BES: Janji Allah dalam QS. An-Nur Ayat 55 dan Sumpah Pemuda, Persatuan sebagai Landasan Membangun Bangsa

Okt 29, 2026

Oleh: Prof. Eggi Sudjana – Brother Eggi Sudjana (BES)

📖 Janji Allah tentang Kekuasaan, Peneguhan Agama, dan Keamanan

Pikiranmerdeka.com – Kamis, 29 Oktober 2026, sehari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, Prof. Eggi Sudjana atau Brother Eggi Sudjana (BES) mengajak masyarakat merenungkan hubungan antara janji Allah dalam Al-Qur’an, khususnya Surah An-Nur ayat 55, dengan tekad persatuan yang diwariskan para pemuda Indonesia pada 1928.

Dalam refleksinya, BES mengangkat tiga pokok utama dalam ayat tersebut, yakni janji kekuasaan bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh, peneguhan agama yang diridai Allah, serta perubahan keadaan dari ketakutan menuju keamanan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nur ayat 55:

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

(QS. An-Nur [24]: 55)

🇮🇩 Sumpah Pemuda sebagai Tonggak Persatuan Bangsa

BES menghubungkan pesan ayat tersebut dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang menegaskan tekad bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Menurut refleksi BES, Sumpah Pemuda merupakan ikrar persatuan manusia, sedangkan janji dalam QS. An-Nur ayat 55 merupakan janji Ilahi. Keduanya dihubungkan melalui ikhtiar, iman, amal saleh, dan persatuan.

Pemikiran tersebut juga dikaitkan dengan QS. Ar-Ra’d ayat 11, yang menjelaskan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Dalam konteks sejarah Indonesia, Sumpah Pemuda menjadi tonggak perubahan kesadaran kebangsaan. Para pemuda berupaya mengatasi perbedaan suku dan bahasa untuk membangun identitas bersama. Perjuangan itu kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan panjang menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

🏛️ Sejarah Nusantara dan Makna Kekuasaan

Dalam pembahasan mengenai Layastakhlifannahum fil ardi, yang berarti janji menjadikan suatu kaum berkuasa di bumi, BES mengajak pembaca menengok sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain Sriwijaya, Majapahit, Demak, dan Aceh.

Nama Prabu Siliwangi dan Gajah Mada juga diangkat sebagai bagian dari ingatan sejarah tentang pemerintahan dan kejayaan Nusantara. Sumpah Palapa yang dikaitkan dengan Gajah Mada pada masa Majapahit dipandang sebagai simbol cita-cita penyatuan wilayah.

Sementara itu, Sumpah Pemuda 1928 menegaskan identitas kebangsaan melalui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kedua peristiwa tersebut memiliki konteks sejarah berbeda, tetapi dapat menjadi bahan renungan mengenai pentingnya persatuan dalam membangun kehidupan bersama.

BES menempatkan kekuasaan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah yang harus disertai keimanan, amal saleh, dan tanggung jawab.

🕌 Peneguhan Agama dan Peran Bahasa Indonesia

Pokok kedua dalam QS. An-Nur ayat 55 adalah Walayumakkinanna lahum dinahumul ladzi irtadha lahum, yang bermakna Allah akan meneguhkan agama yang diridai-Nya.

Dalam refleksi kebangsaan yang disampaikan BES, gagasan peneguhan tersebut dikaitkan dengan peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Para pemuda pada 1928 memilih Bahasa Indonesia sebagai sarana membangun komunikasi lintas suku dan wilayah tanpa harus menghapus bahasa daerah.

Bahasa Indonesia menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat identitas nasional. Keberadaannya memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya membangun komunikasi dan bekerja sama dalam kehidupan berbangsa.

Dalam konteks ini, perlu dibedakan bahwa bahasa persatuan bukanlah agama dalam pengertian akidah. Hubungan antara peneguhan agama dalam ayat dan persatuan bahasa merupakan refleksi kebangsaan yang dikembangkan BES, bukan makna harfiah ayat tersebut.

🕊️ Dari Ketakutan Menuju Keamanan

Pokok ketiga adalah Walayubaddilannahum min ba’di khaufihim amna, yakni perubahan keadaan dari ketakutan menjadi aman sentosa.

Dalam sejarah Indonesia, masa penjajahan menghadirkan penderitaan, pembatasan kebebasan, dan berbagai tantangan bagi masyarakat. Persatuan menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi keadaan tersebut.

Sumpah Pemuda memperkuat kesadaran bahwa perjuangan tidak cukup dilakukan secara terpisah berdasarkan suku atau daerah. Semangat kebangsaan menjadi bagian dari proses panjang menuju kemerdekaan.

Setelah Proklamasi 1945, Indonesia memperoleh kesempatan untuk mengatur kehidupan bernegara secara mandiri. Meski demikian, keamanan dan kesejahteraan tetap membutuhkan upaya berkelanjutan melalui keadilan, penegakan hukum, persatuan, dan tanggung jawab pemerintah serta masyarakat.

🤝 Tauhid, Antikorupsi, dan Tanggung Jawab Generasi Muda

BES juga menyoroti bagian ayat Ya’budunani la yusyrikuna bi syai’a, yang berarti manusia menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Dalam refleksinya, prinsip tauhid tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak mengultuskan suku, golongan, jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan. Persatuan bangsa perlu dibangun dengan menghormati perbedaan serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Pesan ini juga dikaitkan dengan pentingnya menolak korupsi dan suap, menjaga integritas, serta menghindari tindakan yang merugikan masyarakat.

Bagi generasi muda pada 2026, setelah 98 tahun Sumpah Pemuda dan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, pesan tersebut menjadi ajakan untuk menjaga persatuan, menolak sikap rasial, dan memperkuat tanggung jawab moral maupun spiritual.

BES turut mengingatkan bahwa kemajuan material perlu diimbangi dengan tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia. Hal ini sejalan dengan refleksi atas QS. Ar-Rum ayat 7 mengenai orang-orang yang hanya mengetahui sisi lahiriah kehidupan dunia, tetapi lalai terhadap kehidupan akhirat.

⚠️ Peringatan tentang Pengingkaran dan Tanggung Jawab Moral

Bagian akhir QS. An-Nur ayat 55 menyatakan bahwa mereka yang mengingkari setelah datangnya janji tersebut termasuk orang-orang fasik.

Dalam konteks keagamaan, fasik berkaitan dengan tindakan keluar dari ketaatan kepada Allah. BES menggunakannya sebagai pengingat agar generasi muda tidak meninggalkan nilai-nilai keimanan, persatuan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Semangat Sumpah Pemuda, menurut refleksi tersebut, perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Persatuan tidak cukup diucapkan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk menghormati perbedaan, menolak korupsi, dan menjaga kepercayaan publik.

Peringatan tersebut juga mengajak masyarakat agar tidak menjadikan kepentingan pribadi atau kelompok sebagai alasan untuk merusak persatuan bangsa.

🌺 Kesimpulan: Persatuan, Iman, dan Amal Saleh

Dalam kesimpulannya, BES menilai bahwa QS. An-Nur ayat 55 dan Sumpah Pemuda memiliki hubungan erat sebagai bahan refleksi tentang iman, ikhtiar, persatuan, kekuasaan, dan keamanan.

Ayat tersebut memuat tiga pokok utama, yaitu kekuasaan di bumi, peneguhan agama yang diridai Allah, serta perubahan dari ketakutan menuju keamanan. Sementara itu, Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia.

Hubungan keduanya merupakan refleksi keimanan dan kebangsaan. QS. An-Nur ayat 55 tidak secara khusus menyebut Sumpah Pemuda, sehingga hubungan tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai pernyataan langsung Al-Qur’an mengenai peristiwa sejarah Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang berbagai unsur bangsa. Oleh karena itu, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemerdekaan melalui persatuan, kejujuran, keadilan, kerja nyata, dan kepedulian terhadap sesama.

BES juga mengingatkan kembali doa Nabi Sulaiman yang memohon kemampuan untuk mensyukuri nikmat Allah, mengerjakan amal saleh yang diridai-Nya, dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Pesan akhirnya, persatuan harus disertai rasa syukur, keimanan, dan amal nyata agar tidak berhenti sebagai ikrar semata.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Salam Jihad dan Sabar, BES – Brother Eggi Sudjana