Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Paguyuban Dulur Cirebonan Gelar Halal Bihalal pada 5 April 2026, yang berlangsung pada Minggu (5 April 2026) mulai pukul 10.00 WIB sampai selesai bertempat di Ballroom KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) di Gedung Mina Bahari (GMB) III Jl. Batu No. 2–3, Gambir, Jakarta Pusat.
Sadulur Paguyuban (Ciayumajakuning), Warga asal Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, serta dulur yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Hadir Para tokoh nasional kelahiran/keturunan asal Ciayumajakuning, pimpinan perguruan tinggi, akademisi, tokoh pemuda dan sebagainya.
Ketua Umum Paguyuban Dulur Cirebonan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menjelaskan, bahwa halal bihalal telah diisi dengan tausiyah dari Ustadz Dr. H. Legisan Samtafsir M.Ag dengan tema “Implementasi Nilai-nilai Puasa Ramadhan dan Idul Fitri untuk Kebahagiaan
Hidup dan Mewujudkan Indonesia Emas 2045″.
Rokhmin mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut, dalam kurun 15 tahun terakhir, jumlah kehadiran peserta tahun ini menjadi yang terbanyak, mencapai sekitar seribu orang.
Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kekuatan jaringan masyarakat Ciayumajakuning yang luar biasa,” ujarnya.
Kepada media, Rokhmin memaparkan beragam potensi wisata unggulan di kawasan Ciayumajakuning. Dari sisi wisata alam, wilayah Cirebon memiliki kawasan pesisir yang terus berkembang, termasuk proyek waterfront city di bekas Taman Ade Irma Suryani yang kini ditata menjadi kawasan wisata modern yang menghadap laut.
Selain itu, terdapat pula destinasi kuliner khas seperti Restoran Nusantara yang berada di kawasan pelabuhan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Sementara itu, untuk wisata pegunungan dan udara sejuk, wilayah Kuningan dan Majalengka dinilai memiliki potensi besar. Di sisi lain, kawasan Indramayu menawarkan wisata pantai seperti Pantai Tirtamaya dan Eretan yang juga tak kalah menarik.
Tak hanya wisata alam, Rokhmin juga menekankan kekayaan wisata kuliner khas daerah. Beragam makanan tradisional seperti nasi jamblang, empal gentong, mie koclok, nasi lengko, hingga tahu gejrot menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di sektor agrikultur, ia juga menyinggung potensi ekspor komoditas unggulan seperti mangga dari Indramayu yang kini mulai dilirik pasar internasional, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
Selain itu, wisata berbasis budaya dan religi juga menjadi kekuatan utama kawasan ini, seperti keberadaan keraton-keraton di Cirebon dan situs ziarah Makam Sunan Gunung Jati yang menjadi destinasi penting bagi wisata religi.
Meski memiliki potensi besar, Rokhmin menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah bagaimana mentransformasikan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi nyata yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Yang terpenting bukan hanya potensi, tetapi bagaimana menjadikannya sebagai magnet ekonomi dan pusat kemakmuran bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia pun mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, investor, serta pemanfaatan anggaran negara seperti APBN dan APBD untuk mempercepat pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan Ciayumajakuning. (Amhar)