Galileo Dibui, Ijazah Jadi Soal, Siapa Takut Kebenaran?

Jun 22, 2026

Sebuah catatan singkat yang ditulis Adhie M. Massardi pada Minggu, 21 Juni 2026 kembali mengundang perbincangan publik.

Dengan gaya satir yang tajam, Staf Ahli Menteri HAM RI, mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid itu menulis:

“Empat abad silam Galileo Galilei dibui sampai mati gegara hasil penelitiannya bilang: ‘Bumi itu bulat!’ Empat abad kemudian kita menyaksikan orang dipenjara gegara hasil penelitiannya bilang: ‘Ijazah Lo palsu…!’ Di negara yang tidak menghormati ilmu pengetahuan, dogma kekuasaan sering lebih kuat daripada logika.”

Catatan tersebut tentu bukan hanya membandingkan Galileo di masa itu dengan polemik yang berkembang di Indonesia saat ini.

Melalui satir itu, Adhie M Massardi tampaknya sedang mengajak publik merenungkan hubungan antara ilmu pengetahuan, kebebasan berpikir, dan kekuasaan.

Galileo dalam sejarah dikenang sebagai ilmuwan yang menghadapi tekanan karena temuannya bertentangan dengan keyakinan yang dominan pada jamannya.

Berabad-abad kemudian, menurut sudut pandang yang disampaikan Mas Adhie (panggilan akrabnya), muncul pertanyaan serupa, apakah sebuah penelitian, kajian, atau pendapat dapat diuji secara terbuka berdasarkan fakta dan metode ilmiah, atau justru terseret ke dalam arena pertarungan politik dan kekuasaan?

Menariknya, pesan yang terkandung dalam satir tersebut memiliki korelasi dengan peringatan yang telah lama ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).

Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak mengambil kesimpulan, membuat keputusan, atau menghukumi suatu perkara tanpa dasar ilmu dan bukti yang memadai. Dalam konteks kehidupan berbangsa, ayat tersebut mengandung pesan bahwa setiap persoalan semestinya disikapi dengan pencarian fakta, verifikasi, dan pertimbangan yang jernih, bukan semata-mata berdasarkan prasangka, emosi, atau kepentingan.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kebenaran sering kali berhadapan dengan kekuatan yang ingin mempertahankan kepentingannya.

Allah SWT berfirman:

“Bahkan mereka berkata, ‘Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami hanya mengikuti jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf [43]: 22).

Ayat tersebut menjelaskan bagaimana sebagian manusia menolak kebenaran bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena sudah terlanjur nyaman dengan keyakinan, tradisi, atau kekuasaan yang ada.

Dalam banyak kisah para nabi, penolakan terhadap kebenaran sering muncul bukan karena lemahnya argumentasi para nabi, melainkan karena kuatnya kepentingan yang merasa terancam oleh kebenaran itu sendiri.

Karena itu, jika satir Mas Adhie berbicara tentang benturan antara ilmu pengetahuan dan dogma kekuasaan, maka Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan umat manusia agar menjadikan ilmu, akal sehat, dan pencarian kebenaran sebagai pedoman dalam menilai suatu persoalan.

Redaksi memaknai satir tersebut sebagai gambaran kegelisahan sebagian masyarakat terhadap kondisi kehidupan publik dewasa ini.

Ruang diskusi yang seharusnya diisi argumentasi, data, dan adu gagasan, malah kadang berubah menjadi pertarungan antar kubu.

Tidak jarang seseorang dinilai bukan dari kualitas argumennya, melainkan dari posisi politik yang dilekatkan kepadanya.

Dalam konteks sosial, fenomena ini memperlihatkan semakin menguatnya polarisasi. Media sosial membuat setiap isu cepat berubah menjadi pertarungan identitas.

Pendukung dan penentang terjebak sibuk mempertahankan posisi masing-masing, sementara substansi persoalan justru tenggelam di tengah kebisingan opini.

Dari sisi politik, satir Mas Adhie dapat dibaca sebagai pengingat bahwa demokrasi membutuhkan ruang aman bagi kritik, penelitian, dan perbedaan pandangan.

Negara yang sehat bukanlah negara yang bebas dari kritik, melainkan negara yang mampu menjawab kritik dengan transparansi, data, dan argumentasi yang dapat diuji publik.

Sementara dari perspektif ekonomi, penghormatan terhadap fakta dan rasionalitas merupakan bagian penting bagi kemajuan bangsa. Dunia usaha, investor, akademisi, hingga masyarakat membutuhkan kepastian bahwa setiap persoalan diselesaikan berdasarkan hukum dan bukti yang objektif.

Ketika logika dan ilmu pengetahuan memperoleh tempat yang semestinya, kepercayaan publik akan tumbuh dan pembangunan dapat berjalan lebih kokoh.

Satir Mas Adhie dan pesan Al-Qur’an bertemu pada satu titik yang sama, bahwa kebenaran tidak boleh ditentukan oleh siapa yang paling kuat, melainkan oleh fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghormati ilmu pengetahuan, membuka ruang dialog, dan berani menguji setiap persoalan secara jernih.

Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuasaan dapat berubah, tetapi kebenaran dan ilmu pengetahuan akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup di tengah masyarakat.

Sumber: Adhie M Massardi
Editor: Agusto Sulistio dan Tim Redaksi Pikiranmerdeka.com