Jangan Panik, Situasi Rupiah Sekarang Berbeda Dengan 1998

Mei 26, 2026

Oleh: Agusto Sulistio*

Ketika nilai tukar rupiah kembali menembus angka Rp. 17.000 lebih per dollar Amerika Serikat, sebagian masyarakat langsung teringat pada tahun 1998.

Kekhawatiran muncul. Ada yang mulai cemas harga kebutuhan pokok akan melonjak, ada yang takut gelombang PHK kembali terjadi, bahkan ada pula yang membayangkan Indonesia akan masuk jurang krisis seperti masa reformasi 1998 dulu.

Di tengah situasi itu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang cukup menarik perhatian publik. Ia meminta masyarakat tidak panik terhadap dollar karena “kita tidak memakai dollar.”

Bagi sebagian orang, ucapan itu dianggap terlalu sederhana. Namun bila dipahami lebih dalam, sebenarnya ada pesan penting, agar masyarakat jangan mudah terjebak kepanikan psikologis hanya karena melihat angka kurs dollar naik.

Sebab dalam dunia ekonomi, kepanikan sering kali lebih berbahaya dari pada kenyataan itu sendiri. Ibarat seseorang yang sedang naik perahu kecil di sungai. Ketika air mulai bergelombang, kepanikan penumpang justru bisa membuat perahu terbalik lebih cepat dibanding ombaknya sendiri. Karena itu, ketenangan menjadi bagian penting dalam menghadapi gejolak ekonomi.

Bukan berarti nilai dollar tidak penting. Tetap penting. Sangat penting bahkan. Karena Indonesia masih melakukan impor barang, masih memiliki hubungan perdagangan internasional, dan sebagian kebutuhan industri masih bergantung pada bahan baku luar negeri.

Ketika dollar naik, maka harga barang impor ikut naik. Biaya produksi meningkat. Harga pangan tertentu bisa terdorong naik. Dunia usaha pun ikut merasakan tekanan.

Sesungguhnya, bahwa kondisi Indonesia hari ini tidak sama dengan tahun 1998. Hal ini penting untuk dipahami masyarakat.

Pada tahun 1998, Indonesia bukan hanya mengalami pelemahan rupiah. Saat itu yang runtuh adalah kepercayaan terhadap sistem ekonomi dan politik secara keseluruhan.

Banyak perusahaan kala itu memiliki utang luar negeri dalam bentuk dollar, sementara pemasukan mereka dalam rupiah. Ketika dollar melonjak tajam, perusahaan-perusahaan langsung limbung. Bank-bank kolaps. PHK massal terjadi. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Situasi politik memanas. Kerusuhan sosial pecah di berbagai daerah.

Krisis 1998 saat itu ibarat rumah yang pondasinya sudah rapuh, lalu diguncang gempa besar. Bukan hanya gentengnya yang jatuh, tetapi seluruh bangunan ikut roboh.

Sementara situasi tahun 2026 berbeda. Meskipun rupiah melemah, pondasi ekonomi Indonesia hari ini relatif lebih kuat dibanding era 1998. Sistem perbankan lebih diawasi.

Cadangan devisa negara lebih besar. Pengawasan keuangan lebih ketat. Pemerintah dan Bank Indonesia juga memiliki lebih banyak instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Selain itu, ekonomi Indonesia sekarang ditopang pasar domestik yang besar. Aktivitas rakyat sehari-hari tetap berjalan menggunakan rupiah. Pedagang di pasar tetap berjualan. Petani tetap menanam. Warung tetap buka. Ojek tetap beroperasi. UMKM tetap bergerak.

Artinya, denyut ekonomi rakyat tidak langsung berhenti hanya karena kurs dollar naik.

Ibaratnya tahun 1998 Indonesia seperti orang yang sedang sakit parah lalu diterpa badai. Sedangkan Indonesia tahun 2026 lebih seperti orang sehat yang sedang kehujanan. Tetap terasa tidak nyaman, tetapi belum tentu tumbang.

Jika kita melihat dunia internasional, sebenarnya banyak negara pernah mengalami pelemahan mata uang terhadap dollar Amerika, namun negara mereka tidak otomatis runtuh ataupun mengalami kerusuhan besar seperti Indonesia tahun 1998.

Contoh paling nyata adalah Jepang. Mata uang Yen Jepang dalam beberapa tahun terakhir mengalami pelemahan cukup tajam terhadap dollar AS. Bahkan nilai tukarnya sempat berada pada titik terlemah dalam puluhan tahun. Namun Jepang tetap menjadi negara maju yang stabil.

Karena ekonomi Jepang memiliki pondasi industri yang sangat kuat. Mereka memiliki teknologi, manufaktur, ekspor kendaraan, elektronik, serta disiplin ekonomi nasional yang tinggi. Pemerintah dan bank sentral Jepang juga dipercaya rakyatnya dan investor. Akibatnya, sekalipun nilai Yen melemah, dunia tetap percaya Jepang mampu bertahan dan bangkit. Ibarat sebuah kapal besar, meskipun dihantam ombak, kapal itu tidak mudah tenggelam karena mesin dan rangka kapalnya sangat kuat.

Contoh lain, mata uang Lira Turki bahkan pernah mengalami pelemahan sangat tajam terhadap dollar. Harga-harga sempat naik dan inflasi tinggi. Namun negara itu tidak sampai runtuh total seperti beberapa negara konflik. Ini karena aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Industri lokal tetap bergerak. Pariwisata tetap hidup. Perdagangan domestik masih berlangsung.

Pemerintahnya tetap berfungsi.
Meskipun rakyat mengalami tekanan ekonomi, negara tetap berdiri dan pelayanan publik tetap berjalan.

Begitu pula India, nilai tukar Rupee India terhadap dollar juga terus melemah dalam jangka panjang. Namun India tetap tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Sebab kekuatan utama India bukan hanya kurs mata uangnya, melainkan jumlah penduduk produktifnya, sektor teknologi informasinya, industri dalam negerinya, dan pasar domestiknya yang sangat besar.

Ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh tinggi rendahnya nilai mata uang terhadap dollar.

Ada faktor lain yang jauh lebih penting, seperti kepercayaan masyarakat, stabilitas politik, kekuatan produksi nasional, lapangan kerja, kemampuan pangan dan energi,bkualitas pemerintahan,bserta keberanian negara melindungi ekonomi rakyatnya.

Sebaliknya, ada pula negara yang nilai mata uangnya terlihat kuat, tetapi rakyatnya justru hidup sulit karena ekonomi dikuasai segelintir elite dan ketimpangan sosial terlalu besar.

Karena itu, kurs dollar memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran sehat atau tidaknya sebuah negara.

Indonesia sendiri sesungguhnya memiliki modal besar untuk tetap bertahan sebab miliki sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, bonus demografi, serta posisi strategis dunia.

Namun modal besar itu hanya akan bermanfaat bila dikelola dengan jujur, adil, dan berpihak kepada rakyat.

Karena ancaman terbesar bangsa ini bukan hanya pelemahan rupiah, melainkan korupsi, kebocoran anggaran,bketergantungan impor, mafia pangan, serta kesenjangan ekonomi yang terus melebar.

Jika penyakit-penyakit itu tidak diselesaikan, maka sekuat apa pun cadangan devisa negara, rakyat kecil tetap akan merasakan kesulitan hidup.

Pada akhirnya, masyarakat memang tidak perlu panik berlebihan seperti tahun 1998. Tetapi masyarakat juga tidak boleh dibuat terlena seolah semuanya baik-baik saja.

Rakyat perlu tenang, namun pemerintah juga wajib bekerja keras.

Karena kestabilan ekonomi tidak cukup dijawab lewat pidato yang menenangkan, tetapi harus dibuktikan melalui harga kebutuhan pokok yang terjangkau, lapangan kerja yang tersedia, upah yang layak, pendidikan yang baik, serta hukum yang benar-benar tegas dan adil.

*Tim Pembanguan Ekonomi Jateng era Wagub Joko Sudantoko, Tim Monitoring Raskin Dolog Jateng (1999 – 2001), Koord Distribusi Konversi Gas 3kg Wil Tangerang era SBY