MayDay, dari Chicago ke Sidoarjo, dari Darah Menuju Martabat

Mei 1, 2026

Oleh: Agusto Sulistio

Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Banyak orang mengetahui tragedi Haymarket affair di Chicago sebagai awal mula peringatan ini. Namun sesungguhnya, sejarah 1 Mei adalah kisah panjang tentang keberanian, pengorbanan, dan perjuangan manusia mempertahankan martabatnya.

Di balik libur nasional, panggung orasi, dan lautan bendera, tersimpan jejak darah, air mata, dan tekad yang tak pernah surut.

Chicago 1886, ketika Delapan Jam kerja menjadi tuntutan revolusioner. Pada akhir abad ke-19, buruh di Amerika Serikat bekerja hingga 14 sampai 16 jam sehari. Upah rendah, keselamatan kerja diabaikan, dan kehidupan keluarga nyaris terampas oleh pabrik.

Tanggal 1 Mei 1886, lebih dari 350.000 buruh melakukan mogok nasional. Tuntutan mereka sederhana, delapan jam bekerja, delapan jam beristirahat, delapan jam untuk hidup sebagai manusia.

Empat hari kemudian, aksi damai di Haymarket, Chicago, berubah menjadi tragedi. Sebuah bom meledak di tengah kerumunan. Polisi melepaskan tembakan. Korban berjatuhan. Aktivis buruh ditangkap, diadili dan empat di antaranya dihukum gantung.

Salah seorang dari tragedi itu, aktivis buruh, August Spies, mengecam penguasa dengan kata-kata yang mengguncang sejarah:

“Suatu hari, keheningan kami akan lebih kuat daripada suara yang kalian cekik hari ini.”

Rusia 1905, darah membeku di atas salju. 22 Januari 1905, ribuan buruh Rusia berjalan damai menuju Istana Musim Dingin di Saint Petersburg.

Dipimpin Pastor Georgy Gapon, mereka membawa ikon keagamaan dan petisi. Mereka datang bukan untuk memberontak, melainkan untuk memohon keadilan.

Namun kekuasaan memilih menjawab dengan peluru.
Peristiwa Bloody Sunday itu telah menewaskan ratusan orang. Salju putih berubah merah. Dunia tersentak.

Afrika Selatan 1946, emas dibayar dengan nyawa. Puluhan ribu penambang kulit hitam melakukan mogok di tengah kerasnya sistem apartheid.

Mereka hanya meminta upah yang layak. Namun negara menjawab dengan kekerasan.

Peristiwa yang dikenal African Mine Workers’ Strike of 1946, banyak buruh tewas, ratusan luka, ribuan ditangkap. Namun benih perjuangan anti-apartheid semakin tumbuh kuat, hingga membawa Nelson Mandela, dari penjara ke kursi presiden.

Sidoarjo 1993, Marsinah, nyala yang tak pernah padam. Namanya akan selalu hidup dalam sejarah perjuangan buruh Indonesia.

Ia memperjuangkan hak buruh perempuan dan menuntut kenaikan upah sesuai aturan. Setelah aktif memimpin aksi, Marsinah diculik.

Beberapa hari kemudian, jasadnya ditemukan dengan luka-luka penyiksaan.

Pembunuhnya tak pernah terungkap secara tuntas. Namun suara Marsinah tak pernah benar-benar dibungkam.

Mungkin ada yang mengira bahwa kisah-kisah kelam itu hanya tinggal sejarah.

Sayangnya, kenyataan berkata lain. Di abad ke-21, jutaan buruh di berbagai belahan dunia masih menghadapi eksploitasi, upah tidak layak, jam kerja berlebihan, hingga kondisi kerja yang membahayakan nyawa.

Salah satu tragedi paling memilukan terjadi pada tahun 2013, ketika gedung Rana Plaza collapse di Savar runtuh.
Lebih dari 1.100 buruh garmen tewas seketika. Ribuan lainnya terluka. Padahal sehari sebelumnya, retakan besar telah terlihat di dinding gedung. Para pekerja takut masuk, tetapi dipaksa tetap bekerja.

Mereka memilih antara kehilangan pekerjaan atau kehilangan nyawa. Dan pada hari itu, mereka kehilangan keduanya.

Namun sejarah juga mengajarkan satu hal penting: di balik setiap kegelapan, selalu ada orang-orang baik.

Ada aktivis yang tak lelah bersuara. Ada serikat pekerja yang terus memperjuangkan hak.

Ada pemimpin yang memahami bahwa kesejahteraan buruh adalah pondasi kekuatan bangsa.

Peradaban maju bukan hanya karena modal dan teknologi, tetapi karena keberpihakan kepada manusia.

Bangsa Indonesia patut bersyukur. Perjuangan kaum buruh Indonesia kini mendapatkan perhatian yang semakin nyata. Pemerintah tidak sekedar mendengar, tetapi mulai memastikan.

Negara hadir sebagai pengayom, penengah, dan penjaga keseimbangan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

Hubungan industrial yang harmonis bukanlah utopia, melainkan cita-cita yang terus dibangun.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, berbagai komitmen terhadap kesejahteraan rakyat, termasuk kaum buruh, mulai ditunaikan secara bertahap.

Peningkatan perlindungan tenaga kerja, penguatan jaminan sosial, penciptaan lapangan kerja, serta upaya menjaga iklim usaha yang sehat menjadi bagian dari langkah menuju Indonesia yang lebih adil.

Pekerjaan besar masih menanti. Masalah ketenagakerjaan tidak selesai dalam semalam. Tetapi arah keberpihakan itu semakin terlihat.

Kesejahteraan buruh bukanlah ancaman bagi pengusaha.
Keuntungan pengusaha bukanlah musuh bagi pekerja.
Pemerintah bukan hanya wasit, tapi menjamin keadilan tetap tegak.

Ketiganya harus berjalan beriringan. Buruh sejahtera, usaha bertumbuh, negara menguat. Itulah esensi pembangunan yang berkeadilan.

Dari Chicago hingga Savar, dari Marsinah hingga hari ini, pesan itu tetap sama. Tidak ada pembangunan tanpa pekerja. Tidak ada kemajuan tanpa keadilan.

Dan selama masih ada ketidakadilan, semangat 1 Mei akan selalu hidup.

Semoga setiap tetes keringat pekerja selalu berbuah kehormatan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selamat Hari Buruh Internasional.