Mantan Presiden Rusia Sebut Sejumlah Negara Siap Kirim Senjata Nuklir ke Iran

Jun 23, 2025

Ket gambar: Dmitry Medvedev (lahir 14 September 1965, Leningrad, Rusia, 
Uni Soviet [sekarang St. Petersburg, Rusia]) adalah seorang pengacara dan politikus Rusia yang menjabat sebagai 
presiden (2008–12) dan 
perdana menteri (2012–20) 
Rusia .

Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas. Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, mengeluarkan peringatan serius, sejumlah negara disebut siap memasok langsung hulu ledak nuklir ke Iran.

Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Medvedev melalui unggahan di Telegram, hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran, termasuk Fordow.

“Beberapa negara siap mengirim hulu ledak nuklir mereka sendiri langsung ke Iran,” tulis Medvedev, tanpa menyebut negara-negara yang dimaksud.

Ia menyebut serangan yang diperintahkan Presiden Donald Trump sebagai langkah strategis yang gagal dan justru memicu bencana politik.

“Trump yang datang sebagai presiden pembawa damai, kini memulai perang baru bagi AS,” kritiknya tajam.

Medvedev mengklaim bahwa dampak serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tergolong kecil. “Kemampuan Iran dalam memperkaya uranium tetap utuh. Produksi nuklir masa depan tetap berjalan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Israel kini hidup di bawah ancaman yang meningkat, dan operasi darat dari pihak Amerika sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“Alih-alih melemahkan, serangan ini justru memperkuat posisi politik Iran di mata rakyatnya,” tambah Medvedev.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran besar.

“Fasilitas nuklir kami diserang. Ini telah melewati batas. Kami harus menanggapinya,” kata Araghchi kepada wartawan.

Ia menegaskan bahwa Iran dan Rusia selalu berkonsultasi erat. Hari itu juga, ia terbang ke Moskow untuk melakukan pertemuan penting dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. “Pertemuan ini adalah bentuk konsultasi serius,” ujarnya.

(Agt/PM – Sumber: Reuters)