Waktu itu tahun 2002 bulan Maret tanggalnya lupa, sedang ada career day di Insan Cendekia Serpong yang sedang beralih status dari SMU menjadi MA lalu MAN. Sang Jenderal datang dengan rombongan cukup ramai, salah satunya almh Marissa Haque anggota DPR waktu itu dari PDI Perjuangan.
Entah mengapa career day yang biasanya berisi promosi kuliah dan kerja didatangi Kepala Staf Angkatan Darat dan Anggota DPR dari partai penguasa waktu itu. Apa karena transisi IC dari SMU di bawah BPPT menjadi MAN di bawah Kemenag di mana Bang Hatta sebagai Menristek yang bertanggung jawab soal transisi ini pun pernah datang, maka sang KSAD yang sama-sama berdarah Palembang dengan Menristek dan suami Bu Presiden RI tertarik datang, entahlah. Manalah mungkin hal seperti itu terungkap di publik.
Cerita yang berkesan dari beliau adalah saat muda dipanggil ‘Si Hadis’ karena kegemarannya menghafal hadis baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namanya juga anak kelahiran Palembang di tahun 1950, pasti sangat kental dengan kebiasaan menghafal Quran dan Hadis dan beberapa wirid.
Suatu hari saat menjadi Komandan Kontingen Garuda di bawah komando UNTAC di Kamboja dalam rangka menengahi konflik pasukan Khmer Merah pimpinan Pol Pot versus FUNCINPEC pimpinan Pangeran Norodom Ranariddh versus Partai Rakyat Kamboja pimpinan Hun Sen, sebuah mortir besar jatuh dekat markas Kontingen Garuda. Alhamdulillah tidak meledak, mungkin Allah melindunginya karena rajin wiridan.
Acara berlanjut dengan ceramah dari almarhumah Marissa Haque yang bercerita tentang bagaimana TNI sekarang diisi oleh para perwira berlatar belakang keluarga santri, sesuai dengan analisis Prof. Salim Said (almarhumah berkata demikian di depan hadirin).
Ceramah almarhumah yang mencoba mengaitkan hubungan TNI yang Pancasilais dengan Islam ini kalau dipikir sekarang adalah hal yang menarik mengingat tiga tahun sebelumnya memang kencang sekali penolakan umat Islam terhadap PDI Perjuangan yang selain dicap berisi mantan PKI juga mencalonkan Megawati Soekarnoputri sang Ketua Umumnya sebagai Presiden dalam Sidang Umum MPR Oktober 1999, apalagi PDI Perjuangan meraih 32 persen suara dalam Pemilu.
Jenderal Mizar sendiri memang dekat dengan Megawati melalui Taufik Kiemas. Taufik Kiemas adalah Ketua GMNI Palembang sewaktu sang Jenderal masih SMP di Palembang (1962-1965), tetapi ayah sang Jenderal, Musannif Ryacudu, juga seorang Jenderal yang sangat Soekarnois dan pendukung Nasakom.
Musannif Ryacudu memang tersingkir oleh Orde Baru karena sikap politiknya, walau tidak sampai ditahan seperti misalnya Hario Kecik, atau Pranoto Reksosamudro. Terbukti putranya sendiri bisa masuk AKABRI werving Juli 1970 bersama Prabowo dan juga SBY, walau karena kenakalannya baru lulus Desember 1974 bersama Sjafrie Sjamsuddin dan Zacky Anwar Makarim (om-nya Nadiem Makarim).
Lucunya, AKABRI abituren 1974 ini berurutan menjadi Menteri Pertahanan yaitu Ryamizard, Prabowo lalu Sjafrie.
Secara politik, sikap politik Jenderal Mizar dapat dikategorikan sebagai hawkish, karena ia pernah membariskan tank-tank Kostrad bersama pasukan Marinir dan Pasukan Khas Angkatan Udara di depan Istana Merdeka pada bulan Juli 2001 saat menjadi Panglima pasukan cadangan strategis tersebut.
Saat itu tanggal 23 Juli 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengumumkan dekrit pembubaran DPR, MPR dan Partai Golkar serta percepatan pemilu. TNI menganggap dekrit Gus Dur inkonstitusional dan memutuskan menggelar pasukan mengawal Sidang Istimewa MPR untuk memakzulkan Gus Dur dan mengangkat Megawati menjadi Presiden.
Dekrit ini rupanya tidak bernasib sama dengan Dekrit Bung Karno tahun 1959 tentang pembubaran Konstituante dan pemberlakuan kembali UUD 1945 yang sebenarnya juga inkonstitusional, tetapi karena didukung Tentara dalam hal ini adalah Jenderal Nasution maka dekrit 5 Juli 1959 menjadi legitimatif.
Singkat kata, Jenderal Mizar berperan di lapangan dalam manuver politik MPR untuk memakzulkan Gus Dur dan mengangkat Megawati. Megawati pun membalas jasanya mengangkat ia menjadi KSAD, menjadikannya jembatan hubungan antara Pemerintah dengan umat Islam, menetapkannya menjadi Panglima TNI walau dibatalkan Presiden SBY, lalu menjadi Menteri Pertahanan di Pemerintahan Jokowi.
Apapun sikap dan riwayat politiknya, saya pikir sang Jenderal yang baru wafat 31 Mei 2026 kemarin adalah perwira yang baik. Saya memasang foto ini karena beberapa yang berada di dalamnya sudah wafat, antara lain yang berdiri di samping kanan Jenderal Mizar adalah alm Darwin Zahedy Saleh, waktu itu Ketua Majelis Madrasah yang setara Dewan Sekolah. Kepala Madrasah waktu itu alm. Japar, nomor dua dari kanan berdiri baris kedua, di sebelahnya alm. Zulhiswan guru matematika.
Selamat jalan, Jenderal Mizar!
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
-Hanief Adrian, alumni Insan Cendekia Serpong-