Jasmine Vernadya Stevani, Jejak Konsistensi Figur Muda di Pendidikan dan Industri Kreatif

Jan 8, 2026

Pikiran merdeka.com, SURABAYA – Nama Jasmine Vernadya Stevani kian dikenal sebagai figur muda yang konsisten menapaki lintasan pendidikan, seni dan industri kreatif dengan pendekatan substansial. 

Di sebuah kafe di Surabaya, Rabu (7/1/2026), lulusan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu berbagi refleksi perjalanan hidup dan komitmennya membangun generasi muda.

Perempuan kelahiran 10 Maret 1998 tersebut merupakan Sarjana Ekonomi Pembangunan yang memilih jalur pengabdian lintas sektor. Pengalaman akademik yang kuat berpadu dengan praktik lapangan membentuk karakter kepemimpinan dan manajerial yang matang, meski usianya relatif muda.

Jasmine tercatat pernah mengabdi sebagai tenaga pendidik di sekolah swasta wilayah Surabaya Barat. Ia mengajar Ekonomi dan Seni Prakarya tingkat SMA, sekaligus melatih ekstrakurikuler dance dari jenjang SD hingga SMA. Baginya, pendidikan adalah ruang strategis untuk membangun disiplin dan kepercayaan diri peserta didik.

Tak hanya di ruang kelas, kiprah Jasmine juga menguat di industri kreatif dan fashion. Ia aktif sebagai model profesional dan terlibat dalam berbagai proyek komersial. Prestasinya meraih Foto Model Terbaik Wanita Jawa Timur 2020 menjadi tonggak penting dalam kariernya.

Kepercayaan publik berlanjut ketika ia didapuk menjadi pengajar modeling di ajang Top Model Jawa Timur 2021, hingga dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Grand Final Top Model Jawa Timur 2022. Posisi tersebut menempatkannya pada peran strategis dalam manajemen event berskala regional.

Pada 2025, Jasmine melangkah lebih jauh dengan membuka kelas pelatihan minat dan bakat anak-anak di bidang entertainment, meliputi modeling, dance, dan public speaking. Program ini dirancang sebagai wadah pembinaan karakter, bukan sekadar pencarian popularitas.

Menanggapi kemungkinan terjun sebagai publik figur, Jasmine menegaskan sikap terbuka dengan catatan nilai dan tanggung jawab sosial tetap menjadi prioritas.

“Ruang publik harus dimaknai sebagai amanah, bukan sekadar panggung,” ujarnya.