Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Setiap zaman melahirkan jenis pahlawannya sendiri. Dulu, pahlawan mengangkat senjata. Sekarang, pahlawan mengangkat martabat sesama. Itulah pesan besar dari Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dalam acara Refleksi Hari Pahlawan 2025 di Kantor PP ISNU Jakarta (10/11/2025).
Menurut ISNU, kepahlawanan zaman sekarang bukan lagi soal perang, tapi soal peduli kemanusiaan dan berbagi rasa pada sesama.
Sekretaris Umum PP ISNU, Wardi Taufik mengatakan, Pahlawan masa kini bukan cuma yang tercatat di buku sejarah. Tapi mereka yang tiap hari membuat hidup orang lain lebih layak.
“Guru di pelosok dan diperbatasan, relawan di area-area bencana, perawat desa, aktivis kemanusiaan, aktivis lingkungan. Mereka semua pahlawan sosial. Sekarang waktunya kita turun tangan,” ujarnya.
Menurut Wardi, kepahlawanan zaman sekarang punya wajah baru: filantropi. Berani memberi walau keadaan sempit. Berbagi dan peduli itu adalah perlawanan terhadap egoisme.
“ISNU sedang mendorong Gerakan Seribu Dermawan Muda. Gerakan ini mengajak mahasiswa, profesional muda, dan diaspora Indonesia buat rutin berdonasi. Bukan soal besar-kecilnya, tapi keberanian untuk peduli,” ujarnya.
Lebih lanjut kata Wardi, tidak semua pahlawan punya tugu. Banyak yang bekerja diam-diam. Tanpa tanda jasa dan tanpa sorotan, seperti Guru honorer, Petugas kebersihan, dan Relawan literasi desa.
Dia tambahkan, Mereka mungkin tak viral, tapi merekalah penopang moral bangsa. Kita perlu belajar berterima kasih kepada orang-orang yang tak pernah minta terima kasih.
“Oleh karena itu, ISNU sedang menyiapkan Anugerah Pahlawan Sunyi– penghargaan bagi mereka yang menyalakan cahaya kecil di sekitar kita,” terangnya.
ISNU juga mendorong Pahlawan di Era Digital untuk ekonomi kebaikan. Dalam arti, teknologi tak cuma buat hiburan, tapi bisa juga buat kebaikan. Donasi digital, zakat dan wakaf online, serta crowdfunding sosial. Kepahlawanan kini bisa dilakukan lewat satu klik.
Wardi juga katakan, bahwa teknologi jangan cuma melahirkan kemudahan, tapi juga kemurahan hati. ISNU tidak bosan mendorong Gen Z bisa jadi pahlawan digital — dengan satu klik yang menghidupkan ribuan orang.
“ISNU akan menggagas Gerakan Pahlawan Digital, mengajak anak muda menyalurkan empati lewat platform daring, dengan prinsip transparan dan gotong royong,” tegas Wardi.
Pahlawan sejati bukan yang dikenang, tapi yang menghidupi. Yang memberi makan bagi yang lapar. Yang memberi ilmu bagi yang haus. Yang memberi harapan bagi yang kehilangan arah.
“Kita sering berhenti di seremoni. Padahal pahlawan tidak berhenti di tugu. Mereka tumbuh di dapur umum, di sekolah pinggiran, di ladang kerja sosial. ISNU mengajak semua komunitas untuk bergerak: Bangun food bank, Bantu UMKM, buka peluang beasiswa sebanyak-banyaknya,” ujarnya.
Ini suatu penegasan, bahwa gerakan filantropi adalah bentuk baru dari nasionalisme. Ini masa depan untuk Indonesia Emas 2045. Cinta tanah air hari ini bukan sekadar kibarkan bendera. Tapi bagaimana kita saling menolong.
ISNU juga mengusulkan agar setiap Hari Pahlawan diisi dengan aksi sosial serentak, seperti donor darah, sedekah pangan, tanam pohon, dan dukungan modal bagi pelaku usaha kecil. Karena nasionalisme sejati itu adalah gotong royong. Dan gotong royong itu tak bisa lahir tanpa hati yang peduli.
Jakarta, 10 November 2025, Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU). PP ISNU adalah organisasi para ilmuwan, akademisi, dan profesional di bawah naungan Nahdlatul Ulama. ISNU berkomitmen untuk melanjutkan semangat kepahlawanan dalam bentuk nyata: ilmu, integritas, dan filantropi sosial. (Amhar)