Pikiran merdeka.com, JAKARTA – Sejumlah peristiwa bencana yang terjadi beruntun di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. Salah satunya datang dari kalangan spiritualis. Pakar spiritual dan ahli terawang asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Nyai Dewi Rantian atau yang dikenal sebagai Nyai Nova, menyampaikan pandangannya terkait potensi dinamika bencana hingga akhir tahun 2026.
Ditemui di kediamannya di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026) Nyai Nova mengungkapkan bahwa tahun 2026 menurutnya memiliki kecenderungan kuat terkait “unsur api” yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
“Kalau saya lihat, yang perlu diperhatikan di tahun ini adalah hal-hal yang berunsur api. Bisa berkaitan dengan kebakaran, baik itu pemukiman, hutan, maupun kejadian lain yang memiliki energi serupa,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyinggung potensi kejadian yang berkaitan dengan transportasi, termasuk kereta api, serta kemungkinan meningkatnya aktivitas alam seperti pergerakan gunung berapi dan gempa bumi di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurut terawangannya, daerah yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain wilayah Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Ia menilai ada indikasi peningkatan aktivitas alam di kawasan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan energi panas bumi.
“Saya melihat ada semacam energi besar di wilayah Sulawesi, yang berkaitan dengan api. Ini perlu diwaspadai. Begitu juga di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ada potensi pergerakan alam yang tidak bisa diabaikan,” jelasnya.
Namun demikian, Nyai Nova tidak merinci secara ilmiah atau teknis terkait potensi tersebut. Ia lebih menekankan pada pendekatan kewaspadaan secara umum dan spiritual.
Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan siklus energi tahunan. Menurutnya, tahun 2025 didominasi oleh “energi air” yang tercermin dari banyaknya kejadian banjir, sementara 2026 disebutnya sebagai “tahun api” yang berpotensi memicu kejadian berbeda.
Menanggapi pernyataan tersebut, sejumlah pihak mengingatkan bahwa prediksi bencana sebaiknya tetap mengacu pada data ilmiah dan informasi resmi dari lembaga berwenang seperti BMKG, BNPB, maupun PVMBG.
Para ahli kebencanaan menegaskan bahwa Indonesia memang merupakan wilayah rawan bencana karena berada di cincin api Pasifik (Ring of Fire), sehingga aktivitas gempa bumi, gunung berapi, hingga kebakaran hutan memiliki dasar ilmiah yang jelas dan terus dipantau secara berkala.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menelan mentah-mentah informasi yang tidak memiliki basis ilmiah, namun tetap dapat menjadikannya sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Dalam kesempatan tersebut, Nyai Nova juga menyinggung peran pemerintah dalam mitigasi bencana. Ia menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah memiliki mekanisme dan strategi tersendiri dalam menghadapi potensi bencana.
“Pemerintah tentu lebih memahami bagaimana cara mengatur dan mengantisipasi situasi. Yang penting adalah daerah-daerah yang memang sering terjadi bencana harus lebih diperhatikan,” katanya.
Sementara itu, secara umum, upaya mitigasi bencana di Indonesia terus diperkuat, mulai dari sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, hingga peningkatan infrastruktur tanggap darurat.
Di luar aspek teknis, Nyai Nova menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk memperbanyak doa dan menjaga keharmonisan sebagai bentuk ikhtiar menghadapi berbagai kemungkinan.
“Musibah itu datangnya dari Tuhan, tapi kita bisa berusaha. Perbanyak doa, minta perlindungan agar dijauhkan dari bencana,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan adanya kabar duka dari kalangan publik figur, meskipun tidak menyebutkan secara spesifik identitas maupun waktu kejadian.
Menutup pernyataannya, Nyai Nova berharap kondisi ekonomi nasional dapat membaik ke depan. Ia menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah situasi yang dinilainya belum stabil.
“Harapannya ekonomi bisa membaik. Kita juga harus pintar mengatur pengeluaran dan pendapatan,” katanya.
Terlepas dari sudut pandang spiritual yang disampaikan, para ahli menekankan bahwa kesiapsiagaan berbasis edukasi, data ilmiah, serta koordinasi antara pemerintah dan masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana di Indonesia.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta selalu mengikuti perkembangan informasi resmi dari otoritas terkait demi keselamatan bersama.(jfr)