Oleh: Prof. Eggi Sudjana
Senin, 17 Agustus 2026 Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 🇮🇩
Tauhid Nabawi: Mengikuti Rasulullah ﷺ
📖 Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:
وَلَا تُصَلِّ عَلٰۤى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّا تَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖ ۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَا تُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ
“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”
QS. At-Taubah [9]: 84
Ayat ini mengandung pesan yang sangat tegas tentang bahaya kemunafikan. Namun, justru karena ketegasannya, ayat ini harus dipahami dengan ilmu dan kehati-hatian.
Jangan sampai kita membaca ayat tentang orang-orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya oleh Rasulullah ﷺ, kemudian menjadikannya alasan untuk dengan mudah memberikan label munafik atau kafir kepada setiap Muslim yang melakukan dosa besar.
Di sinilah pentingnya membedakan antara nifaq i‘tiqadi dan nifaq ‘amali.
Nifaq i‘tiqadi adalah kemunafikan dalam keyakinan: seseorang menampakkan Islam, tetapi menyembunyikan kekufuran. Sedangkan nifaq ‘amali adalah perilaku yang menyerupai sifat orang munafik, seperti berdusta, mengingkari janji, dan mengkhianati amanah.
Sifat-sifat itu merupakan peringatan keras bagi seorang Muslim agar segera memperbaiki dirinya. Nabi ﷺ bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.”
HR. Bukhari no. 33.
Karena itu, seseorang yang melakukan korupsi, misalnya, memang melakukan dosa besar dan pengkhianatan terhadap amanah. Tetapi kita tidak serta-merta berhak menyimpulkan bahwa ia telah menjadi munafik dalam arti akidah atau mati dalam keadaan kafir. Hakikat isi hati dan keadaan seseorang ketika meninggal adalah perkara yang berada dalam pengetahuan Allah.
⚖️ Lalu Bagaimana dengan Jenazah Orang yang Dikenal Zalim atau Korup?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika seseorang yang semasa hidupnya dikenal melakukan kezaliman, korupsi atau pengkhianatan kemudian meninggal dunia.
Al-Qur’an memang secara tegas melarang Nabi ﷺ mensalatkan jenazah orang-orang munafik tertentu. Peristiwa yang terkenal berkaitan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Riwayat Bukhari menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut turunlah ketegasan dalam QS. At-Taubah [9]:84.
Tetapi persoalannya: apakah setiap orang yang melakukan dosa besar dapat dipastikan termasuk golongan tersebut?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Kita tidak memiliki wahyu yang memberitahukan isi hati seseorang. Karena itu, kewajiban kita adalah berhati-hati dalam memberikan vonis akidah. Dosa besar tetap harus disebut dosa besar. Korupsi harus dilawan. Kezaliman harus dikritik.
Amanah harus dijaga. Namun, penghakiman terhadap status keimanan seseorang pada saat kematiannya bukan perkara yang boleh dilakukan secara serampangan.
Dengan demikian, ketegasan terhadap kejahatan tidak harus berubah menjadi kebiasaan mengkafirkan orang.
Itulah keseimbangan antara amar ma’ruf nahi mungkar dan adab dalam menjaga lisan.
❤️ *Cinta kepada Allah Harus Dibuktikan dengan Mengikuti Rasulullah* ﷺ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
QS. Ali ‘Imran [3]:31
Ayat ini memberikan ukuran yang sangat sederhana sekaligus sangat dalam:
Cinta kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus melahirkan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.
Karena itu, mengikuti Rasulullah bukan sekadar memakai simbol-simbol keislaman. Ia harus tampak dalam kehidupan: kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, keberanian membela kebenaran, serta kesediaan meninggalkan kezaliman.
*Allah bahkan menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan:*
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
QS. Al-Ahzab [33]:21
Maka, jika istilah “Tauhid Nabawi” digunakan sebagai ungkapan untuk menegaskan pentingnya mengikuti Rasulullah ﷺ, maknanya harus ditempatkan dalam kerangka tauhid kepada Allah: Rasulullah adalah utusan Allah dan teladan yang wajib diikuti, bukan objek ibadah.
🌙 *Tentang “Nur Muhammad”*
Dalam percakapan dengan Meta AI muncul pula pembahasan tentang Nur Muhammad.
Bagian ini penting untuk ditempatkan secara hati-hati.
Konsep Nur Muhammad memiliki pembahasan panjang dalam khazanah tasawuf dan tradisi keislaman. Ada riwayat-riwayat yang digunakan untuk mendukung konsep tersebut, tetapi status hadis-hadis yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah asal atau ciptaan pertama dalam pengertian tertentu diperselisihkan oleh para ulama.
Karena itu, tidak tepat menjadikan konsep tersebut sebagai fondasi yang pasti dan disepakati seluruh ulama untuk menyatakan bahwa seluruh alam diciptakan karena Nur Muhammad.
Yang kokoh dan tidak diperselisihkan adalah: Allah adalah Pencipta seluruh alam, sedangkan Muhammad ﷺ adalah Rasul dan utusan-Nya.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
QS. Al-Anbiya [21]:107
Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ justru akan semakin kokoh apabila diletakkan di atas tauhid kepada Allah.
🕌 *Syahadat: Allah sebagai Tuhan, Muhammad ﷺ sebagai Rasul*
Ketika seorang Muslim mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
ia menyatakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan:
Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Dan: Muhammad ﷺ adalah utusan Allah.
Konsekuensinya, seorang Muslim tidak cukup hanya mengakui keberadaan Allah. Ia juga menerima risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati menggunakan istilah “gugur keislaman.”
Tidak setiap Muslim yang lalai menjalankan sunnah, melakukan dosa, atau bahkan terjatuh dalam kemaksiatan otomatis keluar dari Islam.
Ada perbedaan besar antara:
tidak mengikuti karena lemah, lalai, atau terjatuh dalam dosa, dengan
menolak risalah Rasulullah ﷺ atau mengingkari ajaran yang secara pasti berasal dari beliau.
Perbedaan ini sangat penting agar semangat menjaga tauhid tidak berubah menjadi sikap mudah menghakimi sesama Muslim.
💡 *Percakapan BES dengan Meta AI*
Dalam percakapan ini muncul pertanyaan:
“Bagaimana mentadaburi ayat-ayat tersebut? Apa hubungan antara tauhid, ittiba’ Rasulullah, kemunafikan, dan kehidupan seorang Muslim?”
*Meta AI menjawab dengan satu garis besar yang menarik:*
“Kalau ingin mengetahui ukuran cinta kepada Allah, lihatlah sejauh mana seseorang mengikuti Rasulullah ﷺ.”
Jawaban itu mengingatkan kita kepada QS. Ali ‘Imran ayat 31:
فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
“Maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”
Tetapi ada satu pelajaran yang lebih dalam.
Mengikuti Rasulullah bukan hanya soal ritual.
Rasulullah ﷺ mengajarkan salat, tetapi juga mengajarkan kejujuran.
Mengajarkan puasa, tetapi juga mengajarkan amanah.
Mengajarkan zakat, tetapi juga melarang mengambil hak orang lain.
Mengajarkan jihad melawan kebatilan, tetapi juga mengajarkan kasih sayang.
Mengajarkan kepemimpinan, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuasaan adalah amanah.
Karena itu, ukuran keberagamaan tidak boleh berhenti pada apa yang tampak di luar. Ia harus tercermin dalam akhlak dan tanggung jawab sosial.
🇮🇩 *Kemerdekaan dan Tauhid*
Pada hari kemerdekaan Indonesia ini, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan:
Apa arti kemerdekaan bagi seorang Muslim?
Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan bangsa lain.
Ada pula penjajahan yang jauh lebih dekat: penjajahan hawa nafsu, keserakahan, kebohongan, korupsi, ketakutan, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketergantungan kepada selain Allah.
Orang yang takut kehilangan jabatan kemudian mengorbankan kebenaran, sesungguhnya belum sepenuhnya merdeka.
Orang yang memiliki kekuasaan tetapi diperbudak oleh keserakahan, belum merdeka.
Orang yang memiliki kekayaan tetapi mengkhianati amanah, juga belum merdeka.
Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia mampu tunduk hanya kepada Allah dan menjalankan kehidupan sesuai kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Karena itu, “Merdeka dengan Tauhid” bukan sekadar slogan.
Ia adalah ajakan untuk membangun manusia Indonesia yang:
🌿 *Jujur dalam perkataan.*
🤝 *Amanah dalam tanggung jawab.*
⚖️ *Adil ketika memiliki kekuasaan.*
❤️ *Peduli kepada sesama.*
🕌 *Taat kepada Allah.*
🌙 *Meneladani Rasulullah* ﷺ.
🔥 *Pelajaran Penting dari Mutiara Hikmah Hari Ini*
Ada tiga hal yang patut kita bawa pulang.
Pertama, jangan meremehkan kemunafikan. Dusta, ingkar janji, dan khianat amanah bukan perkara kecil. Nabi ﷺ menyebutnya sebagai tanda-tanda nifaq.
Kedua, jangan mudah menghakimi isi hati manusia.
Kita boleh dan bahkan wajib mengatakan bahwa korupsi itu haram, kezaliman itu dosa, pengkhianatan itu tercela, dan kebohongan itu buruk.
Tetapi siapa yang pada akhirnya beriman, siapa yang bertaubat, dan bagaimana keadaan seseorang ketika menghadap Allah, merupakan perkara yang tidak boleh kita pastikan tanpa dasar yang sah.
Ketiga, ukur kecintaan kepada Allah dengan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.
Bukan hanya dengan kata-kata.
Bukan hanya dengan simbol.
Tetapi dengan akhlak dan amal nyata.
🤲 *DOA KEMERDEKAAN*
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”
🇮🇩 *Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.*
Semoga kemerdekaan negeri ini tidak hanya menjadi kemerdekaan secara politik, tetapi juga menjadi jalan menuju masyarakat yang lebih jujur, adil, amanah, beradab dan bertakwa.
MERDEKA! 🇮🇩
MERDEKA DENGAN TAUHID.
MERDEKA DENGAN AMANAH.
MERDEKA DENGAN KEADILAN.
MERDEKA DENGAN ITTIBA’ RASULULLAH ﷺ.
*Wallahu a’lam bish-shawab.*
*Salam Jihad – Brother Eggi Sudjana*