Prancis Resmi Akui Palestina, Dunia Barat Mulai Pecah Soal Perang Gaza

Sep 22, 2025

Gambar: Presiden Prancis, Immanuel Macron di Forum PBB (22/9/2025). Foto – CNN.

Prancis resmi mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Keputusan ini diumumkan dalam konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin bersama Arab Saudi pada Senin (22/9/2025). Langkah bersejarah itu sekaligus menegaskan semakin dalamnya isolasi Israel di tengah krisis Gaza yang kian memburuk.

“Hanya ada satu solusi untuk memutus siklus perang dan kehancuran, saling mengakui,” tegas Presiden Prancis Emmanuel Macron.  “Kita harus mengakui bahwa Palestina dan Israel hidup dalam isolasi ganda.”

Israel Mesin Pembantai, Ribuan Tahun Lalu Al-Qur’an Sudah Ingatkan

Ketegangan Geopolitik Israel – Iran MenekanPasar Global Hari Ini

Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan, yang menyampaikan pesan dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menggemakan seruan yang sama. Dorongan kedua negara besar itu menjadi tanda kuat bahwa komunitas internasional mulai kehilangan kesabaran atas perang Israel-Hamas yang telah berlangsung hampir dua tahun tanpa ujung.

Langkah Prancis dan Arab Saudi diikuti Inggris, Kanada, serta Australia. Kini, lebih dari 150 negara di dunia telah mengakui Palestina. Sebaliknya, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Jepang, dan sebagian anggota Uni Eropa masih menahan diri.

Isolasi Israel makin terasa. Uni Eropa tengah mempertimbangkan mencabut fasilitas perdagangan istimewa Tel Aviv, meski Jerman dan beberapa negara tetap ragu. Tekanan juga datang dari pasar: saham Israel tercatat sebagai yang terburuk di dunia dalam denominasi dolar dalam dua pekan terakhir, mencerminkan kekhawatiran investor atas biaya perang yang semakin membengkak.

*Kritik dari Washington dan Tel Aviv*

Pengakuan Palestina langsung menuai kritik keras. Presiden AS Donald Trump menuding langkah itu sebagai “hadiah untuk Hamas.” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyebut pengakuan itu sebagai “upaya memaksakan negara teror di jantung tanah kami.” Ia menegaskan, “Tidak akan ada negara Palestina.”

Delegasi AS dan Israel bahkan memilih absen dari konferensi PBB tersebut. Netanyahu dijadwalkan menyampaikan pidato balasan di Majelis Umum PBB pada Jumat dan bertemu Trump di Gedung Putih pekan depan untuk merumuskan langkah respons.

Macron menolak tudingan itu. Menurutnya, pengakuan Palestina justru akan melemahkan Hamas yang selama ini menolak solusi dua negara.

*Realitas Suram di Gaza dan Tepi Barat*

Bagi otoritas Palestina, konferensi PBB memberi dorongan simbolis untuk memperjuangkan negara berdaulat di Gaza dan Tepi Barat yang dihuni lebih dari 5 juta orang. Namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Perang terus berkecamuk, blokade Israel memperparah kelaparan, dan permukiman Yahudi di Tepi Barat terus meluas.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 65.000 orang tewas akibat konflik sejak Oktober 2023. Laporan lembaga PBB bulan lalu bahkan menyebut beberapa wilayah Gaza sudah jatuh ke dalam kelaparan.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, yang hanya berkuasa di sebagian Tepi Barat, menyampaikan pidato lewat video. Ia menyambut dukungan negara-negara yang mengakui Palestina dan menegaskan Hamas tidak boleh berperan dalam pemerintahan Palestina di masa depan.

Sementara itu, Israel mengisyaratkan operasi militer darat baru di Kota Gaza yang bisa berlangsung berbulan-bulan. Hamas, di sisi lain, menolak menyerah. Situasi ini membuat prospek terbentuknya negara Palestina semakin sulit, meski dukungan internasional kian menguat.

*Diplomasi Dunia*

Langkah Prancis dan Arab Saudi bukan sekadar simbol. Ini menunjukkan pergeseran geopolitik global: negara-negara Barat tak lagi solid mendukung Israel, sementara suara mayoritas dunia menuntut solusi politik yang nyata.

Jika tren pengakuan terus meluas, Israel dan sekutunya akan menghadapi tekanan internasional yang lebih keras, baik di bidang diplomasi, ekonomi, maupun opini publik. Dalam situasi dunia yang kian multipolar, isolasi internasional bisa menjadi beban berat bagi Tel Aviv.

Editor: Agusto Sulistio

Sumber: Reuters