Oleh : Musni Umar, Sosiolog & Akademisi, Adjunct Professor Asia E University, Malaysia.
Tidak usah menjadi seorang ekonom untuk memahami bahwa ekonomi kita dalam keadaan yang sangat berat, karena bagaikan kata pepatah “Besar Pasak Daripada Tiang.”
Diketahui, bahwa pada bulan Februari 2026 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp 135,7 Triliun.
‘Arti defisit adalah keadaan di mana jumlah pengeluaran, belanja, atau utang lebih besar daripada pendapatan, aset atau penerimaan,” ungkap Musni Umar yang juga adalah Koordinator Aliansi Gerakan Menegakkan Keadilan (A-GMK)
Kalau negara kita andaikan seperti rumah tangga, setiap bulan mengalami defisit yaitu belanja untuk membiayai kehidupan keluarga lebih besar daripada pendapatan, lalu untuk menutup kekurangan belanja terpaksa berutang, maka cepat atau lambat akan mengalami masalah besar, karena utang harus dibayar kembali berikut bunganya.
Masalah Besar
Indonesia bakal mengalami masalah besar di masa depan, jika negara dikelola dengan defisit APBN yang sangat besar.
Mengapa? Karena utang yang menumpuk sejak era Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi jatuh tempo.
Tahun 2026, diperkirakan utang pokok yang jatuh tempo dan harus dibayar sekitar Rp 800 triliun ditambah bunga utang mendekati Rp600 triliun.
Pertanyaannya, darimana peroleh uang untuk bayar utang pokok berikut bunganya yang luar biasa besar itu?
Perlu diketahui, untuk menutup defisit bulan Januari Rp54,6 triliun ditambah defisit Februari 2026 135,7 Triliun sudah sangat berat karena harus ditutup dengan utang baru. Belum lagi defisit 10 bulan mendatang.
Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI ke- 10 dan ke- 12 mengemukakan dalam buka puasa dengan KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) tgl 6/3/2026 tentang masalah ekonomi yang dihadapi karena bisa akhir tahun ini kita tidak bisa bayar utang pokok dan bunga yang jatuh tempo, bahkan tidak bisa bayar gaji pegawai dan pensiun.
Pak JK minta alumni HMI membantu mengatasi masalah besar yang dihadapi. JK juga mengingatkan, daerah mengalami kesulitan untuk membangun daerahnya imbas pemotongan bantuan ke daerah karena efisiensi.
Menurut Pak JK semua penting untuk dibangun, tetapi harus ada skala prioritas karena anggaran kita terbatas.
Editor : Amhar Batu AttoZ