Pikiranmerdeka.com | Prof. Eggi atau Brother Eggi Sudjana (BES) mengangkat tema tentang ujian keimanan, makna jihad, dan hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Mutiara Hikmah, Kamis, 15 Oktober 2026.
Dalam refleksinya, Prof. Eggi merujuk sejumlah ayat dalam Surah Al-‘Ankabut, khususnya ayat 2 sampai 6 dan ayat 69. Menurut BES, rangkaian ayat tersebut memberikan pesan penting bahwa keimanan tidak cukup hanya dinyatakan melalui ucapan, tetapi perlu dibuktikan melalui sikap dan amal ketika manusia menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 2:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”
Selanjutnya, QS. Al-‘Ankabut ayat 3 menjelaskan bahwa Allah telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga dapat diketahui siapa yang benar dan siapa yang berdusta.
Bagi Prof. Eggi, ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan keimanan. Ujian bukan karena Allah belum mengetahui keadaan manusia, sebab Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar.
Menurut BES, ujian menjadi sarana agar apa yang ada dalam diri manusia dapat terlihat melalui pilihan, sikap, dan amal nyata dalam kehidupan.
Jihad untuk Kepentingan Diri Sendiri
Prof. Eggi kemudian mengaitkan persoalan ujian dengan QS. Al-‘Ankabut ayat 5 dan 6.
Dalam ayat 6 disebutkan:
“Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Maha Kaya, tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam.”
Menurut BES, ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan bantuan manusia. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan perjuangan untuk memperbaiki diri, menjaga keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam konteks tersebut, jihad dipahami sebagai kesungguhan dalam perjuangan menuju kebaikan dan keridaan Allah. Perjuangan itu dapat berupa keteguhan menghadapi ujian, melawan hawa nafsu, memperjuangkan kebenaran, serta berusaha melakukan kebaikan.
Prof. Eggi menekankan agar manusia tidak memahami jihad seolah-olah sebagai bentuk bantuan kepada Allah.
Allah adalah Al-Ghani, Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Karena itu, manfaat dari perjuangan manusia pada akhirnya kembali kepada manusia itu sendiri.
Mengapa Manusia Diuji Jika Allah Maha Mengetahui?
Salah satu pertanyaan utama yang diajukan Prof. Eggi adalah mengapa Allah masih menguji manusia, padahal Allah telah mengetahui seluruh keadaan manusia.
Menurut BES, terdapat sejumlah hikmah yang dapat direnungkan dari adanya ujian.
Pertama, ujian bukan untuk memberikan pengetahuan baru kepada Allah, melainkan untuk menampakkan apa yang telah diketahui Allah dalam kehidupan nyata manusia.
Kedua, ujian menjadi sarana bagi manusia untuk mengenali dirinya sendiri. Seseorang dapat merasa memiliki iman yang kuat, tetapi keteguhan tersebut akan terlihat ketika menghadapi kesulitan, tekanan, godaan, dan berbagai persoalan kehidupan.
Ketiga, ujian menjadi bagian dari proses pertanggungjawaban manusia. Setiap orang memperoleh kesempatan untuk menunjukkan pilihan dan amalnya selama hidup.
Keempat, ujian dapat menjadi sarana tazkiyah, yaitu penyucian diri, sekaligus tarbiyah, yaitu proses pendidikan dan pembinaan. Melalui ujian, manusia dapat belajar mengenai kesabaran, keikhlasan, keteguhan, dan tanggung jawab.
Kelima, perjuangan dan ujian menjadi bagian dari proses manusia dalam mencari keridaan Allah.
Janji Allah: Akan Ditunjukkan Jalan-Jalan-Nya
Pembahasan Prof. Eggi kemudian ditutup dengan QS. Al-‘Ankabut ayat 69:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Menurut BES, ayat tersebut memberikan harapan bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Allah akan mendapatkan petunjuk menuju jalan-jalan kebaikan.
Prof. Eggi memberikan perhatian pada kata “subulanā”, yang berarti jalan-jalan Kami. Menurutnya, hal tersebut mengandung pesan bahwa jalan menuju kebaikan dan keridaan Allah dapat hadir melalui berbagai bentuk dan kesempatan.
Dari pemahaman tersebut, BES mengaitkannya dengan jargon yang pernah dikenal dalam perjalanan HMI, yaitu “Yakin Usaha Sampai.”
Prof. Eggi pernah memimpin PB HMI MPO periode 1986–1988. Dalam refleksinya, jargon tersebut dimaknai sebagai semangat untuk menyatukan keyakinan, usaha, dan keteguhan dalam mencapai tujuan yang diridai Allah.
Rangkaian Mutiara Hikmah Pekan Ini
Refleksi Prof. Eggi pada Kamis, 15 Oktober 2026, merupakan bagian dari rangkaian tema Mutiara Hikmah selama pekan tersebut.
Pada Senin, 12 Oktober 2026, tema yang diangkat adalah Nafsul Mutmainnah, yakni jiwa yang tenang dan kembali kepada Allah.
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, pembahasan diarahkan pada kisah Nabi Musa dan Fir’aun, yang menggambarkan perjuangan menghadapi kesombongan dan kezaliman.
Kemudian pada Rabu, 14 Oktober 2026, tema yang diangkat adalah Nabi Isa dan Ghuluw, yaitu sikap berlebihan terhadap seorang hamba yang perlu diluruskan agar manusia tetap berada dalam kemurnian tauhid.
Sementara pada Kamis, 15 Oktober 2026, rangkaian tersebut ditutup dengan pembahasan mengenai ujian keimanan dalam Surah Al-‘Ankabut.
Melalui rangkaian tersebut, BES mengajak pembaca memahami bahwa perjalanan menuju ketenangan jiwa tidak terlepas dari perjuangan dan ujian.
Pada akhirnya, pesan utama yang disampaikan Prof. Eggi adalah bahwa manusia tidak berjihad karena Allah membutuhkan pertolongan manusia. Sebaliknya, perjuangan merupakan bagian dari proses manusia untuk memperbaiki diri, membuktikan keimanan melalui amal, menghadapi ujian dengan sabar, serta mencari keridaan Allah.
“Allah tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan Allah,” menjadi salah satu inti pesan yang disampaikan BES dalam refleksi tersebut.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Prof. Eggi Sudjana (BES)
Brother Eggi Sudjana
(Editor: Agusto Sulistio)