Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Dewan Guru Besar Fakuktas Kedokteran Universitas hari ini Senen (13/4/2026) bersama Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD) menyelenggarakan sesi pleno bertajuk “Intelektual Antardisiplin Berbicara Tentang Indonesia Hari Ini” di Auditorium IMERI, Kampus FKUI Salemba.
Melalui kolaborasi lintas disiplin—mulai dari ekonomi, kesehatan, hingga hukum—forum ini berupaya merumuskan pemikiran strategis untuk menjawab kompleksitas persoalan bangsa.
Teddy Prasetyono, perwakilan dari
DGB FKUI menyampaikan terkait Landasan pemikiran, bahwa:
Seratusan ilmuwan kampus dan intelektual publik hari ini berkumpul melakukan pertemuan ilmiah di kampus Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
“Ketika para ilmuwan berkumpul, maka kami sedang tidak melakukan kegiatan politik praktis, melainkan sedang menjalankan gerakan moral, suatu mandat insan universitas, lembaga otonom yang berada di jantung hati masyarakat (Magna Charta Universitatum, 1988 ) Universitas adalah lembaga khusus, yang tidak bisa disamakan dengan lembaga apapun baik politik maupun bisnis,” ujar Teddy Prasetyono.
Fungsinya sangat khusus, yaitu memproduksi ilmu pengetahuan, saintek daan pengetahuan sosial-humaniora untuk kemaslahatan umat manusia.
Di samping itu fungsi universitas adalah juga mengembangkan budaya akademik di tengah masyarakatnya, agar masyarakat berpikir dan berindak rasional.
Universitas ikut bertanggungjawab mengatasi berbagai persoalan dalam masyarakatnya, berkolaborasi dengan intelektual publik, pemerintah, pasar, masyarakat luas dan berbagai stakeholder lain dalam relasi penta helix, atau bahkan N helix.
Di banyak negara hampir tidak ada kebijakan publik dalam bidang apapun, yang tidak berlandaskan riset dan rekomendasi ilmiah, agar benar-benar bermaslahat bagi kepentingan publik.
Tindakan negara adalah subyek hukum, penyelenggara negara harus tunduk pada hukum, dan berbagai instrumen hukum dan kebijakan haruslah mendapat consent warganegara, supaya bisa mengakomodasi kepentingan rakyat banyak, khususnya kelompok miskin dan rentan.
Ada begitu banyak orang Indonesia pintar di dalam kampus mapun masyarakat luas. Ada banyak illmuwan menghasilkan produk saintek dalam bidang kesehatan, keteknikan, rekomendasi penting dalam bidang sosial kemasyarakatakan.
Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana para ilmuwan dan intelektual publik diposisikan oleh kekuasaan? Ke mana universitas, ketika hasil riset, data berbasis bukti, berbagai rekomendasi ilmiah dan pendapat akademik diabaikan, sehingga berbagai bencana kemanusiaan terjadi? Krisis ekonomi, politik, hukum, sosial-budaya, kiris moral datang bersamaan dengan kehancuran ruang hidup masyarakat dan lingkungan.
Para teralienasi dari keseharian masyarakat, tidak mau mendengar, membiarkan terjadinya mistatakelola, dan terus sibuk membuat kebijakan dan program atas nama rakyat tetapi sesungguhnya bertujuan populis dan demi status quo kekuasaan
Adapun tujuan dijelaskan oleh Sulistyowati Irianto dari FIAD, bahwa tujuan focus group discussion ini adalah membangun suatu pemikiran baru, menghasilkan bahan pelajaran dalam rangka mendampingi dan menguatkan warga masyarakat, terutama kelompok miskin, rentan dan perempuan.
Dengan demikian diharapkan agar warga masyarakat tetap memiliki resiliensi dalam menghadapi berbagai kemungkinan krisis multidimensional.
Dalam forum ilmiah ini dibicarakan tujuh krisis yang potensial dihadapi oleh warga masyarakat ke depan, yaitu krisis: (1) ekonomi, (2) pangan, (2) kesehatan, (3) enerji dan sumber daya alam, sambil berupaya menata kembali (5) nilai-nilai hukum, (5) sosial, kultural, berjejaring dengan (7) pendidikan tinggi.
Bahan pelajaran yang dihasilkan oleh forum ilmiah ini selajutkan bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk ditindaklanjuti dalam rangka mendampingi masyarakat.
Masyarakat dan komunitas bisa didorong untuk menggali pengetahuan lokalnya sendiri, misalnya ketika harus menghadapi kekurangan bahan makanan, krisis BBM dan gas, dan berbagai layanan publik.
Bagaimana mereka bisa menggali sumber makanan dan enerji lokal, agar tetap bisa melangsungkan kehidupan bersama.
Artefak sejarah Nusantara menunjukkan bagaimana kebudayaan berbagai kelompok etnik memiliki pengetahuan, sistem berpikir, berhukum, berdemokrasi, dan cara memelihara kesehatan
sesuai dengan kondisi geografis dan lokalitas, yang memampukan mereka bertahan hidup sebagai
suatu kolektiva.
Sain dan teknologi modern akan bisa dikombinasikan menopang upaya masyarakat untuk menolong diri sendiri. Kolaborasi antara ilmuwan, intelektual publik dan masyarakat adalah kuncinya. (Amhar)