Lebaran Jakarta era 80an dalam Kenangan Ekonomi Rakyat

Mar 16, 2026

Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed.

Jelang Lebaran Kota Jakarta era tahun 1980-an hadirkan kenangan dan suasana yang khas yang berkesan. Ramai tapi ada kehangatan yang hidup dari warga dan kotanya. Kenangan masa kecil ini adalah potret nyata yang pernah ada dalam kehidupan kota yang lebih sederhana, lebih akrab, dan lebih merata.

Masa kecil saya pernah tumbuh di kawasan Paseban, Salemba di Jakarta Pusat. Setiap menjelang Lebaran, suasana kampung lebih hidup dari biasanya, bukan karena bersiap menyambut hari raya, tetapi karena kegiatan ekonomi rakyat tampak hidup dan tumbuh.

Pagi-pagi sekali ibu-ibu kalangan atas dan bawah sudah berjalan ke pasar tradisional. Sebagian ke Pasar Paseban, Pasar Genjing, Encle, dll sebagian lagi ke Pasar Senen.

Di pasar tradisional itulah denyut ekonomi rakyat benar-benar terasa. Uang non digital berputar cepat.

Pedagang sayur, buah, ayam potong, santan, hingga penjual bumbu dapur semuanya sibuk melayani pembeli.

Tak peduli kaya dan miskin, tawar-menawar berjalan akrab, kadang diselingi tawa, dan khas bawelnya pembeli. Namun demikian semua pedagang merasakan peningkatan rezeki.

Penjual ketupat dari pinggiran Bogot kebanjiran pesanan. Pedagang ayam kampung dari Karawang bekerja sejak subuh. Penjual kain dan pakaian di kios-kios pasar juga ramai karena banyak keluarga ingin membeli baju baru untuk anak-anaknya.

Yang menarik, pada masa itu kegiatan ekonomi terasa tersebar merata ke seluruh pelosok tanah air. Tak ada persaingan usaha yang berlebihan, dalam satu jalan atau gang tidak banyak berderet pedagang kaki lima seperti sekarang, apalagi minimarket modern yang berdiri hampir di setiap sudut seperti Alfamart atau Indomaret. Aktivitas perdagangan lebih banyak terpusat di pasar tradisional, toko keluarga, dan kios-kios kecil milik warga. Bukti lapangan kerja tersedia dan baya beli warga normal.

Karena itu rezeki terasa berputar, merata di berbagai sektor. Di rumah-rumah, dapur terus ngebul, Ibu-Ibu sibuk memasak, Bapak bekerja, anak-anak bermain tanpa ada kekhawatiran anaknya terjerumus Narkoba, maklum jaman itu belum ada.

Aroma bawang goreng dan santan yang dimasak jadi opor ayam menyebar ke seluruh gang. Stoples kaca berisi kue Lebaran dari roti gambang, sagon, rengginang hingga putri salju dan nastar, mulai disusun di meja tamu.

Usai buka puasa di hari akhir Ramadhan, bapak-bapak duduk santai di teras rumah atau pos ronda, omon-omon sederhana sambil minum kopi.

Di jalanan sekitar Salemba, roda ekonomi juga bergerak lewat transportasi rakyat. Sopir Bis Patas, PPD, metromini, helicak, bajaj, tukang becak, semuanya sibuk mengantar penumpang yang berbelanja atau bersilaturahmi. Banyak keluarga menggantungkan nafkah dari profesi itu, dan menjelang Lebaran biasanya penghasilan mereka juga meningkat.

Di kawasan Cikini, restoran-restoran mulai ramai oleh keluarga yang ingin makan bersama. Salah satu yang terkenal waktu itu adalah Trio Restaurant. Restoran ini menjadi tempat berkumpul keluarga yang merayakan kebersamaan menjelang hari raya.

Tak jauh dari sana, pabrik dan toko roti legendaris seperti Tan Ek Tjoan juga mengalami kesibukan menjelang Lebaran. Penjual roti keliling pun kebanjiran pembeli untuk suguhan tamu.

Di sektor hiburan rakyat, dunia bioskop, juga alami peningkatan. Jakarta pada masa itu banyak bioskop yang menjadi tempat hiburan masyarakat dari berbagai kalangan.

Di kawasan Cikini, Bioskop Metropole Megaria.. Ada pula Bioskop TIM, Rivoli yang cukup terkenal. Di kawasan Pasar Genjing ada Bioskop Tawang, dan di tempat lain berdiri Johar Theater.

Bioskop-bioskop itu bukan hanya tempat menonton film, tetapi juga sumber penghidupan bagi banyak orang. Ada penjual karcis di loket, penjaga pintu yang merobek tiket, operator proyektor di ruang atas, tukang tempel poster, hingga pedagang makanan kecil di sekitar gedung.

Poster film pada masa itu bahkan dibuat dengan cara yang sangat unik. Wajah para bintang film dilukis dengan tangan di atas kain besar menggunakan cat minyak. Lukisan itu kemudian dipasang tinggi di bagian depan gedung bioskop agar menarik perhatian orang yang lewat.

Kebetulan salah satu tetangga di kampung saya bekerja di dunia itu. Ia menggambar poster-poster film tersebut, lalu ikut memasang dan menurunkannya dari atap depan gedung bioskop. Setelah masa tayang film selesai, poster itu dibongkar dan dipasang kembali di bioskop lain. Begitu pula dengan pita filmnya yang berpindah dari satu bioskop ke bioskop lainnya.

Saat itu belum ada jaringan bioskop besar Cinema XXI yang mendominasi seperti sekarang. Bioskop berdiri secara mandiri dan menjadi bagian dari kehidupan lingkungan sekitarnya.

Di dalam bioskop kelas rakyat juga ada cerita unik yang selalu dikenang.

Film waktu itu masih menggunakan pita seluloid. Karena satu gulungan tidak cukup untuk satu film penuh, di tengah pertunjukan film sering berhenti sebentar untuk mengganti gulungan berikutnya.
Begitu proyektor mati, layar bioskop menjadi gelap.

Saat itulah anak-anak biasanya berlari ke depan layar. Mereka menirukan adegan kungfu dari film yang baru saja diputar.
Tokoh yang paling sering ditiru adalah Jackie Chan, yang di Indonesia dikenal dengan nama “Ceng Lung”. Salah satu filmnya yang sangat populer waktu itu adalah Drunken Master.

Anak-anak menirukan gerakan kungfu mabuk yang lucu dari film itu. Ada yang pura-pura menendang, ada yang berguling di depan layar. Penonton dewasa biasanya tertawa melihat tingkah mereka.
Tak lama kemudian proyektor kembali menyala dan film dilanjutkan.

Selain bioskop gedung, masyarakat, Hansip, Polisi, Pedagang Asongan membaur menikmati hiburan lewat layar tancap. Pada malam-malam tertentu, terutama saat perayaan kemerdekaan 17 Agustus atau libur panjang Lebaran, layar putih besar dipasang di lapangan kampung. Warga duduk di tikar menonton film bersama sampai larut malam.

Suasana itu terasa meriah namun akrab. Malam takbiran menjadi malam yang paling hidup. Anak-anak membawa obor dan bedug kecil berkeliling kampung. Takbir menggema dari masjid ke masjid.

Pagi Lebaran pertama warga berjalan menuju tempat salat Ied. Sebagian menuju masjid di pertigaan Mentjos, dekat Stasiun Kramat. Sebagian lagi menuju Masjid Arief Rahman Hakim di kampus Universitas Indonesia.

Setelah salat Ied, banyak warga melanjutkan tradisi ziarah ke makam keluarga di TPU Kawi-Kawi. Tempat itu penuh oleh peziarah dari Salemba, Sentiong, Percetakan Negara, Poncol, dan Kramat.

Di sana orang membersihkan makam orang tua, menabur bunga, dan berdoa. Dulu saya juga datang ke sana bersama bapak dan ibu. Kini mereka telah tiada, dan kenangan itu terasa semakin berharga.

Jika kita melihat Jakarta hari ini pada tahun 2026, perbedaannya terasa sangat kontras.
Dulu dunia tanpa internet, tanpa telepon pintar, tanpa media sosial. Kehidupan sosial berlangsung, langsung dari manusia ke manusia.

Kini teknologi digital telah mengubah hampir seluruh cara manusia hidup. Internet dan media sosial membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Perubahan itu membawa kemajuan besar, tetapi juga mengubah pola kehidupan masyarakat.

Interaksi sosial banyak berpindah ke ruang digital. Kehidupan menjadi lebih individual. Orang mudah terpengaruh arus informasi yang cepat, bahkan sering larut dalam perdebatan dan isu-isu politik yang memecah perhatian masyarakat.

Jika dibandingkan dengan masa Jakarta tahun 80-an, masyarakat saat itu terasa lebih tenang dalam menjalani kehidupan. Orang sibuk bekerja, berdagang, mengemudi kendaraan, memasak di dapur, atau menonton hiburan bersama.

Ekonomi rakyat bergerak di banyak sektor secara alami. Dari pasar tradisional, transportasi, restoran, pabrik roti, hingga dunia hiburan bioskop.

Mungkin itulah sebabnya suasana kehidupan terasa lebih seimbang dan harmonis.
Kenangan Lebaran Jakarta tempo dulu adalah bukti nyata ekonomi rakyat berjalan.

Sebuah masa yang mungkin tidak akan kembali, tetapi akan selalu hidup dalam kenangan.

Kalibata, Jakarta Selatan, 16 Maret 2026, 12:36 Wib.