Memasuki tahun 2026, mencari pekerjaan diperkirakan semakin sulit. Dampak pengembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi juga menyebabkan perlambatan perekrutan tenaga kerja baru, terutama di perusahaan-perusahaan besar.
Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengungkapkan bahwa adopsi AI membuat banyak perusahaan besar memilih menahan rekrutmen karyawan baru.
Menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja saat ini ditandai dengan tingkat perekrutan yang rendah dan PHK yang juga relatif rendah, sebuah tren yang diperkirakan akan berlanjut dalam waktu ke depan.
Situasi tersebut berpotensi memperburuk posisi para pencari kerja. Dengan minimnya pembukaan lowongan baru, pengangguran akan semakin sulit memperoleh pekerjaan, meskipun angka PHK tidak melonjak signifikan.
“AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar,” ujar Kashkari, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (6/1/2026).
Kashkari menjelaskan, pemanfaatan AI mendorong perusahaan besar meningkatkan efisiensi operasional tanpa harus menambah banyak tenaga kerja manusia. Akibatnya, kebutuhan untuk merekrut karyawan baru menjadi semakin terbatas.
Namun demikian, dampak perlambatan rekrutmen ini dinilai tidak terlalu terlihat pada perusahaan kecil. Sektor usaha skala kecil dan menengah masih relatif membutuhkan tenaga kerja baru karena tingkat otomatisasi dan pemanfaatan AI yang belum sebesar perusahaan besar.
Perkembangan ini menandai perubahan struktural di pasar tenaga kerja global, di mana kemajuan teknologi mulai menggeser pola perekrutan.
Para analis menilai, ke depan tantangan utama bukan hanya ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga kesiapan keterampilan tenaga kerja dalam menghadapi era ekonomi berbasis AI.
Editor: Agusto Sulistio