Foto: Jokowi, Kaesang saat rapat PSI (google).
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan menggelar kongres nasional di Solo, Jawa Tengah, akhir pekan depan. Agenda utama dalam forum tersebut adalah pemilihan ketua umum baru, dan sorotan publik tertuju pada kemungkinan besar kembalinya Kaesang Pangarep sebagai pemimpin partai. Nama Presiden Joko Widodo yang juga ayah Kaesang diprediksi akan terus membayangi arah politik PSI ke depan.
Dipilihnya Solo sebagai lokasi kongres bukan tanpa makna. Kota ini adalah kampung halaman Jokowi, dan salah satu tempat yang digunakan adalah Graha Saba Buana, gedung serbaguna milik keluarga besar Presiden ketujuh RI tersebut. Asosiasi ini menguatkan persepsi publik bahwa Jokowi, meskipun tidak secara formal terlibat, tetap memiliki pengaruh strategis dalam dinamika internal PSI.
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif’an, menilai bahwa pemilihan Solo sebagai tempat kongres merupakan langkah simbolik.
“Solo bisa menjadi representasi asosiasi PSI dengan figur Jokowi, yang hingga kini masih menjadi salah satu tokoh paling populer di Indonesia,” kata Ali saat dihubungi Jumat, 11 Juli 2025.
Menurutnya, langkah ini adalah bagian dari strategi elektoral PSI untuk membangun daya tarik menuju Pemilu 2029. Dengan menjadikan Kaesang sebagai figur sentral, PSI berharap dapat menumpang popularitas Jokowi yang hingga kini masih kuat di mata publik.
Ali juga menggarisbawahi kemungkinan besar Kaesang akan kembali menjabat sebagai ketua umum, meski PSI mengklaim mekanisme pemilihannya demokratis melalui e-voting.
“Secara realistis, peluang Kaesang untuk kembali memimpin PSI mencapai 90,9 persen,” katanya. Ia menambahkan bahwa walaupun Jokowi tidak menjabat struktural di PSI, peranannya sebagai pembimbing atau penasihat tidak dapat dikesampingkan.
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Sebagai partai yang mengusung semangat anak muda dan modernisasi politik, ketergantungan pada figur justru dapat merugikan pelembagaan internal PSI. “Partai modern seharusnya bertumpu pada sistem, ideologi, dan program, bukan pada figur. Ketika popularitas figur menurun, maka partai pun bisa ikut merosot,” terang Ali.
Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro. Ia menyatakan keyakinannya bahwa Kaesang akan kembali dikukuhkan sebagai ketua umum PSI. Namun, ia juga melihat adanya peluang besar PSI untuk menembus parlemen jika kepemimpinan Kaesang dapat mendongkrak konsolidasi internal partai.
“Mesin politik keluarga Solo bisa bekerja lebih efektif dengan Kaesang sebagai ketua umum. Bahkan, terbuka kemungkinan Jokowi akan masuk sebagai Ketua Dewan Pembina,” ujar Agung, Kamis, 10 Juli 2025. Menurutnya, kehadiran Jokowi meski tidak dalam jabatan formal akan memperkuat PSI dalam kerja-kerja politik nasional.
Agung menilai pendekatan berbasis figur atau personalisasi politik seperti ini masih relevan di Indonesia, mengingat sebagian besar pemilih belum memiliki kedekatan ideologis dengan partai.
“PSI punya kader muda dan militan, tapi belum punya figur kuat yang dapat mengikat suara publik. Maka nama Jokowi akan jadi aset besar,” jelasnya.
Sementara itu, nama Jokowi sempat disebut-sebut dalam bursa calon ketua umum. Namun pada 26 Juni lalu, Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik mengambil alih jabatan tersebut.
“Yang muda-muda saja. Lebih baik dipimpin oleh anak muda,” ujar Jokowi kala itu. Ia juga menyatakan tidak memihak pada satu kandidat tertentu, termasuk Kaesang.
Proses pencalonan ketua umum PSI telah mengerucut ke tiga nama: Kaesang Pangarep, Ronald A. Sinaga (pemengaruh media sosial), dan Agus Mulyono Herlambang. Plt Ketum PSI Andy Budiman menyatakan ketiganya telah memenuhi syarat dukungan dari minimal lima Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan dua puluh Dewan Pimpinan Daerah (DPD).
“Bro Ronald Sinaga didukung oleh 6 DPW dan 36 DPD, Mas Kaesang didukung 10 DPW dan 78 DPD, sementara Bro Agus didukung 6 DPW dan 24 DPD,” jelas Andy pada 24 Juni 2025.
Dengan segala dinamika ini, arah baru PSI tampaknya masih akan berada dalam orbit pengaruh keluarga Jokowi. Sementara partai ini terus menegaskan diri sebagai representasi anak muda dan politik bersih, pertanyaan besar tetap mengemuka: sejauh mana PSI mampu tumbuh menjadi partai modern yang berdiri di atas sistem dan bukan pada bayang-bayang figur?
Sumber: CNN Indonesia, Kompas, Tempo
Editor: Agusto Sulistio