Mal Strategis Ini Kini Sepi, Realita Baru Dunia Ritel

Jun 15, 2025

Gambar: Ilustrasi (Antara)

Salah satu Mal di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan, kini menyuguhkan pemandangan yang kontras dengan semangat awal kehadirannya. Dibuka pada 2016 dengan konsep taman terbuka dan sensasi kuliner, mal ini dirancang sebagai ruang publik yang menyenangkan dan hidup. Namun realitas yang terlihat hari ini jauh dari harapan, inilah realitas Mal One Belpark.

Mal One Belpark, Fatmawati, Jakarta Selatan, (Foto: CNBC)

Saat dipantau pada Jumat siang (13/6/2025) waktu yang biasanya ramai karena jam istirahat kantor, suasana justru sepi. Tenant-tenant restoran dan bioskop tetap buka, tapi pengunjung bisa dihitung dengan jari. Di pelataran tengah, wahana permainan anak dan panggung festival berdiri tanpa kegiatan berarti. Beberapa kursi disediakan, tapi hanya segelintir yang ditempati. Bahkan di titik strategis seperti lobi dan eskalator, nyaris tak terlihat lalu lalang manusia.

Di lantai-lantai atas, beberapa gerai memilih menutup usahanya. Bioskop masih menarik sebagian kecil penonton, namun tenant lain, seperti tempat bermain anak, nyaris kosong. Sementara lantai dasar yang diisi gerai belanja ritel pun mengalami hal serupa sepi. Hanya parkiran di basement yang terisi cukup banyak kendaraan, kemungkinan berasal dari pengunjung bioskop atau tenant yang tersisa.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sepinya mal seperti One Belpark mencerminkan pergeseran besar dalam pola konsumsi masyarakat. Belanja online kini menjadi pilihan utama karena efisiensi dan kemudahan. Gaya hidup urban semakin menuntut kepraktisan. Ditambah lagi, daya beli yang belum sepenuhnya pulih pasca-pandemi membuat banyak orang berpikir ulang untuk menghabiskan waktu dan uang di pusat perbelanjaan.

Namun, di sisi lain, pusat perbelanjaan masih memiliki fungsi sosial dan kultural yang penting. Ia bukan sekadar tempat belanja, tetapi juga ruang temu, rekreasi, dan ekspresi komunitas. Karena itu, bukan tidak mungkin mal seperti One Belpark bisa bangkit kembali asal dikelola secara kreatif, disesuaikan dengan pola hidup masyarakat saat ini.

Pengelola mal dituntut lebih inovatif. Menggelar event komunitas, festival lokal, pasar tematik, hingga menyediakan co-working space atau ruang edukasi bisa menjadi jalan keluar. Kunci utamanya adalah membuat mal relevan kembali bukan hanya sebagai tempat belanja, tapi sebagai ruang hidup masyarakat urban yang baru.

Di tengah tantangan besar ini, nasib One Belpark adalah cerminan dari pertanyaan yang lebih luas. Masihkah mal menjadi bagian penting dari kehidupan kota? Atau, akankah ia hanya menjadi bangunan megah yang kehilangan makna di era serba digital?

Sumber: CNBC
Penulis: Agusto Sulistio