Oleh: Agusto Sulistio – Pendiri The Activist Cyber, Pegiat Sosmed.
Dalam konteks ketegangan geopolitik global yang kian meningkat, negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat memperluas pengaruh dan kekuatan mereka, yang bisa memicu konflik skala besar. Di tengah dinamika ini, tawaran kapal selam S26 buatan China menggambarkan isu kompleks terkait persenjataan, teknologi, dan strategi pertahanan. Indonesia, sebagai negara kepulauan strategis yang terletak di persimpangan antara benua Australia dan Asia, menghadapi tantangan besar dalam menjaga keamanan dan stabilitas regional. Penambahan anggaran untuk sistem senjata menjadi krusial dalam memenuhi kebutuhan pertahanan dan menghadapi potensi ancaman yang ada.
Kapal selam S26 buatan China adalah varian terbaru dari kelas kapal selam Type 039, dirancang untuk menawarkan keunggulan teknis dan operasional di medan tempur bawah laut. Keunggulan kapal selam ini meliputi sistem propulsi AIP (Air-Independent Propulsion) yang memungkinkan operasi lebih lama di bawah air tanpa perlu muncul ke permukaan, serta sistem sensor dan senjata modern yang meningkatkan kemampuan deteksi dan serangan. Kapal selam ini juga dilengkapi dengan teknologi stealth yang mengurangi deteksi oleh sonar musuh.
Kementerian Pertahanan bersama Mabes TNI dan Mabes Angkatan kini tengah mengevaluasi rencana anggaran pengadaan sistem senjata untuk periode 2025-2029. Dana untuk pengadaan ini diharapkan berasal dari Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan Pinjaman Dalam Negeri (PDN). Usulan anggaran dari ketiga angkatan TNI telah diajukan dan sedang dalam proses evaluasi sebelum mendapatkan persetujuan dari Menteri Pertahanan dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Jika disetujui, alokasi dana akan dicantumkan dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM) dan Daftar Kegiatan Pinjaman Dalam Negeri (DKPDN) 2025-2029. Spekulasi menunjukkan bahwa alokasi PLN untuk sistem senjata akan berkisar antara US$ 25 miliar hingga US$ 35 miliar, dengan TNI Angkatan Udara diperkirakan menerima bagian terbesar.
Dalam pembangunan kekuatan pertahanan periode 2025-2029, TNI Angkatan Laut diharapkan mendapatkan alokasi untuk sistem senjata utama seperti kapal fregat dan kapal selam. Selama MEF 2020-2024, Kementerian Pertahanan membeli dua kapal selam kelas Scorpene Evolved dan dua kapal fregat Thaon Di Revel, namun kapal selam DSME 209/1400 dari Korea Selatan tidak memenuhi ekspektasi.
China kini menawarkan kapal selam S26 yang sebelumnya gagal dibeli Thailand karena masalah lisensi ekspor dari Jerman. Penawaran ini juga mencakup kapal perusak Type 052D dengan harga diskon jika dibeli bersamaan. Meskipun tawaran ini menarik, Indonesia sebaiknya mempertimbangkan beberapa faktor penting:
- Pertimbangan Geopolitik: China, sebagai kekuatan besar ekonomi dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, berupaya membangun tatanan baru yang sering kali bertentangan dengan kepentingan nasional Indonesia dan hukum internasional. Ambisi China dalam memperluas pengaruh di kawasan Indo-Pasifik dan modifikasi hukum internasional perlu diperhatikan.
- Potensi Konflik di Laut China Selatan: Meski Indonesia tidak mengakui klaim sembilan garis putus-putus China, pelanggaran wilayah oleh kapal-kapal China menunjukkan potensi konflik jangka panjang. Berbeda dengan Amerika Serikat yang juga melakukan pelanggaran tetapi tidak memiliki ambisi teritorial terhadap Indonesia.
- Integrasi Sistem: Indonesia, yang selama ini mengakuisisi sistem senjata dari negara Barat, akan menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan sistem senjata buatan China seperti kapal selam S26 dan kapal perusak Type 052D dengan sistem senjata Barat yang sudah ada.
- Penguasaan Teknologi: Penawaran kapal selam S26 perlu dievaluasi dari segi transfer teknologi dan kemitraan industri. Diskusi dengan China Shipbuilding Trading Co, Ltd belum menunjukkan adanya alih teknologi yang jelas.
- Keandalan Teknis: Kapal selam S26 memiliki tingkat indiscretion rate yang lebih tinggi dibandingkan kapal selam Eropa seperti Scorpene Evolved, yang menunjukkan keandalan teknisnya lebih rendah.
Kebutuhan Anggaran untuk Sistem Persenjataan
Penambahan anggaran untuk sistem senjata menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pertahanan Indonesia yang terus berkembang. Di tengah potensi ancaman dari negara-negara besar dan konflik regional, pengadaan sistem senjata modern yang efektif dan handal adalah kunci untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional. Seiring dengan perkembangan teknologi dan dinamika geopolitik, anggaran yang memadai diperlukan untuk memastikan bahwa TNI dapat mengoperasikan dan memelihara sistem senjata dengan baik, serta melakukan modernisasi sesuai kebutuhan.
Tantangan Indonesia sebagai Negara Kepulauan
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan strategis yang unik. Letak geografisnya di antara benua Australia dan Asia menjadikannya sebagai titik strategis yang penting dalam geopolitik global. Keamanan maritim dan pengawasan wilayah laut menjadi prioritas utama, mengingat potensi ancaman dari negara-negara yang memiliki kepentingan strategis di kawasan tersebut. Selain itu, Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan konflik yang bisa melibatkan negara-negara besar dengan ambisi territorial.
Kesimpulan
Keputusan mengenai pengadaan kapal selam S26 dari China dan sistem senjata lainnya harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk risiko geopolitik, tantangan integrasi teknologi, dan kebutuhan anggaran yang memadai. Dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks, strategi pertahanan yang komprehensif dan berkelanjutan akan memastikan bahwa Indonesia dapat menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.