Yauma Yamutu — hari kematian.

🌅 Yauma Yub’atsu Hayya — hari dibangkitkan hidup kembali.

Menurutnya, kematian tidak boleh dipahami sebagai akhir mutlak kehidupan manusia. Setelah kematian terdapat kebangkitan dan kehidupan akhirat.

Karena itu, BES mengajak umat Islam memandang kehidupan secara utuh: kelahiran sebagai nikmat, kematian sebagai kepastian, dan kebangkitan sebagai janji Allah.

🤲 Dari persepsi menuju kesadaran dan pentaatan

BES juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan Mutiara Hikmah sebelumnya.

Pada Senin, 26 Oktober 2026, ia membahas Fatabassama Dhahikan Min Qauliha, yakni kisah Nabi Sulaiman AS yang tersenyum mendengar perkataan semut.

Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan doa:

“Rabbi Auzi’ni An Asykura” — memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya.

BES juga mengingatkan lima sifat yang disebut dalam nasihat Sayidina Ali, yakni Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub.

Sementara pada Selasa, 27 Oktober 2026, pembahasan dilanjutkan dengan QS. Maryam ayat 15 dan 33.

Menurut BES, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa persepsi harus melahirkan kesadaran, dan kesadaran harus diwujudkan dalam pentaatan.

Ia juga menghubungkannya dengan pembahasan Kalimah Sawa:

أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْئًا

“Bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

🌺 Tiga kesimpulan BES

BES kemudian merumuskan pemikirannya dalam tiga bagian.

Pertama, persepsi.
Ulang tahun atau hari kelahiran wajar disambut dengan kegembiraan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah. Namun, cara merayakannya tetap harus berada dalam koridor syariat dan tidak diisi dengan kemaksiatan.

Kedua, kesadaran.
Kesedihan karena kematian merupakan fitrah. Namun, kematian dalam keadaan syahid atau husnul khotimah memiliki dimensi kegembiraan dalam iman karena adanya kemuliaan yang dijanjikan Allah.

Ketiga, pentaatan.
Manusia harus mengisi kehidupannya dengan syukur, amal saleh, dan ketaatan agar ketika kematian datang, dapat menghadap Allah dalam keadaan husnul khotimah.

🕌 “Persepsi BES tidak keliru, tetapi harus disempurnakan”

Pada bagian akhir, BES menegaskan bahwa pandangannya mengenai ulang tahun, kematian, syahid, dan husnul khotimah bukan dimaksudkan untuk membenarkan diri sendiri.

Menurutnya, ulang tahun wajar disambut dengan kegembiraan, kematian syahid atau husnul khotimah patut dipandang dengan kegembiraan iman, sementara kesedihan karena kehilangan tetap merupakan fitrah manusia.

Yang terpenting, kata BES, adalah menjaga agar kesedihan tidak berubah menjadi ratapan yang berlebihan dan agar kegembiraan tidak diwujudkan melalui perbuatan yang bertentangan dengan syariat.

Pada akhirnya, Yauma Wulida, Yauma Yamutu, dan Yauma Yub’atsu Hayya mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia memiliki awal dan akhir, tetapi perjalanan manusia tidak berhenti pada kematian.

“Kelahiran adalah awal perjalanan, kematian adalah perpindahan, dan kebangkitan adalah kepastian. Karena itu, yang harus dipersiapkan manusia adalah bagaimana menjalani kehidupan dengan syukur, sabar, taat, dan istiqamah agar ketika kembali kepada Allah memperoleh rahmat dan ridha-Nya.”

Wallahu A’lam.

🌿 Salam Jihad dan Sabar,
BES – Brother Eggi Sudjana

(Agt/PM)