Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Pemulihan pasar properti di Jakarta berlanjut pada kuartal pertama 2026, diwarnai dengan peralihan menuju fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan ditunjang oleh faktor struktural.
Riset terbaru CBRE Indonesia menunjukkan peningkatan kualitas permintaan di sektor perkantoran, industri/logistik, dan ritel, didukung oleh kondisi makroekonomi yang stabil serta pasokan baru yang terkendali.
Dalam pembukaan l Media Briefing CBRE Indonesia, yang berlangsung di The Flow Office, Mid plaza, Jakarta pada Rabu (6/5/2026), Angela Wibawa, Managing Director, CBRE Advisory Indonesia, menilai bahwa pola pemulihan pasar properti kali ini lebih sehat dan kuat dibandingkan siklus sebelumnya.
“Pasar properti kini tidak lagi didominasi oleh pengembangan yang sifatnya spekulatif, namun lebih di dasari permintaan real dari penyewa (occupier) dan pemakai (enduser). Hal ini menciptakan kondisi pasar yang lebih dapat diprediksi, sehingga penyewa maupun investor dapat mengambil keputusan jangka panjang dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Dalam pemaparan outlook ekonomi, Anton Sitorus, Head of Research & Consulting menekankan bahwa pertumbuhan PDB Indonesia yang stabil di kisaran 5Yo terus menjadi fondasi kuat bagi pasar properti. Realisasi investasi PMDN dan PMA pada kuartal pertama 2026 tercatat mendekati Rp 500 triliun, dengan sektor industri hilir, jasa, dan pertambangan mendominasi penanaman modal baru.
“Stabilitas ini sangat penting, dimana pertumbuhan saat ini didorong oleh penyerapan riil, bukan spekulasi, sehingga menurunkan faktor risiko kerugian dan sebaliknya mendukung imbal hasil yang berkelanjutan di hampir seluruh kategori aset properti,” jelas Anton.
Di sektor perkantoran, Judy Sinurat & Albert Dwiyanto, Co-Heads of Office Services menjelaskan bahwa kondisi pasar menunjukkan perbaikan lebih lanjut pada awal 2026.
Di kawasan CBD Jakarta, Judy menyampaikan bahwa di tengah tidak adanya proyek baru yang masuk ke pasar, tingkat penyerapan ruang kantor mencapai sekitar 21.300 meter persegi, sehingga mendorong tingkat hunian menjadi 76%.
“Permintaan terus mengarah pada gedung Premium Grade dan Grade A, didukung oleh relokasi tenant, strategi right-sizing, serta meningkatnya preferensi terhadap gedung berkualitas tinggi dan hemat energi, ” ujarnya.
Untuk wilayah Non-CBD, Albert menjelaskan bahwa satu proyek baru di kawasan PIK menambah pasokan sekitar 56.000 meter persegi. Sementara itu, Tingkat penyerapan pasar tetap sehat di kisaran 22.800 meter persegi, dengan tingkat hunian keseluruhan mencapai 72,9%.
“Harga sewa baik di CBD maupun Non-CBD mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan positif, khususnya di gedung-gedung dengan lokasi strategis dan kualitas yang lebih baik,” lanjut Albert.
Sementara itu, Ivana Susilo, Head of Capital Markets & Industrial Services, menjelaskan bahwa sektor industri dan logistik terus menunjukan kinerja yang baik. Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 86 hektare pada kuartal pertama, dengan tingkat hunian sekitar 90,%, didorong oleh aktivitas di koridor timur Jakarta.
“Tren pembangunan data center turut memberikan kontribusi signifikan terhadap permintaan selama periode ini. Sementara itu, keterbatasan ketersediaan lahan di lokasi mapan seperti Cikarang terus memberikan tekanan kenaikan harga lahan,” jelasnya.
Ivana menambahkan bahwa pusat logistik modern mencatat tingkat hunian yang tinggi, yakni sekitar 98%, mencerminkan permintaan yang sangat kuat dari pelaku e-commerce, FMCG, manufaktur, dan cold chain. Pertumbuhan harga sewa paling menonjol tercatat di Jakarta dan kawasan Bekasi—Cikarang, didukung oleh konektivitas dan pengembangan infrastruktur yang kuat.
Dari sisi pasar modal, Ivana menyampaikan bahwa CBRE masih melihat minat yang kuat dari investor asing maupun domestik terhadap aset-aset properti inti yang menghasilkan pendapatan rutin.
Pasar pusat perbelanjaan (shopping mall) juga menunjukkan penguatan pada kuartai pertama 2026. Tingkat hunian mal meningkat hingga sekitar 86%, ujar Anton Sitorus.
Ia tambahkan, permintaan bersih tercatat sekitar 15.600 meter persegi, didukung oleh ekspansi tenant F&B, lifestyle, serta peritel jasa hiburan leisure. Pusat perbelanjaan kelas atas tetap menjadi yang berkinerja terbaik dengan tingkat hunian di atas 95%, sementara mal kelas menengah-atas juga menunjukkan perbaikan yang stabil.
“Developer yang terus berinovasi dalam optimalisasi tenant mix, konsep barbasis pengalaman, and gaya hidup modern, menikmati manfaat dengan meningkatnya traffic pengunjung dan permintaan penyewaan dari peritel baru,” terangnya.
Sebagai penutup, CBRE menegaskan bahwa pasar properti di Jakarta kini berada pada periode transisi (shifting period) yang penting. Dengan kondisi saat ini, risiko pasar masih ada namun risiko tersebut lebih terukur (more measurable) dan lebih dapat dikelola (more manageable), karena didukung oleh fundamental pasar yang lebih sehat, arus pasokan yang terkendali, serta kepercayaan pasar yang terus meningkat.
“Pasar properti saat ini lebih matang dan lebih seimbang (more balanced). Tingkat pertumbuhan mungkin tidak lebih cepat dari siklus sebelumnya, akan tetapi lebih berkelanjutan (more sustainable),” tutup Angela Wibawa.
Kontributor : Amhar Batu AttoZ