Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Hari Kanker Paru Sedunia yang diperingati setiap 1 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menggelar Webinar untuk kembali menyoroti kanker paru sebagai salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.
Webinar di moderator oleh
Dr. Ungky Agus Setyawan Sp.P(K), dengan sambutan oleh Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) oleh: DR. Dr. Arif Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS, lalu
Pemaparan Hari Kanker Paru Sedunia oleh: Dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR
Dalam paparannya, dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR., menegaskan beban penyakit ini masih tinggi, tidak hanya dari sisi insiden dan mortalitas, tetapi juga morbiditas yang menurunkan kualitas hidup pasien dan keluarganya.
“Tantangan tersebut semakin kompleks karena kanker paru sering berkembang tanpa gejala spesifik pada fase awal, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit telah berada pada stage lanjut dan memerlukan tata laksana yang lebih kompleks,” ujar dr. Erlang dalam webinar bertema global hari kanker paru sedunia yang tahun ini adalah “Togheter Through Lung Cancer atau Bersama Melewati Kanker Paru.
Menurut dr. Erlang, salah satu persoalan terbesar adalah faktor risiko yang masih sulit dikendalikan, terutama konsumsi rokok dan paparan asap rokok.
Di sisi lain, program skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi belum berjalan secara luas dan terstruktur, sedangkan akses terhadap pemeriksaan untuk deteksi dini juga masih terbatas.
“Akibatnya, kesempatan menemukan kanker paru pada stage awal, ketika terapi dengan tujuan kuratif masih lebih memungkinkan belum dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Ia menekankan penguatan pencegahan, pengendalian tembakau, edukasi masyarakat, serta pengembangan skrining berbasis risiko perlu menjadi bagian integral dari strategi nasional pengendalian kanker paru.
dr. Erlang juga menyampaikan kemajuan dalam pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, serta pemeriksaan biomarker molekular telah memperluas pilihan pengobatan kanker paru.
Namun, karena sebagian besar pasien masih datang pada stadium lanjut, tujuan terapi pada banyak kasus masih berorientasi pada pengendalian penyakit, memperpanjang kelangsungan hidup, mengurangi gejala, dan mempertahankan kualitas hidup, bukan mencapai kesembuhan.
Tantangan lainnya adalah belum meratanya fasilitas diagnostik dan terapi, termasuk pemeriksaan molekular, radioterapi, layanan intervensi, serta ketersediaan dan keterjangkauan obat kanker paru di berbagai wilayah Indonesia.
Together Through Lung Cancer” Tegaskan Pentingnya Kolaborasi
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia memiliki modal penting berupa sumber daya manusia yang terus berkembang. Dokter spesialis paru telah tersebar di berbagai daerah, disertai pengembangan kompetensi melalui fellowship serta keberadaan konsultan yang semakin memperkuat pelayanan kanker paru secara multidisiplin.
“Semangat ‘Together Through Lung Cancer’ menegaskan bahwa perbaikan luaran kanker paru membutuhkan kolaborasi antara pasien, keluarga, tenaga kesehatan, rumah sakit, pemerintah, organisasi profesi, komunitas, industri, dan masyarakat,” tegas dr. Erlang.
Ia menambahkan, dengan bekerja bersama, kita dapat memperkuat pencegahan, memperluas skrining dan deteksi dini, meningkatkan akses terhadap diagnosis dan terapi modern, serta menghadirkan pelayanan kanker paru yang lebih merata, terintegrasi, dan berpusat pada pasien di seluruh Indonesia.
Kontributor : Amhar Batu AttoZ