Sepakbola dan Organisme Kepercayaan

Jun 4, 2026

Oleh Adhie M Massardi – Tenaga Ahli bidang Kebudayaan dan Demokrasi-Kementerian HAM-RI

Pekan depan milyaran pasang mata akan tertuju ke 3 negara di Amerika Utara AS, Meksiko dan Kanada tempat digelarnya kompetisi sepakbola Piala Dunia FIFA 2026. Apa yang menarik dari bola? Kita mulai dari uang.

Ada sesuatu yang menarik ketika uang masuk ke hampir semua ruang kehidupan manusia.

Ketika uang masuk ke hutan, pohon berubah menjadi angka. Ketika uang masuk ke pengadilan, vonis berubah menjadi bisnis. Ketika uang masuk ke demokrasi, suara berubah menjadi komoditas. Ketika uang masuk ke pendidikan, ilmu perlahan berubah menjadi sertifikat. Dan ketika uang masuk ke seni, makna sering kali berubah menjadi tren.

Namun anehnya, ada satu ruang besar dalam peradaban modern yang tidak sepenuhnya runtuh ketika uang datang ke dalamnya: sepakbola. Mengapa uang tidak pernah benar-benar menang melawan bola?
Padahal tidak ada ruang yang lebih terbuka terhadap uang dibandingkan sepakbola modern. Di sana ada hak siar bernilai miliaran dolar, sponsor global, industri taruhan, bursa transfer pemain, hingga ekonomi digital yang bergerak dalam hitungan detik. Stadion berubah menjadi pusat konsumsi raksasa. Klub menjadi korporasi. Pemain menjadi aset. Penonton menjadi data.

Tetapi sesuatu tetap bertahan.
Orang masih marah ketika wasit dianggap tidak adil. Orang masih kecewa ketika pertandingan dianggap diatur. Dan jutaan penonton tetap menuntut agar permainan berlangsung jujur.

Di sinilah sepakbola menghadirkan paradoks yang jarang dibahas.

Uang memang masuk ke dalam permainan. Namun tidak seperti di banyak tempat lain, uang tidak sepenuhnya berhasil menjadi penguasa. Ia justru dipaksa menjaga permainan tetap dipercaya.

Selama ini kita sering memahami sepakbola hanya sebagai olahraga, hiburan, atau industri. Padahal di dalamnya terdapat satu laboratorium sosial yang sangat besar: bagaimana kepercayaan bekerja di dalam sistem yang penuh persaingan.

Sebuah pertandingan sepakbola hanya berlangsung sembilan puluh menit. Tetapi agar sembilan puluh menit itu dipercaya oleh jutaan manusia, dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar aturan.

Harus ada keyakinan bahwa pertandingan tidak sepenuhnya dimanipulasi. Harus ada keyakinan bahwa aturan berlaku bagi semua. Harus ada keyakinan bahwa hasil pertandingan lahir dari permainan, bukan semata-mata dari transaksi.

Tanpa itu semua, sepakbola kehilangan alasan untuk ditonton.

Di titik inilah ekonomi menemukan batasnya.
Industri boleh tumbuh sebesar apa pun, tetapi ia bergantung pada satu sumber kehidupan yang tidak bisa diproduksi oleh uang: trust.

Tanpa trust, pertandingan berubah menjadi pertunjukan kosong. Tanpa trust, penonton berhenti peduli. Dan ketika penonton berhenti percaya, seluruh ekonomi yang berdiri di atasnya mulai kehilangan tenaga hidup.

Karena itu, secara paradoks, industri sepakbola justru berkepentingan menjaga kepercayaan terhadap permainan.

Mereka membutuhkan wasit yang dipercaya. Mereka membutuhkan kompetisi yang dianggap fair. Mereka membutuhkan aturan yang tampak bekerja. Mereka membutuhkan drama yang terasa nyata.

Bukan terutama karena moralitas, melainkan karena kebutuhan biologis sistem.
Di sinilah saya mulai melihat sepakbola bukan lagi sebagai olahraga biasa, melainkan sebagai organisme sosial.

Seperti tubuh manusia, ia hidup karena ada aliran yang terus bergerak di dalamnya. Dalam tubuh, aliran itu adalah darah. Dalam sepakbola, aliran itu adalah trust.

Trust menghubungkan pemain dengan penonton. Trust menghubungkan klub dengan pendukungnya. Trust menghubungkan aturan dengan penerimaan publik. Trust menghubungkan emosi dengan makna.

(Agt/PM)

Ketika trust hidup, sistem dapat bergerak dengan relatif lancar. Orang rela membeli tiket. Orang rela meluangkan waktu. Orang rela membela klubnya selama puluhan tahun.
Namun ketika trust runtuh, energi sistem mulai habis untuk saling mencurigai.
Pertandingan tidak lagi dinikmati, melainkan dicurigai. Wasit tidak lagi dipercaya, melainkan dianggap bagian dari konspirasi. Kompetisi tidak lagi dilihat sebagai permainan, melainkan rekayasa.
Dan ketika itu terjadi, kerusakan tidak hanya menyerang olahraga, tetapi seluruh ekosistem yang hidup di atasnya.

Karena itu menarik melihat bagaimana sepakbola modern berkembang.
Semakin besar industrinya, justru semakin besar kebutuhan untuk menjaga kepercayaan. Teknologi VAR diperkenalkan untuk memperkecil kecurigaan. Transparansi wasit dituntut lebih terbuka. Pengaturan pertandingan dianggap ancaman paling berbahaya.
Semua ini menunjukkan satu hal penting: sistem tahu bahwa trust adalah sumber energi utamanya.
Di banyak tempat lain, uang sering kali bekerja dengan cara sebaliknya. Ia mengambil alih sistem, lalu mengubah seluruh aturan agar menguntungkan dirinya sendiri.
Tetapi di sepakbola, uang tidak bisa bergerak terlalu jauh melampaui trust. Sebab jika permainan kehilangan legitimasi, industri kehilangan fondasi.
Ini menjelaskan mengapa penonton sepakbola bisa menjadi sangat emosional. Mereka sebenarnya bukan hanya membela klub. Mereka sedang membela kepercayaan terhadap permainan itu sendiri.
Mereka ingin percaya bahwa kemenangan masih mungkin diperjuangkan. Bahwa ketidakpastian masih nyata. Bahwa pertandingan belum ditentukan sebelum dimulai. Dan berakhir setelah peluit panjang ditiup.
Sepakbola hidup dari kemungkinan. Dan kemungkinan hanya dapat hidup di dalam ruang yang dipercaya.

Dari sini saya mulai melihat sesuatu yang lebih luas.
Mungkin masalah terbesar peradaban modern bukanlah uang itu sendiri, melainkan melemahnya organisme yang menjaga trust tetap hidup.
Ketika trust melemah, semua ruang mulai berubah.
Pengadilan berubah menjadi arena transaksi. Demokrasi berubah menjadi pasar pengaruh. Media berubah menjadi industri perhatian. Pendidikan berubah menjadi perlombaan gelar.
Energi sosial yang seharusnya digunakan untuk membangun konektivitas akhirnya habis untuk pengawasan, manipulasi, dan kecurigaan.
Masyarakat menjadi mahal untuk dijalankan.
Semua harus diawasi. Semua harus diverifikasi. Semua harus dicurigai.
Dan di situlah peradaban mulai kehilangan efisiensi terdalamnya: kemampuan untuk saling percaya.
Sepakbola memberi pelajaran menarik tentang hal ini.
Ia menunjukkan bahwa bahkan industri sebesar apa pun tetap membutuhkan trust sebagai fondasi biologisnya. Tanpa trust, uang tidak memiliki tempat untuk hidup.
Karena itu, sepakbola mungkin bukan sekadar permainan. Ia adalah salah satu cermin paling jujur tentang bagaimana kehidupan sosial bekerja.
Ia memperlihatkan bahwa kekuasaan bisa membesar. Ekonomi bisa meluas. Teknologi bisa semakin canggih. Tetapi pada akhirnya, semua sistem tetap bergantung pada sesuatu yang sangat sederhana: kepercayaan bahwa permainan masih layak dipercaya.

Mungkin di situlah kita perlu mulai melihat trust bukan sekadar sebagai nilai moral, melainkan sebagai fungsi kehidupan.
Ia adalah energi penghubung. Ia menjaga konektivitas antarorganisme sosial tetap hidup. Ia memungkinkan manusia bekerja sama tanpa harus terus-menerus dipaksa.
Dan ketika trust masih berfungsi, ekosistem dapat bertahan bahkan di bawah tekanan ekonomi yang sangat besar.
Sepakbola memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Bahwa trust bisa hidup di dunia nyata, bukan di negeri utopia.
Ia menerima uang. Ia menerima industri. Ia menerima modernitas. Namun jauh di dalam dirinya, permainan itu tetap dijaga oleh sesuatu yang lebih tua daripada ekonomi: kepercayaan manusia bahwa permainan harus berlangsung adil agar tetap bermakna.
Barangkali karena itulah sepakbola tidak pernah sepenuhnya bisa dimiliki.
Ia bundar, sederhana, dan mudah dipahami. Ia menerima aturan, tetapi tidak kehilangan kebebasannya. Ketika ekonomi datang, industri justru dipaksa tunduk kepadanya. Sebab di dalam bola, masih tersimpan magma peradaban yang tak pernah padam.