Pikiranmerdeka.com TANGERANG 16 Oktober 2026 – Produk kerajinan anyaman berbahan tanaman bamban asal Kalimantan Tengah menarik perhatian dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten.
Melalui WEAVORA House of Bamban, Adytia Anugrah selaku Founder & CEO memperkenalkan potensi tanaman lokal menjadi produk kerajinan bernilai tambah yang berpeluang menembus pasar internasional.
Dalam pameran perdagangan internasional tersebut, WEAVORA House of Bamban membawa beragam produk unggulan berbahan tanaman bamban, termasuk tas anyaman dengan desain menarik. Produk tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi pemanfaatan sumber daya alam lokal yang dikembangkan menjadi barang bernilai ekonomi dan memiliki daya tarik bagi pasar yang lebih luas.
Saat ditemui awak media di stan Kalimantan Tengah, Jumat (16/10/2026), Adytia Anugrah menjelaskan bahwa tanaman bamban memiliki karakteristik tersendiri yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku kerajinan berkualitas. Selama ini, masyarakat lebih banyak mengenal rotan sebagai salah satu bahan utama kerajinan anyaman khas Kalimantan. Namun, bamban juga mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan kerajinan dengan ciri khas tersendiri.
Menurut Adytia, pemanfaatan tanaman bamban menjadi produk anyaman merupakan upaya untuk memperkenalkan kekayaan bahan baku lokal Kalimantan Tengah sekaligus meningkatkan nilai ekonominya melalui kreativitas dan pengembangan produk.
Bamban yang tumbuh secara lokal dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan, salah satunya tas anyaman yang mengutamakan keindahan bentuk dan karakter bahan. Pengembangan produk tersebut diharapkan mampu memperluas pilihan kerajinan khas Kalimantan sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku industri kreatif berbasis sumber daya alam.
Kehadiran WEAVORA House of Bamban di TEI 2026 juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa potensi ekonomi Kalimantan Tengah tidak hanya bertumpu pada komoditas yang selama ini dikenal luas, tetapi juga mencakup tanaman lokal yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Investor Mulai Melirik Kerajinan Anyaman Bamban
Adytia mengungkapkan, sejak hari pertama penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2026, produk anyaman bamban yang dibawanya telah menarik perhatian sejumlah calon investor dan mitra usaha.
Ia menyebutkan, pihaknya telah bertemu dengan beberapa calon mitra yang menunjukkan ketertarikan untuk menjajaki kerja sama bisnis. Pertemuan tersebut menjadi peluang bagi WEAVORA House of Bamban untuk memperluas jaringan pemasaran dan mengembangkan produksi sesuai kebutuhan pasar.
Salah satu peluang yang dijajaki adalah kerja sama melalui skema business-to-business (B2B), yakni hubungan bisnis antarpelaku usaha untuk mengembangkan produk dan memenuhi kebutuhan perusahaan.
Menurut Adytia, penjajakan kerja sama tersebut mencakup kemungkinan pembuatan produk berdasarkan kebutuhan mitra, termasuk tas dan produk anyaman untuk kebutuhan perusahaan. Ia juga menyampaikan adanya ketertarikan dari calon mitra yang berkaitan dengan Vietnam.
Selain tas, produk anyaman bamban berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan sektor perhotelan dan perusahaan. Pengembangan berdasarkan pesanan atau kebutuhan khusus pelanggan membuka kesempatan bagi kerajinan lokal untuk memasuki segmen pasar yang lebih luas, tidak hanya konsumen perorangan.
Peluang tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kerajinan berbahan tanaman lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki fungsi komersial, desain menarik, dan potensi pemesanan dalam jumlah lebih besar apabila didukung kerja sama usaha yang berkelanjutan.
Meski demikian, penjajakan yang berlangsung di pameran tersebut masih merupakan peluang kerja sama yang perlu ditindaklanjuti. Realisasi produksi, volume pesanan, dan nilai transaksi belum disampaikan secara terperinci.
Mengangkat Kekayaan Produk Lokal Kalimantan Tengah
Tidak hanya memperkenalkan anyaman bamban, stan Kalimantan Tengah juga menampilkan beragam produk yang mencerminkan kekayaan sumber daya alam dan budaya daerah. Produk yang dibawa antara lain makanan herbal berbahan tanaman lokal, perhiasan atau aksesori dengan batu-batu menarik, serta kain batik khas Kalimantan Tengah.
Keberagaman produk tersebut memperlihatkan peluang pengembangan ekonomi kreatif daerah melalui pemanfaatan bahan baku lokal, keterampilan pengolahan, serta identitas budaya yang menjadi pembeda di pasar.
Bagi WEAVORA House of Bamban, pengembangan kerajinan bamban merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan bahan baku yang belum sepopuler rotan kepada pasar yang lebih luas. Dengan pengembangan desain dan kualitas produk, tanaman lokal berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan apabila hanya dimanfaatkan sebagai bahan mentah.
Inovasi tersebut juga dapat memperkuat posisi produk kerajinan Kalimantan Tengah di tengah persaingan pasar, terutama ketika konsumen dan mitra bisnis mencari produk dengan karakter unik serta identitas daerah yang jelas.
Melalui partisipasi dalam TEI 2026, WEAVORA House of Bamban berupaya mempertemukan potensi produk lokal dengan calon pembeli, investor, dan mitra usaha. Interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam membuka akses pasar serta mengenalkan produk kerajinan daerah kepada jaringan perdagangan yang lebih luas.
Sejalan dengan Dorongan Hilirisasi dan Industrialisasi
Partisipasi pelaku usaha daerah dalam Trade Expo Indonesia 2026 sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Dalam pembukaan Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara optimal sebagai salah satu langkah strategis untuk membawa Indonesia menjadi negara maju sekaligus memastikan kekayaan nasional memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Saat ini pemerintah menggalakkan ekspor yang bernilai tambah tinggi dengan hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam Indonesia. Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” kata Bahlil.
Pesan tersebut menegaskan bahwa peningkatan nilai tambah tidak hanya berkaitan dengan industri berskala besar, tetapi juga relevan bagi pengembangan produk lokal yang dapat diolah menjadi barang siap jual dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dalam konteks tersebut, pengolahan tanaman bamban menjadi tas dan kerajinan anyaman merupakan salah satu contoh potensi pengembangan bahan baku lokal menjadi produk jadi. Pendekatan ini dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas apabila didukung peningkatan kualitas, desain, kapasitas produksi, dan akses terhadap jaringan pembeli.
Bagi pelaku usaha seperti WEAVORA House of Bamban, pameran perdagangan internasional menjadi sarana untuk memperkenalkan hasil inovasi sekaligus menjajaki peluang kemitraan yang dapat mendukung pertumbuhan usaha.
Membuka Peluang Pasar bagi Produk Kerajinan Daerah
Trade Expo Indonesia merupakan ajang promosi perdagangan yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dan mitra bisnis dari berbagai pasar. Keikutsertaan produk kerajinan Kalimantan Tengah dalam pameran tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menunjukkan keunikan bahan baku, kualitas pengerjaan, serta potensi pengembangan produk.
Ketertarikan calon mitra terhadap anyaman bamban menjadi peluang awal bagi WEAVORA House of Bamban untuk memperluas jaringan bisnis. Tahap berikutnya adalah menindaklanjuti komunikasi dengan calon mitra, menyepakati spesifikasi produk, menjaga kualitas, serta memastikan kemampuan produksi sesuai permintaan pasar.
Jika peluang kerja sama tersebut dapat diwujudkan secara berkelanjutan, produk anyaman bamban berpotensi menjangkau segmen pasar baru, termasuk kebutuhan perusahaan dan perhotelan. Pengembangan ini juga dapat memperkuat pengenalan tanaman bamban sebagai salah satu bahan kerajinan khas yang memiliki peluang ekonomi.
Kehadiran WEAVORA House of Bamban di TEI 2026 sekaligus membawa pesan bahwa kekayaan lokal Kalimantan Tengah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk kreatif yang kompetitif. Dengan kreativitas, inovasi, dan kemitraan usaha, bahan baku yang tumbuh di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.
Melalui pameran ini, Adytia Anugrah berharap peluang yang telah dijajaki dapat berkembang menjadi kerja sama nyata sehingga kerajinan anyaman bamban semakin dikenal dan mampu memperluas jangkauan pemasarannya.
Pengembangan produk berbasis tanaman lokal tersebut menjadi salah satu peluang bagi industri kreatif daerah untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi, memperluas akses pasar, serta mendukung upaya peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.