KTT BRICS 2025 Tahan Diri Hadapi Ancaman Tarif 10 persen Trump

Jul 7, 2025

Foto: Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 pada Minggu, 6 Juli 2025, di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

Senin pagi, 7 Juli 2025, suasana hati-hati mewarnai KTT BRICS yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara-negara yang menurutnya menjalankan kebijakan “anti-Amerika”.

Para pemimpin dari sepuluh negara anggota BRICS memilih untuk tidak menanggapi secara terbuka pernyataan Trump. Mereka terlihat enggan memberikan komentar saat meninggalkan hotel menuju sesi terakhir konferensi yang dipimpin Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Bahkan Lula sendiri menyatakan bahwa ia hanya akan berbicara kepada media setelah konferensi usai.

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?

Ada Apa Dengan Bahlil? Subsidi Listrik Tembus Rp 100 Triliun, APBN 2026 Terancam

Mentan Usul Tambaham Rp44 T untuk Perluasan Cetak Sawah dan Swasembada Pangan

Celso Amorim, penasihat utama kebijakan luar negeri Presiden Brasil, juga menahan diri dari komentar tajam. Dalam wawancaranya, ia menyampaikan bahwa justru situasi seperti inilah yang menunjukkan pentingnya keberadaan BRICS. “Ancaman ini memperlihatkan perlunya organisasi seperti BRICS yang bisa bereaksi, berkumpul, dan mengambil keputusan bersama,” ujarnya. Amorim menegaskan bahwa BRICS tidak pernah mengancam Amerika Serikat.

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh para pejabat dari negara-negara anggota lainnya. Mereka menyebut bahwa pernyataan Trump bisa saja merupakan bagian dari strategi retorika politik yang tidak selalu konsisten. Seorang pejabat bahkan menyebut Trump sebagai sosok yang kerap berubah-ubah dan bisa saja melupakan ucapannya sendiri. Presiden Afrika Selatan bahkan memutuskan meninggalkan konferensi lebih awal untuk menangani krisis di dalam negerinya, menandakan kehati-hatian yang ekstra dalam merespons situasi global yang sedang sensitif.

Meskipun tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat, pernyataan bersama BRICS menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan kebijakan pemerintahan Trump, termasuk dalam isu perdamaian, perdagangan global, serta pengelolaan keamanan internasional. Mereka menyuarakan keprihatinan mendalam atas kebijakan tarif sepihak, pengeluaran militer yang meningkat, hingga serangan udara ke Iran—yang kini menjadi anggota BRICS.

Sebagai respons, Trump menegaskan ancamannya untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara manapun yang mendukung apa yang ia sebut sebagai “agenda anti-Amerika dari BRICS.” Ancaman ini langsung memberikan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk melemahkan nilai mata uang dan menekan bursa saham di awal pekan.

Presiden Lula sendiri menjadi tuan rumah dalam konferensi yang dihadiri oleh 10 anggota BRICS, delegasi dari Arab Saudi yang masih mempertimbangkan keanggotaan penuhnya, serta 10 negara mitra lainnya seperti Malaysia, Nigeria, dan Vietnam.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi memilih tidak memberikan pernyataan. Di sisi lain, Malaysia menegaskan posisi netral dan independennya. Dalam pernyataan resmi dari Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri, Malaysia menyatakan keterlibatannya dalam BRICS dan platform multilateral lainnya semata-mata demi memperkuat perdagangan dan pembangunan berkelanjutan. “Amerika Serikat tetap menjadi salah satu mitra ekonomi utama Malaysia,” bunyi pernyataan tersebut.

Amorim menutup komentarnya dengan menekankan bahwa saat ini banyak negara berharap pada BRICS sebagai wadah untuk memperkuat multilateralisme di tengah ketegangan geopolitik yang kian meningkat.

Sumber: KTT BRICS, Rio de Janeiro – 7 Juli 2025
Editor: Agusto Sulistio