JAKARTA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan akan semakin meningkatkan ancaman serangan siber di masa mendatang. Teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu aktivitas manusia kini juga mulai dimanfaatkan pelaku kejahatan digital untuk menyerang sistem keamanan perusahaan dan lembaga keuangan.
Deputy Headmaster IT Program Swiss German University, Charles Lim, mengatakan tren serangan siber berbasis AI diprediksi terus meningkat seiring teknologi AI generatif yang semakin canggih dan mudah diakses publik.
Menurut Charles, saat ini ransomware masih menjadi jenis serangan siber paling dominan. Dalam serangan tersebut, sistem korban biasanya dikunci sehingga tidak dapat beroperasi sampai tebusan dibayarkan.
“Kalau kita lihat memang serangan siber belakangan ini yang paling tinggi tetap ransomware. Ketika kena ransomware, sistem terkunci dan tidak bisa berfungsi,” kata Charles di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa ancaman baru kini mulai berkembang melalui pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber.
“Sekarang serangan siber berbasis AI pun sudah mulai naik,” ujarnya.
Charles menjelaskan AI kini menjadi “senjata bermata dua” dalam industri keamanan siber. Di satu sisi, teknologi tersebut membantu perusahaan mendeteksi ancaman dengan lebih cepat dan akurat. Namun di sisi lain, AI juga memungkinkan pelaku serangan menemukan celah keamanan yang sebelumnya sulit terdeteksi manusia.
“Serangan yang menggunakan AI tidak mungkin turun, justru akan naik,” katanya dalam peluncuran whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience bersama Indosat Ooredoo Hutchison.
Ia menilai masyarakat maupun perusahaan perlu mulai memahami pola serangan digital berbasis AI karena bentuknya semakin sulit dibedakan dari konten asli.
Salah satu contohnya adalah maraknya video deepfake dan berbagai konten manipulatif yang dibuat menggunakan AI generatif. Konten semacam ini dinilai berpotensi digunakan untuk penipuan, manipulasi opini, hingga pencurian identitas digital.
“Banyak video yang diviralkan ternyata dibuat dari AI juga. Ini yang harus hati-hati,” ujar Charles.
Tak hanya itu, AI juga mulai dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan di sektor keuangan digital, termasuk pembuatan identitas sintetis atau fake identity untuk membuka rekening bank palsu.
Menurut Charles, sejumlah bank digital saat ini masih menggunakan proses verifikasi sederhana, seperti foto wajah dan kartu identitas, sehingga rentan dimanipulasi menggunakan teknologi AI.
“Beberapa pihak bank sudah menyampaikan sekitar 50 persen transaksi pembukaan rekening itu fake atau palsu,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Charles, menunjukkan bahwa kesiapan keamanan siber perusahaan di Indonesia masih relatif rendah di tengah meningkatnya ancaman berbasis AI.
Data dalam white paper yang dipaparkan bersama Indosat menunjukkan sekitar 89 persen perusahaan di Indonesia belum memiliki tingkat kematangan keamanan siber (cyber maturity) yang memadai untuk menghadapi ancaman digital modern.
Ancaman tersebut juga tercermin dari laporan perusahaan keamanan siber Kaspersky yang mencatat lebih dari satu juta akun perbankan online diretas sepanjang 2025.
Kaspersky menyebut metode serangan kini berubah. Pelaku tidak lagi selalu membobol sistem bank secara langsung, melainkan lebih sering mencuri username dan password pengguna melalui berbagai teknik manipulasi digital.
Cara tersebut dinilai lebih mudah dilakukan dan dapat menyerang dalam skala besar, terutama ketika pengguna masih memiliki tingkat literasi keamanan digital yang rendah.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, para pakar menilai penguatan sistem keamanan siber dan edukasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat maupun perusahaan tidak menjadi korban gelombang serangan siber generasi baru.
Editor: Agusto Sulistio