Sepiring Kehangatan di Warung Ikhlas

Sep 21, 2025

Pikiranmerdeka.com, Yogyakarta – Siang terik tak menghalangi tawa dan obrolan hangat di sebuah sudut kecil Kota Yogyakarta. Di Warung Ikhlas, meja panjang tersusun rapi, di atasnya berjejer nasi hangat, sayur, dan lauk sederhana. Bukan restoran mewah, bukan pula pesta besar—namun kehangatan yang lahir dari sebuah niat tulus: memberi makan bagi siapa pun yang datang.

Di antara para tukang parkir yang beristirahat, ojek online yang baru menepi, hingga warga sekitar yang sekadar singgah, semua duduk bersama tanpa perbedaan. Mereka menunggu giliran disapa sepiring makan siang gratis.

“Kita menyelenggarakan bakti sosial Hunger di Warung Ikhlas. Kegiatan ini diperuntukkan bagi masyarakat sekitar, tukang parkir, ojek online, dan siapa saja yang ingin bergabung. Kita menyediakan makan gratis bagi orang-orang yang membutuhkan,” ujar Siska Wahyu Setyaning Susilowati, President Lions Club Yogyakarta Dewangga Mataram.

Tak ada daftar tamu, tak ada syarat khusus. Siapa pun boleh datang, siapa pun boleh makan. “Biasanya tidak tentu siapa yang datang, tapi kita targetkan 50 sampai 100 orang. Kita masak sendiri, jadi kalau habis bisa ditambah lagi. Para ojol juga sudah tahu kalau setiap Jumat dan Sabtu ada makan siang gratis di sini,” tambah Siska dengan senyum.

Pendanaan untuk kegiatan ini sebagian berasal dari donasi, sebagian lagi dari dana internal klub. “Biasanya kita open donasi. Dari Lions Club Yogyakarta juga sudah ada dana. Harapannya bisa merangkul semua masyarakat, membantu semaksimal mungkin. Dari hati untuk mereka, saling bantu membantu,” lanjutnya.

Bagi Tias Mukti Fatmasari, Second Vice President Lions Club Yogyakarta Dewangga Mataram, aksi sederhana ini adalah bentuk nyata kepedulian. “Kami sadar, baksos ini tidak mungkin menyelesaikan 100 persen masalah pangan di Indonesia atau bahkan di Yogyakarta. Masalah itu terlalu kompleks. Tapi setidaknya apa yang kami lakukan bisa jadi langkah awal agar semakin banyak orang tergerak membantu. Dengan keikhlasan dan hati yang tulus, insyaallah akan jadi berkah untuk kita semua,” tuturnya.

Ada 6 hingga 10 anggota Lions Club hadir, bergantian menyiapkan masakan, menyapa warga, hingga memastikan semua kebagian. Dari dapur kecil di Warung Ikhlas, mereka bukan hanya membagi nasi dan lauk pauk, tetapi juga membagi rasa tenang, rasa diperhatikan, rasa tidak sendiri.

Di balik sepiring makan siang, ada cerita tentang solidaritas. Tentang bagaimana hati yang tulus bisa menyalakan harapan, bahkan dari tempat sederhana di sudut kota. (Ahr)